[Renungan Kehidupan] Wanita Berahlak Mulia

March 19, 2008

Suasana pun masih lengang. Belum banyak orang yang datang ke dalam lorong di depan Surau yang terletak di LG gedung KLLC siang itu. Suasana di depan Toko Buku Times, Kantor Pos ataupun di depan deretan ATM yang biasanya ramai pun masih sepi. Kulirik jam Guess yang ada di tangan kananku. Masih ada 20 menit sebelum aku harus sembahyang Dhuhur untuk terus mengajar IQRO salah satu anak di jalan Tun Razak.

  

Kubuka buku The Secret-nya Rhonda Byrne yang baru dipinjam dua hari sebelumnya dari Perpustakaan Kampus Kota University Malaya. Kubungkukan badan untuk mencoba duduk di atas kursi beton berlapis marmet di atasnya yang terletak di muka pintu surau wanita.

  “Encik! Jangan duduk dekat sana!” 

Tiba-tiba sebuah suara menghalangiku untuk duduk diatas kursi beton itu. Kulihat seseorang berdiri dengan seragam cleaning service. Seragam yang sudah akrab di mataku karena selalu kulihat kalau datang ke sekitar KLCC ini.

  “Encik nak sembahyang, bukan?”“Iya betul kak. So, kenapa tak boleh duduk dekan sini?”“Jap lalu ada budak keci yang kencing kat sini. Saye dah mop tapi belum benar kering. Kalau kena selular Encik nanti tak boleh sah sembahyang karena najis kencing tu”  

Tak menyangka sejauh itu alasan dia mencegah saya duduk di kursi itu. Menolong orang yang benar-benar tidak dikenal sebelumnya. Benar-benar hati bersih yang ingin menolong orang meskipun tidak mengenalku sekalipun. Dari dalam hatinya terasa ada yang begitu menyentuh hati dan perasaan saya. Ketulusan menolong, tanpa melihat latar belakang apapun.

  

Dari tampilan luarnya pun, ada kesan yang begitu berbeda. Meskipun pakaian seragamnya sama dengan cleaning service yang lain namun kulihat ada yang sedikit yang berbeda. Kulitnya lebih bersih dan sikapnya pun kelihatan lebih menunjukkan sebagai orang yang berpendidikan. Kulihat name tag yang terpampang di seragamnya. MASITHOH, begitu terbaca namanya. Berarti saya punya sahabat seorang Masithoh baru hari ini. Sahabat muda berahlak mulia.

  

Ingatanku pun melayang ke masa 7 hingga 5 bulan ke belakang. Dimana aku masih melakukan pekerjaan part-timer di sebuah Showroom mebeul Jati. Showroom yang pemiliknya penuh oleh orang Indonesia itu memasarkan meubel jati yang semuanya dikerjakan di Indonesia. Pertemuan yang diawali oleh acara Silaturahmi Alumni ESQ di Kuala Lumpur dengan mereka berlanjut dengan kebaikan mereka untuk memberi kesibukan untuk mengisi waktu luang di antara waktu kuliahku.

  

Di sana aku pun mempunyai sahabat wanita muda bernama ‘Masyithah’. Yang selalu dengan baik membantu sebagian pekerjaan yang harus kuselesaikan. Dia yang memiliki hasrat tinggi untuk meeruskan pendidikannya selalu membantuku dengan penuh semangat tanpa keluh kesah. Dia yang memang ditugaskan untuk membantu pekerjaanku oleh pemilik showroom.

  

Ya … Masyithah kedua yang kumiliki, seseorang yang selalu mengingatkanku untuk menjadi lebih baik dan menjaga sebuah kebaikan. Seorang sahabat muda yang berhati dan berahlak mulia. Terlalu banyak kebaikannya sedang kubelum mampu membalasnya dengan sesuatu apapun.

  

Pelajaran hidupku berlari menembus batasan waktu ribuan tahun. Tatkala seorang ‘Siti Masithoh’ dengan penuh keberanian menentan seorang Fir’aun yang terkenal begitu galak tiada ampun. Seorang wanita yang dengan tetap tegar dengan berbagai ancaman dan siksaan. Bahkan akhirnya harus berhadapan dengan hukuman dimasukkannya dia kepada kuali besar dengan air yang mendidih. Keberanian untuk menjaga sebuah kemurnian hati dan perbuatan.

  

Bagiku, sebuah keberanian untuk menjaga sebuah kemurnian yang tidak hanya untuk diri sendiri namun juga untuk membantu orang lain, sangatlah luar biasa. Seorang Masithoh yang mau mengingatkan diriku kekotoran fisik yang akan membatalkan hubunganku denganNya pun sangat luar biasa. Seorang Masyithah yang selalu membantu dan mengingatkanku untuk menjadi lebih baik pun sangat luar biasa.

  

Mencoba merenungkan hal ini pun begitu membuatku berpikir kekecilan diri. Keadaan diri yang belum mampu memberikan balasan kebaikan untuk orang-orang yang memberikan bebagai jalan kemudahanku. Semoga pelajaran dari dua wanita berahlak mulia ini membuatku mampu untuk lebih mampu membalas kebaikan orang lain.

  

Semoga Yang Mahakuasa selalu menjaga kemulian hati dan ahlakmu, ‘Masithoh’ dan ‘Masyithah’ mudaku!

  

Dan wajah serta tanganku pun kutengadahkan ke atas langit.

