-o0o-
[Buat saudara sepupuku Ikeu: terima kasih banyak atas fasilitas dan dukungan selama ini sehingga mampu memaknai hidup dengan lebih baik. Juga untuk pintu ke networking dengan 3 rumah baru dalam langkah-langkah perjalananku di KL]
-o0o-
“Sudahlah … apalagi yang mau kamu uruskan sih. Sudah jelas si Imut sudah tidak mau lagi berteman denganmu. Walau kutahu sekali kalian tidak mungkin pacaran karena dia sudah punya tunangan di Indonesia kan?”
“Kang Tata, Niat baik menolong, malah dibalas ketidakjujuran. Kalau dia tidak berpura-pura, gue pun tidak peduli lagi dengan apa yg dia lakukan. Mau jungkir balik pun itu urusan dia. Gue masih sakit hati disepelekan dan dilecehkan … dan Yang pasti mangke banget dibohongi cewek munafik itu ”
“Hussss … hati-hati kalau ngomong!”
Obrolan pembukaku dengan Irsan sore itu memang langsung dengan emosi tinggi. Aku tidak tahan melihat Irsan terus menerus murung beberapa hari ini. Maksudku untuk meredam emosinya namun apa daya ternyata makin menjadi. Irsan memang sedang meradang karena ketulusannya untuk menjalani sebuah persahabatan harus berujung dengan kenyataan yang tidak mampu diterimanya.
Irsan yang selama ini kukenal selalu berusaha melakukan sesuatu dengan baik dan periang. Akhir-akhir ini menjadi begitu emosional. Meski tidak sampai bercucuran air mata, namun kadang dia terduduk diam dengan raut muka kesedihan yang sangat dalam.
“Coba gue ingat-ingat lagi, Kang! Mulai dari sikapnya yang gak konsisten. Kalau memang niatnya masih menjadi hubungan baik, kenapa mesti seperti melihat mahluk menjijikan kalau melihat gue?”
“Terus apalagi, San?”
“Dulu alasannya tidak mau sering main dengan gue adalah karena tidak mau merepotkan dan dia merasa dikejar-kejar rasa salah, mengkhianati keluarganya dan pacaranya di sana. Itu pun hanya karangan belaka, sekarang malah dia selalu berusaha bersikap manis dan manja menyambut kedatangan sang idola barunya. Juga selalu senang berlama-lama entah ngobrolin apa”
“Wajar kali … dia masih mikir jadi ABG. Berteman ama Irsan sih … percuma! Terlalu sibuk dan tidak ada waktu untuk menemaninya jalan-jalan atau ngobrolin lagu-lagu top terbaru …”
“Iya kali ya … Kang”
“Syukur deh ngaku …”
“Tapi emang si Imut benar-bener keterlaluan ya … begitu cepat berubah. Kemaren rasanya suka gue ajarin excel … download file di internet. Sekarang kok perlakukan gue gini amat ya, Kang? Bagai air susu yang dibalas air tuba”
“Husss … gak baek lu ngomongin kebaekan. Kalau dulu lu dah ikhlas ngelakuinnya, jangan sebut-sebut lagi”
“Cuman sekedar flas-back aja kok”
“Ada yang salah kali dalam diri, San!”
“Ga tau akh! Tapi masa sih gue salah terus, Kang? Tapi ya … syukurnya makin banyak aja kedok kepura-puraannya yg kebuka. Sok jaim ama sok jadi anak baiknya itu …”
“Hussss … hati-hati kalo ngomong …”
“Ada bukti kok … nih Kang! Kebiasaan Chatting-nya. Tau khan dia hobby chatting? Tapi sekarang menghindar dengan selalu invisible. Soal hp, mana mungkin sih orang yang tidak bisa lepas ama tuh hp … yang dulu selalu telp gue tiap malam, kirim sms terus … tiba-tiba bisa diredam langsung? Ya … tidak! Pasti ada seseorang yang jadi penampung baru … “
“San, hati-hati lu ngomong!”
“Alahhhhhh …. gak takut! Nih Akang lihat!”
