<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Life's Story of an ordinary young man with the name 'Tata Sumitra Wirasasmita'</title>
	<atom:link href="http://wirasasmita.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://wirasasmita.wordpress.com</link>
	<description>what I see, I feel and I think ...</description>
	<lastBuildDate>Thu, 07 Aug 2008 03:47:53 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='wirasasmita.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Life's Story of an ordinary young man with the name 'Tata Sumitra Wirasasmita'</title>
		<link>http://wirasasmita.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://wirasasmita.wordpress.com/osd.xml" title="Life&#039;s Story of an ordinary young man with the name &#039;Tata Sumitra Wirasasmita&#039;" />
	<atom:link rel='hub' href='http://wirasasmita.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Terima Kasih Atas Semuanya</title>
		<link>http://wirasasmita.wordpress.com/2008/08/06/terima-kasih-atas-semuanya/</link>
		<comments>http://wirasasmita.wordpress.com/2008/08/06/terima-kasih-atas-semuanya/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 06 Aug 2008 11:45:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>wirasasmita</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://wirasasmita.wordpress.com/?p=19</guid>
		<description><![CDATA[Perjalanan hidup memang kadang menguras tenaga dan pikiran. Siklus alami yang dalam waktu bersamaan juga menarik untuk direnungkan makna pelajarannya. Awal menjejakan kaki saya untuk mengurus pendaftaran kuliah saya di program MM Juni 2006 yang lalu dimulai dengan menginap di Hotel Legend. Dan semalam, sebagai salah satu peserta Graduation Diner MBA+MM, Graduate School of Business [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=wirasasmita.wordpress.com&amp;blog=2385003&amp;post=19&amp;subd=wirasasmita&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal">Perjalanan hidup memang kadang menguras tenaga dan pikiran. Siklus alami yang dalam waktu bersamaan juga menarik untuk direnungkan makna pelajarannya. Awal menjejakan kaki saya untuk mengurus pendaftaran kuliah saya di program MM Juni 2006 yang lalu dimulai dengan menginap di Hotel Legend. Dan semalam, sebagai salah satu peserta Graduation Diner MBA+MM, Graduate School of Business – University of Malaya, saya pun dilepas di Ballroom-nya Hotel Legend. Saya seakan menutup proses pembelajaran saya di tempat yang sama dimana saya memulai berjuang memulainya.</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">Dua tahun seakan menjadi sebentar, namun sebuah prose panjang sebuah perjalanan. Sebuah proses panjang dimana saya merasakan banyaknya bantuan dan dorongan selama proses yang saya jalani. Pada waktu yang sangat tepat ini ijinkanlah saya menghaturkan persembahan kata-kata terima kasih tiada hingga dengan segala ketulusan kepada semua pihak yang telah memberikannya, khususnya kepada:</p>
<p class="MsoNormal">
<p>Pertama,<br />
Manajemen PT BEJ, yang pada bulan Juni 2006 pak Erry Firmansyah dan pak Wawan S. Setiamiharja (alm) menyetujui permohonan saya untuk meninggalkan pekerjaan untuk melanjutkan kuliah. Juga, kepada pak MS Sembiring dan Ibu Justitia yang telah memberikan motivasi langsung ketika bertemu di Kuala Lumpur. Tak lupa, saya sampaikan juga kepada pak Eddy Sugito, termasuk maaf saya karena sampai saat ini belum sempat mengobrol seperti apa yang dijanjikan sebelum keluar dua tahun lalu. Rekan-rekan di Divisi SDM khususnya, serta tentunya seluruh rekan kerja di PT BEJ dulu yang telah mendo’akan dan menyemangati serta memberi jalan kehidupan kepada saya.</p>
<p class="MsoNormal">
<p>Kedua,<br />
Keluarga-keluarga di Malaysia yang telah membantu proses belajar kehidupan saya di Kuala Lumpur. Mulai dari keluarga bang Kamal Fitri yang telah menguruskan apartment di Bukit Indah Ampang. Makci Niaga Tiara Intan dan keluarga bang Azirul, jiran yang selalu digangu oleh kedua pahlawan kecil saya. Makco (alm) yang memberikan bukti ketulusan membantu orang lain dan hidup keras. Pak Umar dan Ibu Ayu di East Heritage beserta para pejuang devisa yang telah memberikan proses pelajaran hidup yang sangat berharga,  Juga termasuk Bang Razib, sang pejuang ESQ 165-nya Malaysia, yang telah mengunjungi saya sejak di hotel Legend.</p>
<p class="MsoNormal">
<p>Ketiga,<br />