  

Kuala Lumpur, diujung pagi

19 Maret 2008 – 5.19am


[Renungan Kehidupan] Di Persimpangan Jalan

March 16, 2008

                        “Station Monorel KL Sentral. Thank you for using KL Monorel …” 

Tak sempat sampai selesai kudengarkan suara otomatis di KL Monorel yang kutumpangi dari stasiun Imbi tadi. Sebagaimana sebagian besar penumpang lainnya, aku pun bergegas mendekati pintu untuk segera keluar dari monorel yang padat penumpang itu. Kubetulkan letak tas laptop yang tersandar di bahu kiriku. Dan beberapa detik kemudian, aku pun menjadi bagian dari arus penumpang yang berhamburan keluar monorel menuju escalator yang berujung di jalan Tun Sabathan itu.

  

Sore ini aku tidak mampu merasakan kenikmatan perjalan pulang dari kantor seperti biasa. Sepanjang perjalanan sejak dari station KL-Monorol Imbi, yang terletak tepat di Pusat Perbelanjaan Time Square. Sampai di station KL Sentral pun keadaan pikiranku benar-benar tidak berubah. Begitu kalut dan penuh kebingunan untuk menentukan langkah kehidupanku selanjunya. Padahal hari ini yang tepat tiga bulanku di Kuala Lumpur mulanya kuharapkan akan menjadi hari bahagia. Namun pertemuanku dengan Mr. Stephen membuat semuanya berbalik 180 derajat.

  

Tiga bulan lalu kuinjakkan kaki ke kota Kuala Lumpur yang lebih teratur dan terawat dengan penuh semangat meninggalkan kota Jakarta yang sudah akrab sepanjang umur kehidupanku. Semangat karena keyakinanku untuk menunjukkan kemampuan kinerjaku di Regional Office seperti yang kutunjukkan di National Office Jakarta dengan menjadi The Employee of the Year untuk tiga tahun berturut-turut. Sebagai seorang Marketing perusahaan asuransi International, aku selalu mencapai hasil jauh dari yang sudah ditargetkan.

 

  

Semangat lainnya adalah karena untuk hasrat tinggiku untuk bersekolah. Aku yang baru mau genap 27 tahun tahun ini, baru 4 tahun yang lalu menyelesaikan pendidikan Sarjana Ekonomi-ku di sebuah perguruan tinggi negeri ternama di Jakarta. Walaupun tidak ada prestasi istimewa namun aku mampu lulus dalam waktu normal. Aku pun berharap dengan kepindahan kerja ke Kuala Lumpur, ada harapan besar untuk bersekolah lagi di tingkat Master. Ya … karena keinginan sekolah pula kudatang ke Kuala Lumpur.

  

Keberadaanku di kota ini pun dipersiapkan dengan matang. Mulai dari pilihan daerah tinggal yang dengan kantor dan kampus utama Universiti Malaya. Kusewa sebuah kondominium bersama 2 teman mahasiswa Indonesia yang sedang belajar di universitas yang kampusnya nampak selangkah di depan mata itu. Untuk kendaraan ke kantor kubeli sebuah Proton Gen-2 merah terbaru dan untuk jarak dekat atau jalan-jalan makan, motor Honda yang mirip Honda Legenda kalau di Jakarta. Semuanya masih tertutupi oleh tidak lebih dari 20% dari tabunganku dari bonus kinerja waktu di Jakarta.

 

Awalnya semua kujalani dengan penuh semangat. Di bulan pertama kujalani dengan energi kerja yang sangat tinggi. Aku mampu bekerja bahkan sampai larut tengah malam hanya untuk mempelajari semua aspek yang bersifat teknikal. Banyak sekali hal baru yang harus segera kupelajari. Karena itu pun rela berjam-jam untuk diskusi dengan atasanku, Mr. Anderson – bule Eropah, yang terkenal workaholic. Semua kujalani dan kucoba untuk dinikmati. Sebagaimana kunikmati perjalanan pergi dan pulang ke kantor dengan Proton Gen-2-ku.

  

Memasuki bulan kedua aku mulai merasakan ada ganjalan dalam perjalananku. Semangatku pergi ke kantor tidak seperti sebulan sebelumnya. Mulai terasa ada kekurangsemangatan dalam diriku. Awalnya aku pikir wajar karena kerinduanku terhadap orang tua dan keluarga di Indonesia. Namun semuanya seakan berjalan terus dan tak mampu kukendalikan. Namun semua terus berdampak ke dalam diriku, termasuk kemalasanku untuk membawa mobil dan menggantinya dengan motor. Itu pun kulakukan hanya sampai salah satu stasiun LRT-Train yang terdekat dengan kondominiumku. Selanjutnya kugunakan LRT-Train and KL-Monorel.

  

Lampu lalu lintas di atas zebra-cross yang terletak persis di depan station KL-Monorel berwarna merah. Dan langkah kaki pun terhenti. Sebagaimana terhentinya langkah-langkah kaki orang-orang di depanku. Bagiku isyarat berhenti ini merupakan cerminan rasa kekalutan. Seakan semuanya menyuruhku berhenti perjalanan semangat tinggiku dan segera melihat realitas yang ada. Aku berhenti diantara kerumunan orang yang baru kembali dari kantor. Kebanyaknya Melayu, India dan Cina. Semaunya berbaur …

  

Semuanya seakan semakin menyadarkanku kalau selama ini aku tidak mampu beradaptasi dengan kondisi budaya dan sosial di kota ini. Dimanapun kujumpai, selalu ada keanehan yang kujumpai. Dari sisi atau komunikasi pun, aku sudah mampu mengambil pelajaran penting mengenai kondisi sebenarnya dari mereka. Di atas train selalu terdengar berbagai bahasa kecuali bahasa Inggris yang jarang digunakan. Kalau dua orang Melayu selalu berbicara dalam bahasa Melayu, dua orang India menggunakan bahasa India, dan dua orang Cina tentunya akan menggunakan bahasa Cina.