Layaknya seorang detektif yang memenangkan pertempuran, Irsan mengeluarkan setumpuk kertas dan meletakannya di atas meja, tepat di hadapanku. Cukup kaget kulihat setumpuk kertas print-out berlogo DiGi yang mencatat semua aktivitas sebuah telepon selular. Jelas kulihat dengan tiga nomor belakang 069. Sama dengan salah satu nomor yang kukenal di phonebook-ku, ya nomor si Imut.
“Dari mana lu dapet?”
“He … he … he … Bang Krisna!”
“Untuk ini semua kemaren lu minta to telp temen kuliah-ku yang kerja di DiGi itu?”
Sering ku bersyukur mempunyai banyak saudara dan sahabat di mana-mana. Mereka selalu senantiasa menjadi jalan yang membantu perjalanan hidupku menjadi lebih lancar. Mereka memberikan jalan. Termasuk jalan menelesuri suatu kebenaran atas keyakinan diri yang dicari seorang Irsan.
“Iyaa … itung-itung jadi detektif amatiran lah. Terpaksa karena setelah beberapa kali lewat costumer services gagal”
“Terus …?”
“Penasaran aja … Jadi lewat jalur laen. Karena gue percaya pasti bisa. Salah satu bukti di pengadilan aja ampe bisa menunjukkan daerah posisi seseorang melakukan panggilan telepon dan kirim sms”
“Bener-bener mau jadi detektif?”
“He … he … he … Emang kenapa, Kang?”
“Wahhh … gak etis tuh … nomor telepon orang … Dan illegal lagi”
“Etis? Etis sih relatif, Kang! Untuk yang dilecehkan sah-sah aja. Lagian legal kok!”
“Gimana bisa ?”
“Ha … ha … ha … nomor itu dulu gue yang beli dengan duit gue juga, Kang! Pake passport gue juga … Jadi ga ada masalah. Bang Krisna ama atasannya juga oke-oke aja karena data pemilik yang terdaftar emang gue. Apalagi dibilang untuk kepentingan analsis di kuliahan…Jadi 18 ringgit dulu sangat berarti untuk mengungkap suatu fakta kemunafikan dan kepura-puraan”
Aku menggeleng-gelengkan kepala sambil melihat satu-satu catatan telepon dan sms yang keluar dan masuk ke nomor itu. Yang terbayang adalah usaha gigih seorang anak manusia hanya untuk mengobati sebuah harga dirinya yang dilecehkan.
“Tapi lu kan gak bisa dapat info banyak dari list ini, San.”
“List ini sih … paling tidak bisa melihat aktivitas hp si Imut. Nunjukkin nomor mana saja yang sering dikontak serta waktunya. Terus …”
“Terus apa? Kan ga bisa gali apa-apa lagi …”
“Ha … ha … ha … Jangan salah Kang! Selain itu gue pun dapat softcopy dari script sms-sms yang keluar dan masuk. Lengkap ampe titik koma-nya …”
Irsan memperlihatkan file script sms di laptop-nya. Kembali kugeleng-gelengkan kepala. Bukan hanya untuk kegigihan Irsan berburu fakta, namun juga karena tercengang membaca script sms-sms di nomor itu.
“Napa geleng-geleng, Kang?”“Gak nyangka kan? Ya … dah makin jijik aja gue ngelihatnya. Semuanya begitu jelas, so makin bingung gimana mau respect lagi … dan mulai sekarang manggilnya bukan ‘Imut’ lagi … tapi jadi ‘Mot’ .. yang berarti lemot. Ya lemot kejujuran paling tidak …He … he … he …”
“No comment akh gue!”
“Ga apa-apa, Kang! Yang penting saya akan lebih bisa tertawa lebar kalo bertemu dengan dia …”
Di tengah keterpakuan, aku mencoba menggali sesuatu yang lain yang lebih jauh.
“Apa sih tujuan lu ngelakuin ini semua?”