Kepada para lecturers and classmate of Graduate School of Business – University of Malaya. Khususnya kepada Dr. Fazilah Abd Samad sebagai Direktur juga secara pribadi telah membantu proses pembelajaran saya. Bang Mus, Chan Shirley, dan Chan Pau Leng, partner Tim teakhir. Juga temen2 seperjuangan dalam berlomba menyelesaikan thessi yaitu Jasnawati Binti Jasmin, Jamal Bin Paiman, Ahmad Rusli Bin Akiah, Emelia Binti Badaruddin, Karthigeyan Rajinighanth, Aida serta Farida Al-Busaidy dari Oman.</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">Keempat,<br />
Seluruh pejuang kecil yang dari mereka saya banyak belajar membaca tulisan arab dengan benar di Tiara Intan Condominium Bukit Indah, keluarga jl Bukit Indah, Keluarga Widuri Apartment Taman Kosas, keluarga Taman TAR, Sri Hening Condominium – Ampang Hilir, Dua Residensi – Tun Razak, Ara Damansara. Semoga semuanya menjadi anak-anak yang sholeh atau sholehah.</p>
<p class="MsoNormal">
<p>Kelima,<br />
Saudara-saudara tercinta di komunitas statUNPADnet. Mohon ma’af tidak dapat saya rinci satu persatu karena utk menuliskan nama semuanya tidak akan cukup satu halaman. Juga di komunitas milist Tasikmalaya, PPI University of Malaya serta di jaringan Yahoo Messanger. Pula, Mas Dayat and the genk di Nielsen. Terima kasih untuk semua kata-kata sapaan dan motivasi membakar semangat diri dari semuanya.</p>
<p class="MsoNormal">
<p>Keenam<br />
Senior, sahabat, serta saudara yang berkunjung ke Kuala Lumpur dan sempet menengok saya. Om Wid, Mbak Kandi, Mas Pandi, tante Echi, bang Andi, om Hamzah, serta Karla dari BEJ. Mas Bin, Mas Wahyu dan Mas Ignatius dari team BPA. Juga dari statUNPAD: Silva ’00, Eko ’98 dan Kanti ’97 (serta om Tantan-nya), Dede ’00, dan Ivan ’98. Pula, kang Ipin dan Eva dari Nielsen. Yang tak mungkin terlupakan mas Erie Prakoso yang juga sering membantu memberikan supporting luar-dalam. Semuanya telah menjadi pelipur lara kerinduan suasana Indonesia  melalui cerita-ceritanya.</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">Ketujuh<br />
Dr. Syed Zamberi Ahmad yang telah memberikan supervisi selama saya menyusun thesis dengan segala masukannya. Dr. Jadi Suprijadi, DEA dan bapak Toni Toharudin S.Si., M.Sc. yang telah meberikan dukungan penuh untuk mengumpulkan data. Dyah Suskandari S.Si., Swastika Harimurti, dan Riskie Aprilianingsih yang telah membantu mengumpulkan data penelitian. Seluruh mahasiswa aktif di statistika Unpad yang telah bersedia mengisi quesioner yang telah disebarkan. Kang Dede Nurdin, Chan Shirley, serta Tanti Irawati P yang telah membantu mengecekan isi thesis dari sisi bahasa dan grammatical-nya.</p>
<p class="MsoNormal">Kedelapan<br />
Sahabat karib serta handai taulan yang, mohon maaf jika terlupa tersebut satu persatu, dengan segala ketulusan hati telah mendo’akan dan membantu saya.</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">The last but the most important<br />
Kepada istri tercinta dan kedua jagoan cilik yang telah mengorbankan segala rasa dan perhatiannya. Semoga semua pengorbannya tidak sia-sia. Serta keluarga besar Tasikmalaya dan Limbangan yang juga tiada putus-putusnya memanjatkan do’a untuk keselamatan dan tetap menyalanya semangat saya.</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">Akhir kata, sebagaimana kata-kata orang bijak, akhir sebuah perjuangan adalah awal perjuangan lain. Proses belajar formal saya memang sudah selesai, namun proses perjuangan hidup yang lain telah menunggu. So, jangan merasa bosan kalau saya kembali minta do’a dan dukungannya agar perjalanan perjuangan saya dimudahkan dan dilapangkan olehNya. Saya tidak minta untuk dibebaskan dari halangan dan rintangan, karena hal-hal itu akan tetap ada mewarnai hidup kita. Mudah-mudahan semuanya menjadi jalan kehidupan yang lebih membuat saya baik dan bermanfaat dalam kehidupan di komunitasnya. Seperti kata-kata bijak: If life gives us rocks, it’s our choice whether to build a bridge or a wall.</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/wirasasmita.wordpress.com/19/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/wirasasmita.wordpress.com/19/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/wirasasmita.wordpress.com/19/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/wirasasmita.wordpress.com/19/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/wirasasmita.wordpress.com/19/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/wirasasmita.wordpress.com/19/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/wirasasmita.wordpress.com/19/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/wirasasmita.wordpress.com/19/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/wirasasmita.wordpress.com/