  

Belum lagi dari sisi semangat kerja. Di Regional Ofice ini, aku diserahi 3 orang yang harus kukoordinir seluruh pekerjaannya. Mereka benar-benar mencerminkan tiga ras terbesar di Malaysia ini. Melayu, India, dan Cina. Semua mempunyai karakter yang sangat berbeda. Dan sejujurnya, kuakui juga kalau karakter mereka itu benar-benar seperti dalam kehidupan nyata sehari-hari. Satu orang pemalas, satu kerja harus selalu dikomando detail, dan satu orang begitu giatnya dan penuh inisiatif. Dan aku pun semakin terbebani dengan semua ini. Termasuk beban berat untuk mampu mengimbangi kebiasanaan meraka berbicara dalam bahasa masing-masing.

  

Kupandang gedung KL Sentral yang berdiri megah setinggi 5 lantai di depanku ketika kusembrangi jalan Tun Sabathan setelah lampu menyebrang menjadi hijau. Gedung yang membuatkan berpikir semakin dalam. Satu-satunya gedung yang menjadi pusat titik temu berbagai alat transportasi dari dan ke berbagai arah. Sebuah gedung yang menjadi kebanggaan orang Malaysia tentunya. Saat ini bagiku hanya terpikir kalau gedung itu memberikan makna banyaknya pilihan jalan hidup yang dapat dipilih. Ibaratnya aku sedang berdiri di sebuah pesimpangan jalan.

  

Tadi siang Mr. Anderson memanggilku untuk membahas hasil penilaian atas 3 bulanku di Regional Office. Dia yang begitu komunikatif dan selalu memberikan kesempatanku untuk maju menjadi sangat berbeda. Dia selama 3 bulan serasa menjadi mitra diskusi dan belajar tiba-tiba siang tadi menjadi pengadil dan berdiri di sini manajemen tanpa mampu kuberagumen sedikit pun. Padahal kesalahan terbesarkan hanya mampu mencapai 95% dari target kerja yang dia berikan. Sesuatu yang katanya sudah dia maklumi pada diskusi terakhir. Sesuatu yang sebenarnya lebih karena belum begitu bercampurnya diriku dengan kondisi budaya di sini. Alasan prinsip yang tidak diterima secara organisasi olehnya.

  

Hasratku benar-benar remuk. Perjuanganku selama ini seakan tidak berarti apa-apa. Semuanya hilang bagai dihembus angin badai. Perjalananku seakan menjadi gelap karena tangga karir keberhasilan yang sudah kusandarkan sejak dari Jakarta dulu menjadi hancur berantakan di kota ini. Karena sesuatu yang kurang mampu kukendalikan dengan baik. Aku benar-benar terpuruk di persimpangan jalan untuk memilih arah yang ada.

  

Beberapa kemungkinan yang Mr. Anderson tadi siang pun masih belum mampu kucerna dengan pemirikiran yang benar-benar dingin. Bagiku semuanya akan berujung di arah kehidupan selanjutnya yang akan kuambil. Aku tak ingin jalan kehidupanku semakin suram. Aku ingin mendapat sesuatu yang memang akan menjadi lebih baik untukku.

  

Jalan keluar pertama, dia masih akan mempertahanku di Regional Office dengan posisi Specialist. Aku akan dipindahkan dari posisi dengan 3 anak buah saat ini. Konsekwensi lain adalah aku akan kehilangan semua allowance yang menjadi 40% dari Take Home Pay-ku saat ini. Ya … kondisi dimana membuat rasa psikologisku, untuk mendapat penghasilan dalam suatu pekerjaan, sedikit terguncang. Walau sejujurnya dari sisi strategisnya, posisi tadi masih sama dengan posisiku sebelumnya. Namun tenagaku akan dikuras lebih melelahkan.

  

Kalau aku tidak setuju dengan alternatif pertama itu, aku masih diberi kesempatan pindah ke divisi di bawah dia satu lagi. Aku akan dipindah dari Costumer Satisfaction Division ke Quality Control Product Division. Tempat dimana juga cocok dengan minatku selama ini. Hanya masalah besarnya aku akan diposisi pada satu tingkat organisasi lebih bawah dari tingkat posisi saat ini. Secara psikologis akan memberikan dampat sosial bagi aku. Semua orang dalam organisasi akan melihatku sebagai orang gagal.

  

Dan walaupun dia memberikan kesempatan kepadaku untuk dimutasikan kembali ke Jakarta, namun jalan keluar terkahirpun seakan tamparan keras kepadaku. Aku akan menjadi orang yang kalah perang dan di Jakarta pun akun tidak akan mampu kembali ke posisi sebelumnya yang sudah terisi orang lain. Yang mungkin hanyalah satu posisi yang jauh lebih rendah dari  sebelumnya …

  “Nak pergi kemana, Encik?”  

Seorang petugas wanita dalam ticket counter bertanya penuh kebingungan. Kusodorkan uang 5 ringgit namun tanpa bicara apapun karena begitu hanyut dalam lamunan perjalanan diri. Aku pun tak mmapu mengingat bagaimana aku melewati hiruk pikuknya suasana KL Sentra sore itu, termasuk di sekitar keramaian orang di sekitar bis-bis Airasia yang akan ke LCCT di bawah tadi.

  “Kerinchi, Kak!”  

Kujawab dengan tegas dan kuambil tiket serta uang ringgit kembaliannya. Kubergegas ke jalur LRT-Train yang akan membawaku ke station kerinchi dimana motor Honda-ku diparkir. Namun aku tak mampu berkonsentrasi dan berpikir dengan jernih. Begitu berat begitu membebani. Semuanya hanya kuikuti bagai air mengalir. Termasuk ketika kubawa motorku dan kujalankan menyusuri jalan layang di jalan pantai. Aku pun hanya mengikuti perjalanan termasuk ketika tanpa sadar terbawa belok oleh sebuah mobil yang berputar balik ke arah University Malaya.