Irsan tak menjawab langsung dan hanya terpaku menatapku. Seakan ada yang berat dan tidak mampu dia ucapkan. Diujung diamnya dia akhirnya berkata:
“Hanya hanya ingin membuktikan kepenasaran atas harga diri gue yang telah direndahkan”
“Bukan ingin kembali menjalani kehidupan seperti sebelumnya?”
“No … thanks, kang! Gue sudah merasa lebih nyaman dengan kondisi sekarang. Makin mampu mengontrol diri dan menikmati semuanya sendiri. Tidak ada lagi telepon malam-malam ataupun jemputan paksa untuk sekedar mengantarnya jalan-jalan atau menonton.”
“Ehmm … ok! Apalagi?”
“Gue ingin gue dihormati dan disikapi seperti biasa lagi aja”
“Apa tidak mungkin dengan Imut sikapnya saat in justru untuk menjaga harga diri lu dan kehormatan dirinya?”
“Halahhhh … bullshit, Kang! Kalao emang mau begitu kenapa gue aja yang diisolasi? Sedangkan ke seseorang yang lain dengan attraktif-nya menunjukkan sikap dan obrolah bagai budak mesranya?
Uffff … aku salah menciptakan kondisi ternyata. Emosi Irsan malah naik lagi.
“Tapi apa ada niat lu untuk memperbaiki kondisi?”“Tentulah, Kang! Gue gak mau ninggalin hal seperti ini. Sekarang ini saya bisa kapan saja meninggalkan Malaysia. Namun agak hopeless ..”
“Kenapa?”
“Beberapa kali saya coba ngobrol … hanya emosi yang muncul dan gue pun dibilangnya mau ngatur …”
Jujur aku bingung untuk memberikan reaksi apa. Bagiku Irsan berhak melakukan apapun selama dia yakin akan kebenarannya. Aku tidak punya kuasa apapun untuk mengaturnya. Irsan punya bukti kuat yang telah didapatkan. Semuanya adalah hak dia … Termasuk ketika dia menunjukkan sebuah sms di folder draft HP-nya.
“Kalo ini semua lu lakukan utk kebaikan gue dan rasa brsalah elu hingga lu mo jd lbh baek, semuanya gue terima. Smoga jd kebaikn buat semua. Tp jika lu mbohongi gue atas semua ini, gue bdo’a smoga dperliatkn olehNya dg nyata di depan mata gue sgala kebusukan lu, + gue mo liat kemalangan apa yg akan lu dapatkn biar semuanya sgera sadar”
Kucoba untuk sedikit mengerem.
“Are you really to send it?”
Irsan hanya diam dan dengan berat dia anggukan kepalanya.
“Kalau bisa gak usah lah … lu kirim. Imut pun pasti tidak lepas dari kesalahan. Juga pengaruh dari sekelilingnya”
Tiba-tiba Irsan berdiri dari duduknya. Dan langsung menepuk bahuku.
“Thanks, Kang! Memang Akang selalu memberi ide baru”
“Hah? Maksudmu?”
“Akan kutambahkan kata-kata untuk orang yang juga membuat dia sekarang tertutup akan kejujuran. Thanks a lot, Kang! Ini adalah akhir dari semua kulakuan”
Sedetik kemudian kulihat Irsan mengirim sms tadi. Dengan fakta baru dia dapatkan dia merasa lebih yakin. Walau kumampu membayangkan pedihnya sebuah penyampakkan, namun kuberharap semuanya untuk segera dia hentikan. Untuk lebih berfikir tentang hidup yang lebih penting dari pada hal picisan tentang kejujuran hati seorang gadis yang sudah tidak kejujuran hatinya.
Biar semuanya menjadi urusanNya karena sudah di luar tataran kekuasaan seorang manusia lagi. Biar sebagai manusia mengambil hikmah dari semuanya. Hikmah turun naiknya sebuah emosi yang pada kenyataannya mampu menyebabkan manusia berbuat segala sesuatu. Bakan sesuatu yang tidak terpikirkan sebelumnya.
Kuala Lumpur, Di awal malam
8 Maret 2008