  

Kutersadar ketika kuterhenti di depan gerbang University Malaya. Aku pun tercenung keheranan karena tanpa kusadari malah sampai ke jalan ini. Apakah pertanda kalau aku harus mengambil langkah ke jalan untuk kembali ke bangku kuliah?

 

Semuanya masih belum jelas. Kalau pun memilih kuliah, aku harus keluar kerja dan 9 bulan visa expatriate-ku akan dibatalkan. Aku harus kembali ke Jakarta. Dan aku pun belum menyiapkan seluruh persyaratannya. Termasuk Sertifikat IELTS yang menjadi satu persyaratan utamanya ….

  “Allohu Akbar … Allohu Akbar”  

Suara adzan dari mesjid yang terletak persis di sebelah gerbang masuk University Malaya tiba-tiba menyadarkanku. Bukan hanya telah tibanya waktu sembahyang Magrib namun seakan mengingatkan harus kembali aku mengambil arah. Mungkin belum ada jawaban pasti malam ini, namun paling tidak aku tahu tempat mana yang harus kuambil saat ini …

   

Discussion Room – Kampus Kota

University Malaya

16 Maret 2008 – 12.05pm


[Renungan Kehidupan] Do’a Kehidupan Hamba Penuh Dosa

March 14, 2008

Ya Rabb Pencipta Kesunyian,

Menjelang pagi ini, hambaMu yang penuh dosa kembali datang di ujung kesunyian

Duduk bersimpuh mencoba menghadap ke arahMu

Mencoba mengurai kata-kata do’a dan harapan

Yang mungkin ditutup dengan cucuran air mata penuh emosi

Seperti berbelas pagi tiada henti sebelum ini

Ya Rabb yang Maha Tahu,

HambaMu ini sungguh penuh bergelimang tumpukan noda dan dosa

Dari langkah-langkah kaki di jalan yang bukan ridloMu

Dari gapaian dan rabaan tangan di tempat yang bukan hak hambaMu

Dari tatapan mata yang sebenarnya bukan untuk penglihatan hambaMu

Dari kesempitan pikiran yang hanya mengikuti nafsu duniawi

Dari segala niat hati yang hina untuk berbuat ingkar dariMu

Noda dan dosa yang menyeret langkah hidup ke jalan hitam kehidupan

Jalan penuh kepalsuan dan ketidakbenaran yang akan menjauhkan hambaMu dariMu

Jalan kotor yang berujung ketidaktenangan hati dan jiwa

  

Ya Rabb yang Maha Penolong

Tutuplah jalan hitam hambaMu dengan tirai bening tak tertembus

Berilah pandangan jelas kekotorannya untuk cermin makna kehidupan hambaMu

Yang hanya mampu hambaMu pandang tanpa ada kekuatan kembali menjejaknya

Dan tunjukkan jalan putihMu yang sebenarnya dengan sejelas-jelasnya

Di depan mata hambaMu juga orang-orang di sekitar hambaMu

  

Ya Rabb Pemberi Semua Tanda-Tanda KebenaranMu

Jika hambaMu tak lagi berkata-kata bukanlah karena paraunya suara hambaMu

Namun semua sudah dalam tempat jangkauanMu

Semua adalah menjadi hak kebenaranMu untuk diaturnya

HambaMu hanya akan membaca lewat tanda-tanda kebesaranMu

Sebagaimana doa-doa hambuMu selama ini

Do’a yang tetap hambaMu lantunkan seperti berbelas pagi-pagi yang dilalui

Do’a penyadaran hamba meski dengan tanda-tandaMu yang menyesakkan

Do’a penyadaran hati dari tanda-tanda kemalangan diri

Agar hamba-hambaMu sadar tidak lagi berjalan di atas jalan hitam yang dimurkaiMu

Maka tunjukkanlah kebenaran itu secara nyata, ya Rabb!

Jadikan hambaMu menjadi hamba yang penuh keimanan

Akan segala tanda-tanda kebenaran yang ditunjukkanMu

Jadikan hambaMu menjadi hamba yang penuh keyakinan

Akan kekuatan do’a-do’a kebaikan untuk hambaMu dan orang-orang sekitar yang hambaMu sayangi

  

Ya Rabb Pemberi Kenikmatan

Berilah hambaMu kenikmatan menutup mata menjelang waktu SubuhMu

Karuniakan waktu terindah untuk menenangkan hati

Hati hambaMu yang akan menjalani hari esok dengan penuh kesucian

Sesuci jalan putihMu yang akan terbentang luas di hadapan hambaMu

Jalan putihMu yang terhampar lapang di awal langkah hambaMu

Untuk hambaMu ini … juga orang-orang lain disekitar hambaMu

   

Kuala Lumpur menjelang pagi

13 Maret 2008 3.34am

[Ketika do’a hambaMu dilantunkan dengan lebih keras lagi untuk memohon tanda-tanda kebenaran yang lebih nyata]


[Renungan Kehidupan] Semuanya Amanah

March 14, 2008

               “Ustadz! I don’t want to read anymore … Please stop here!”  

Kupandang wajah anak perempuan berumur sekitar 6 tahun itu dengan tajam untuk melihat raut mukanya dengan lebih jelas. Hanya untuk melihat apa yang sebenarnya tergambar dalam pikirannya. Aku tidak mau menentang keinginan emosinya untuk berhenti membaca buku IQRO yang sore itu baru menyelesaikan satu halaman saja. Pikiranku pun langsung berputar untuk mencari jalan keluar yang terbaik tanpa membuat dia terpaksa serta masih dapat menambah jumlah halaman berlajar membaca hurup Arab-nya.

  

Napas pun kucoba ditarik lebih dalam agar mampu berpikir dengan oksigen yang lebih dari cukup. Bagaimanapun, kondisi dilematis seperti ini menjadi salah satu bagian kehidupanku sehari-hari di Kuala Lumpur ini. Dengan berhadapan lebih dari sekitar 23 orang anak setiap minggu-nya, kemungkinan kejadian seperti itu untuk terjadi sangatlah besar. Dengan 2 atau 3 kali pertemuan setiap minggunya, sikap dan perilaku mereka pun sangat beragam.

 

-o0o-

  

Sebuah perjalanan yang diawali dengan perjuangan dengan tingkat kesukaran yang tinggi untuk mendapatkan orang tua yang mau mempercayaiku untuk mengajarnya. Aku tidak ada latar belakang pendidikan khusus untuk menjadi ahli mengajar anak selain hanya mengingat masa kecil ketika ayahku mengajar Al-Qur’an dan Kitab Kuning di malam setelah menunaikan tugas formalnya sebagai Kepala SD di sebuah dusun kecil di Kabupaten Tasikmalaya. Usaha awal pun makin terasa susah karena lebih bersifat trial and error.

  

Sebuah usaha pencarian yang berawal dari sebuah cerita Saudara jauh yang menjadi penasehat ahli Menteri Agama yan pernah tinggal lama di Malaysia. Dia meneritakan bahwa selain pekerjaan di restaurant, pekerjaan yang banyak dilakukan oleh mahasiswa Indonesia biasanya mengajar mengaji. Namun ketika memasuki dunia sebenarnya pun aku lupa ketika harus berkompetisi dengan orang-orang dari latar belakang yang lebih pas seperti Pengkajian Islam. Aku sendiri berjalan di jalur yang tidak sejalan yaitu Sarjana Statistika yang sedang kuliah S2 Master Manajemen.

  

The show must go on! Karena alasan tidak aktivitas selain sepanjang weekdays dan ingin mengisi waktu secara produktif dari sisi pendapatan atau income. Kuterus tanpa putus asa untuk mencari murid mengaji. Sebuah pekerjaan yang paling sederhana tanpa birokrasi dan ijin berbelit. Setelah usaha marketing dari mulut ke mulut tidak terlalu banyak memberikan hasil, Kumencoba membuat iklan yang ditempelkan di supermarket seperti umumnya orang di Malayasia mengiklankan segala hal lainnya.  

  

Usaha itupun bukan tanpa hasil bahkan ada beberapa yang sempat berkomunikasi dan berjanji untuk bertemu. Namun pada akhirnya seperti hilang dihembus angis, tanpa kabar kelanjutannya. Pemikiran positif aku hanya satu, karena semuanya sudah dimulai dengan bahasan uang. Setelah kurenungi, kelihatannya sangat tidak layak untuk pekerjaan seperti ini aku mengedepankan soal financial. Dan, selanjutnya aku hanya menyerahkan semuanya mengalir bagai air sesuai dengan aturanNya.

  

Suatu hari akhirnya datang juga kabar bahwa ada tetangga Melayu yang tinggal di blok sebelah di kondominiumku memintaku untuk mengajar ngaji anaknya. Alhamdulillah! Kubersiap untuk tidak melewatkan amanah pertama yang akan kuterima ini. Terbayang olehku akan mengajar seorang anak kecil yang duduk manis di hadapanku. Sebelum semuanya dimulai, kuminta untuk bertemu dengan orang tuanya dan akhirnya mereka datang ke tempatku. Di luar dugaan, di akhir obrolan ternyata aku baru tahu kalau anak yang akan kuajar sudah berumur 14 tahun!

  

Amanah pertamaku menjalani semuanya secara lancar bahkan lebih dari yang kuperkirakan sebelumnya. Dia begitu semangat dan rajin. Dengan pertemuan 3 kali seminggu dia dapat menamatkan semua 6 buku IQRO sekitar 3 bulan. Sekarang dia sudah mengaji dengan Al-Qur’a besar dan lewat keberadaan dia, ada 3 anak lainnya yang akhirnya juga mengaji denganku. Semuanya berjalan begitu saja.

  

Kelompok besar kedua pun datang tanpa diduga-duga ketika nenek Farih sedang di Kuala Lumpur. Masih terbekas di ingatan saat itu ada seorang nenek yang sedang sama-sama menunggu kendaraan umum di tepi jalan di daerah Bukit Indah. Dari obrolah dengan istriku akhirnya tahulah bahwa akulah guru ngaji yang selama ini dia dengar. Dia memintaku untuk ngajar cucu-cucunya.

  

Awalnya aku sedikit menolak dengan pertimbangan karena akan pindah ke dekat Kampus Utama UM yang berjarak sekitar 20 km. Bertepatan dengan hari Idul Fitri aku sekeluarga bersilaturahmi ke rumahnya dan sejak itu aku rutin mengajar cucu-cucunya beserta beberapa tetangganya 3 kali seminggu. Dan benar-benar tak terduga, justru dari rumah itu pula aku mendapat rejeki terbesar hingga saat ini.

  

Waktu terus berjalan sampai awal tahun 2008 dan upaya mengajar pun terus diupayakan. Sebagai aktifitas pengganti setelah aku tidak lagi membantu di Toko Mebeul Jati, setelah saudaraku Ikeu posting di sebuah milist, terakhir kudapat menambah 3 tempat mengajar. Kalau di tahap-tahap awal adalah keluarga melayu, yang 3 terakhir ini adalah anak-anak dari orang Indonesia yang menjadi expatriate di perusahaan penerbangan dan perminyakan.

 

-o0o-

  

Kupandang dalam-dalam kembali anak perempuan di depanku lekat-lekat. Sengaja aku pasang muka dengan penuh senyuman. Untuk tidak membuat dia takut, malahan untuk menunjukkan kalau aku mau bersahabat dengannnya. Ya … aku sedang menghadapi sebuah kendala yang kalau salah penyelesaiannya dapat membuat dia putus asa  bahkan tidak mau lagi belajar selamanya.

  

Dalam alur perjalanan menghadapi anak-anak yang kulalui, banyak sekali hal-hal menarik yang kutemui. Tidak akan kusebut sebagai hambatan namun aku akan menyebutnya sebagai tantangan yang harus aku hadapai optimisme penuh senyuman. Dari mulai komunikasi, psikologi serta motivasi.

  

Seperti yang diceritakan tadi, pada tahap awal, yang menjadi sahabat-sahabat kecilku dalam belajar mengaji itu  umumnya dari keluarga Melayu warga Malaysia. Pada masa-masa awal ini faktor bahasa sedikit mempengaruhi. Walaupun secara umum kosa kata yang dipergunakan hampir sama dengan bahasa Indonesia, namun karena ada perbedaan arti dan makna tak heran kadang membuat mereka tidak mengerti apa yang kumaksudkan.

  

Sebagai contoh kata ‘dekat’ yang di Indonesia berarti ‘bereda di sekitar’ namun di sini artinya benar-benar ‘di’. Kata ‘comel’ yang dalam bahasa Indonesia berarti agak negatif menunjuk kepada orang yang terlalu banyak bicara, dalam bahasa Melayu berarti ‘lucu’. Untungnya karena mereka juga sering mempergunakan kata-kata bahasa Inggris, maka kadang aku pun mengacu ke bahasa tersebut. Bahkan di beberapa rumah terakhir aku harus cas-cis-cus mempergunakan bahasa Inggris karena anak-anaknya sekolah di International. Dua anak yang baru pulang hidup dari Amerika, selama belajar harus dikomando bahasa Inggris karena bahasa Melayu pun mereka tidak mengerti.

  

Dari sisi sikap belajar, orang tua mereka masih sangat ketat. Penghormatan sikap duduk, keharusan bersalaman dan mencium tangan harus tetap dilakukan. Bahkan di beberapa rumah aku diperbolehkan orang tuanya membawa rotan atau pun memukul mereka hanya untuk membuat mereka mau belajar. Persis sama dengan pola pendididikan yang kuterima lebih dari 30 tahun yang lalu. Membuat anak didik menurut masih mempergunakan sedikit penekanan.

  

Dalam pikiranku, aku tidak mau membuat mereka menurut karena takut. Dari sisi psikologis, aku mau mereka melakukan sesuatu dengan kesadaran sendiri dan penuh keriangan hati. Karena bagaimanapun dunia mereka sudah sangat jauh dengan duniaku. Yang penting bagiku adalah tetap menghadirkan diri mereka dalam kemauan belajar dan membuka buku pelajaran itu. Makanya dari sisi sikap kadang aku harus menempatkan diri sebagai sahabat buat mereka. Sering aku melakukan ‘toss’ tangan sambil kubilang ‘give me five’ atau melakukan salaman ala koboi. Hanya untuk memuji mereka sehingga motivasi belajar mereka selalu ada.

 

-o0o-

  Kupandang lagi anak itu dengan dalam. Dengan tersenyum aku berkata …

 Ok … no problem! Do you want to stop read this book now?”Yaaaa! Stop it now and continuo tomorrow”“Ok … good girl! But you must promise to continuo tomorrow”“Ya …I promise, Ustadz!”“Wait a minute … I need your help …A good girl always helps other people, right? 

Aku mencoba membuat dirinya merasa orang penting. Anak kecil itu memandangku.

 “Ok! What?”“It’s easy thing. Just see this page, just remember a letter for tomorrow”“Ok …” 

Dan selanjutnya dia pun memperhatikan hurup yang aku tunjukkan. Hanya sekedar mengingatnya tanpa membaca seluruh hurup dalam satu halaman buku IQRA itu. Tidak hanya satu hurup, bahkan akhirnya dua hurup. Tanpa dia sadar, hurup-hurup yang kusebutkan untuk besok telah dia pelajari hari ini, sedangkan esok hari aku akan memberinya hurup-hurup yang lain lagi.

 

Kutarik dalam nafasku. Kurenungkan semua amanah yang sekarang ada di hadapanku. Yang harus kutunaikan dengan berbagai cara. Dengan memuji kemampuan hapalannya, membiarkan mereka hanya menulis hurup yang tidak mau dia katakana bahkan mengajak membaca surat-surat pendek Al-Qur’an walaupun dengan duduk di pinggir kolam renang.

  

Main Library University Malay

14 Maret 2008 – 08.56

  


[Renungan Kehidupan] Thanks to DiGi: Ketika Detektif Amatir Itu Dilecehkan

March 9, 2008

-o0o-

[Buat saudara sepupuku Ikeu: terima kasih banyak atas fasilitas dan dukungan selama ini sehingga mampu memaknai hidup dengan lebih baik. Juga untuk pintu ke networking dengan 3 rumah baru dalam langkah-langkah perjalananku di KL]

-o0o-

  “Sudahlah … apalagi yang mau kamu uruskan sih. Sudah jelas si Imut sudah tidak mau lagi berteman denganmu. Walau kutahu sekali kalian tidak mungkin pacaran karena dia sudah punya tunangan di Indonesia  kan?”
“Kang Tata, Niat baik menolong, malah dibalas ketidakjujuran. Kalau dia tidak berpura-pura, gue pun tidak peduli lagi dengan apa yg dia lakukan. Mau jungkir balik pun itu urusan dia. Gue masih sakit hati disepelekan dan dilecehkan … dan Yang pasti mangke banget dibohongi cewek munafik itu ”
“Hussss … hati-hati kalau ngomong!”  


Obrolan pembukaku dengan Irsan sore itu memang langsung dengan emosi tinggi. Aku tidak tahan melihat Irsan terus menerus murung beberapa hari ini. Maksudku untuk meredam emosinya namun apa daya ternyata makin menjadi. Irsan memang sedang meradang karena ketulusannya untuk menjalani sebuah persahabatan harus berujung dengan kenyataan yang tidak mampu diterimanya.


Irsan yang selama ini kukenal selalu berusaha melakukan sesuatu dengan baik dan periang. Akhir-akhir ini menjadi begitu emosional. Meski tidak sampai bercucuran air mata, namun kadang dia terduduk diam dengan raut muka kesedihan yang sangat dalam.

“Coba gue ingat-ingat lagi, Kang! Mulai dari sikapnya yang gak konsisten. Kalau memang niatnya masih menjadi hubungan baik, kenapa mesti seperti melihat mahluk menjijikan kalau melihat gue?”
“Terus apalagi, San?”
“Dulu alasannya tidak mau sering main dengan gue adalah karena tidak mau merepotkan dan dia merasa dikejar-kejar rasa salah, mengkhianati keluarganya dan pacaranya di sana. Itu pun hanya karangan belaka, sekarang malah dia selalu berusaha bersikap manis dan manja menyambut kedatangan sang idola barunya. Juga selalu senang berlama-lama entah ngobrolin apa”
“Wajar kali … dia masih mikir jadi ABG. Berteman ama Irsan sih … percuma! Terlalu sibuk dan tidak ada waktu untuk menemaninya jalan-jalan atau ngobrolin lagu-lagu top terbaru …”
“Iya kali ya … Kang”
“Syukur deh ngaku …”
“Tapi emang si Imut benar-bener keterlaluan ya … begitu cepat berubah. Kemaren rasanya suka gue ajarin excel … download file di internet. Sekarang kok perlakukan gue gini amat ya, Kang? Bagai air susu yang dibalas air tuba”
“Husss … gak baek lu ngomongin kebaekan. Kalau dulu lu dah ikhlas ngelakuinnya, jangan sebut-sebut lagi”
“Cuman sekedar flas-back aja kok”
“Ada yang salah kali dalam diri, San!”
“Ga tau akh! Tapi masa sih gue salah terus, Kang? Tapi ya … syukurnya makin banyak aja kedok kepura-puraannya yg kebuka. Sok jaim ama sok jadi anak baiknya itu …”
“Hussss  … hati-hati kalo ngomong …”
“Ada bukti kok … nih Kang! Kebiasaan Chatting-nya. Tau khan dia hobby chatting? Tapi sekarang menghindar dengan selalu invisible. Soal hp, mana mungkin sih orang yang tidak bisa lepas ama tuh hp … yang dulu selalu telp gue tiap malam, kirim sms terus … tiba-tiba bisa diredam langsung? Ya … tidak! Pasti ada seseorang yang jadi penampung baru … “
“San, hati-hati lu ngomong!”
“Alahhhhhh …. gak takut! Nih Akang lihat!”  

Layaknya seorang detektif yang memenangkan pertempuran, Irsan mengeluarkan setumpuk kertas dan meletakannya di atas meja, tepat di hadapanku. Cukup kaget kulihat setumpuk kertas print-out berlogo DiGi yang mencatat semua aktivitas sebuah telepon selular. Jelas kulihat dengan tiga nomor belakang 069. Sama dengan salah satu nomor yang kukenal di phonebook-ku, ya nomor si Imut.

  “Dari mana lu dapet?”
“He … he … he … Bang Krisna!”
“Untuk ini semua kemaren lu minta to telp temen kuliah-ku yang kerja di DiGi itu?”  

Sering ku bersyukur mempunyai banyak saudara dan sahabat di mana-mana. Mereka selalu senantiasa menjadi jalan yang membantu perjalanan hidupku menjadi lebih lancar. Mereka memberikan jalan. Termasuk jalan menelesuri suatu kebenaran atas keyakinan diri yang dicari seorang Irsan.

 

 “Iyaa … itung-itung jadi detektif amatiran lah. Terpaksa karena setelah beberapa kali lewat costumer services gagal”
“Terus …?”
“Penasaran aja … Jadi lewat jalur laen. Karena gue percaya pasti bisa. Salah satu bukti di pengadilan aja ampe bisa menunjukkan daerah posisi seseorang melakukan panggilan telepon dan kirim sms”
“Bener-bener mau jadi detektif?”
“He … he … he … Emang kenapa, Kang?”
“Wahhh … gak etis tuh … nomor telepon orang … Dan illegal lagi”
“Etis? Etis sih relatif, Kang! Untuk yang dilecehkan sah-sah aja. Lagian legal kok!”
“Gimana bisa ?”
“Ha … ha … ha … nomor itu dulu gue yang beli dengan duit gue juga, Kang! Pake passport gue juga … Jadi ga ada masalah. Bang Krisna ama atasannya juga oke-oke aja karena data pemilik yang terdaftar emang gue. Apalagi dibilang untuk kepentingan analsis di kuliahan…Jadi 18 ringgit dulu sangat berarti untuk mengungkap suatu fakta kemunafikan dan kepura-puraan”  

 

Aku menggeleng-gelengkan kepala sambil melihat satu-satu catatan telepon dan sms yang keluar dan masuk ke nomor itu. Yang terbayang adalah usaha gigih seorang anak manusia hanya untuk mengobati sebuah harga dirinya yang dilecehkan.

  “Tapi lu kan gak bisa dapat info banyak dari list ini, San.”
“List ini sih … paling tidak bisa melihat aktivitas hp si Imut. Nunjukkin nomor mana saja yang sering dikontak serta waktunya. Terus …”
“Terus apa? Kan ga bisa gali apa-apa lagi …”
“Ha … ha … ha … Jangan salah Kang! Selain itu gue pun dapat softcopy dari script sms-sms yang keluar dan masuk. Lengkap ampe titik koma-nya …”  

Irsan memperlihatkan file script sms di laptop-nya. Kembali kugeleng-gelengkan kepala. Bukan hanya untuk kegigihan Irsan berburu fakta, namun juga karena tercengang membaca script sms-sms di nomor itu.

 

 “Napa geleng-geleng, Kang?”“Gak nyangka kan? Ya … dah makin jijik aja gue ngelihatnya. Semuanya begitu jelas, so makin bingung gimana mau respect lagi … dan mulai sekarang manggilnya bukan ‘Imut’ lagi … tapi jadi ‘Mot’ .. yang berarti lemot. Ya lemot kejujuran paling tidak …He … he … he …”
“No comment akh gue!”
“Ga apa-apa, Kang! Yang penting saya akan lebih bisa tertawa lebar kalo bertemu dengan dia …”   

Di tengah keterpakuan, aku mencoba menggali sesuatu yang lain yang lebih jauh.

  “Apa sih tujuan lu ngelakuin ini semua?”  

Irsan tak menjawab langsung dan hanya terpaku menatapku. Seakan ada yang berat dan tidak mampu dia ucapkan. Diujung diamnya dia akhirnya berkata:

“Hanya hanya ingin membuktikan kepenasaran atas harga diri gue yang telah direndahkan”
“Bukan ingin kembali menjalani kehidupan seperti sebelumnya?”
“No … thanks, kang! Gue sudah merasa lebih nyaman dengan kondisi sekarang. Makin mampu mengontrol diri dan menikmati semuanya sendiri. Tidak ada lagi telepon malam-malam ataupun jemputan paksa untuk sekedar mengantarnya jalan-jalan atau menonton.”
“Ehmm … ok! Apalagi?”
“Gue ingin gue dihormati dan disikapi seperti biasa lagi aja”
“Apa tidak mungkin dengan Imut sikapnya saat in justru untuk menjaga harga diri lu dan kehormatan dirinya?”
“Halahhhh … bullshit, Kang! Kalao emang mau begitu kenapa gue aja yang diisolasi? Sedangkan ke seseorang yang lain dengan attraktif-nya menunjukkan sikap dan obrolah bagai budak mesranya? 

Uffff … aku salah menciptakan kondisi ternyata. Emosi Irsan malah naik lagi.

  “Tapi apa ada niat lu untuk memperbaiki kondisi?”“Tentulah, Kang! Gue gak mau ninggalin hal seperti ini. Sekarang ini saya bisa kapan saja meninggalkan Malaysia. Namun agak hopeless ..”
“Kenapa?”
“Beberapa kali saya coba ngobrol … hanya emosi yang muncul dan gue pun dibilangnya mau ngatur …”   

Jujur aku bingung untuk memberikan reaksi apa. Bagiku Irsan berhak melakukan apapun selama dia yakin akan kebenarannya. Aku tidak punya kuasa apapun untuk mengaturnya. Irsan punya bukti kuat yang telah didapatkan. Semuanya adalah hak dia … Termasuk ketika dia menunjukkan sebuah sms di folder draft HP-nya.

  “Kalo ini semua lu lakukan  utk kebaikan gue dan rasa brsalah elu hingga lu mo jd lbh baek, semuanya gue terima. Smoga jd kebaikn buat semua. Tp jika lu mbohongi gue atas semua ini, gue bdo’a smoga dperliatkn olehNya dg nyata di depan mata gue sgala kebusukan lu, + gue mo liat kemalangan apa yg akan lu dapatkn biar semuanya sgera sadar”


Kucoba untuk sedikit mengerem.


“Are you really to send it?”

Irsan hanya diam dan dengan berat dia anggukan kepalanya.

“Kalau bisa gak usah lah … lu kirim. Imut pun pasti tidak lepas dari kesalahan. Juga pengaruh dari sekelilingnya”


Tiba-tiba Irsan berdiri dari duduknya. Dan langsung menepuk bahuku.

“Thanks, Kang! Memang Akang selalu memberi ide baru”
“Hah? Maksudmu?”
“Akan kutambahkan kata-kata untuk orang yang juga membuat dia sekarang tertutup akan kejujuran. Thanks a lot, Kang! Ini adalah akhir dari semua kulakuan”


Sedetik kemudian kulihat Irsan mengirim sms tadi. Dengan fakta baru dia dapatkan dia merasa lebih yakin. Walau kumampu membayangkan pedihnya sebuah penyampakkan, namun kuberharap semuanya untuk segera dia hentikan. Untuk lebih berfikir tentang hidup yang lebih penting dari pada hal picisan tentang kejujuran hati seorang gadis yang sudah tidak kejujuran hatinya.


Biar semuanya menjadi urusanNya karena sudah di luar tataran kekuasaan seorang manusia lagi. Biar sebagai manusia mengambil hikmah dari semuanya. Hikmah turun naiknya sebuah emosi yang pada kenyataannya mampu menyebabkan manusia berbuat segala sesuatu. Bakan sesuatu yang tidak terpikirkan sebelumnya.


Kuala Lumpur, Di awal malam
8 Maret 2008