19/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/wirasasmita.wordpress.com/19/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/wirasasmita.wordpress.com/19/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/wirasasmita.wordpress.com/19/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/wirasasmita.wordpress.com/19/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/wirasasmita.wordpress.com/19/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/wirasasmita.wordpress.com/19/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/wirasasmita.wordpress.com/19/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=wirasasmita.wordpress.com&amp;blog=2385003&amp;post=19&amp;subd=wirasasmita&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://wirasasmita.wordpress.com/2008/08/06/terima-kasih-atas-semuanya/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/8608597a13ba37ecb6920e3714f48d80?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">wirasasmita</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>[Renungan Kehidupan] Gadis Muda India</title>
		<link>http://wirasasmita.wordpress.com/2008/07/02/renungan-kehidupan-gadis-muda-india/</link>
		<comments>http://wirasasmita.wordpress.com/2008/07/02/renungan-kehidupan-gadis-muda-india/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 02 Jul 2008 02:27:54 +0000</pubDate>
		<dc:creator>wirasasmita</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://wirasasmita.wordpress.com/2008/07/02/renungan-kehidupan-gadis-muda-india/</guid>
		<description><![CDATA[Hari masih begitu pagi, adzan Subuh pun belum lewat lebih dari setengah jam yang lalu. Kubuka pintu apartement perlahan-lahan. “Mau kemana, kang? Pagi-pagi gini sudah keluar rumah?” Suara Rama yang tiba-tiba keluar kamarnya mengagetkanku “Jalan keluar, Ram! Suntuk. Belum nemu ide untuk bab enam” “Pasti sekalian cari sarapan ya?” “Iya! Sudah lama gak ke Sri [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=wirasasmita.wordpress.com&amp;blog=2385003&amp;post=17&amp;subd=wirasasmita&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><!--[if gte mso 9]&gt;  Normal 0   false false false        MicrosoftInternetExplorer4  &lt;![endif]--><!--[if gte mso 9]&gt;   &lt;![endif]--><!--[if !mso]&gt;--></p>
<p class="MsoNormal">Hari masih begitu pagi, adzan Subuh pun belum lewat lebih dari setengah jam yang lalu. Kubuka pintu apartement perlahan-lahan.</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">“Mau kemana, kang? Pagi-pagi gini sudah keluar rumah?” Suara Rama yang tiba-tiba keluar kamarnya mengagetkanku<br />
“Jalan keluar, Ram! Suntuk. Belum nemu ide untuk bab enam”<br />
“Pasti sekalian cari sarapan ya?”<br />
“Iya! Sudah lama gak ke Sri Paandi”<br />
“Halahhh restoran India terussss”<br />
“Asyik sih, Ram! Sambil memperhatikan kehidupan orang India”<br />
“Akhhh … alesan aja! Abis murah juga kan?”<br />
“Ha … ha … ha … Tau aja lu! Ya udah keburu siang. Aku mau nerusin nulis tesis lagi nanti”. Kututup pintu dari luar. Tak lupa kunci gembok pun dipasang di teralis besi luarnya. Lambat-lambat masih terengar Rama berteriak. Mengingatkan adanya pertemuan panitia seminar Manajemen Islam siang ini.<br />
“Jangan lama-lama, Kang! Kita akan ada meeting di mesjid As-Syakirin deket KLCC sebelum Jum’atan”.</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">Aku mempercepat langkahku menuruni tangga untuk mengejar lift di lantai 18. Satu lantai di bawah unit apartment dimana ku tinggal. Lift-lift yang hanya dapat dihentikan di setiap lantai yang bernomor genap seakan memaksaku setiap hari melepas ketegangan otot kaki dengan menuruni tangga. Ketika naik, kalau tidak sedang bernasib baik mendapatkan satu lift yang berhenti di semua lantai sampai di tingkat 19, aku pun harus menaiki tangga kembali karena lift yang satu lagi hanya berhenti di lantai genap dan berhenti di tingkat 18.</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">Bagiku lantai 18 memang menjadi terminal persinggahan penting kehidupanku di apartment Bukit Sri Angkasa yang tidak lebih dua kilometer dari kampus Utama University Malaya. Letaknya yang di belakang gedung RTM, <em>Radio and Televisyen Malaysia</em>, membuat apartmentku mudah dicari selain karena jumlah tingkatnya yang paling tinggi, menjulang sendiri diantara blok-blok rumah flat lainnya yang hanya bertingkat sembilan.<span> </span></p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">Dari kamarku, mata pun dapat memandang bebas arsitektur indah Menara Telekom yang katanya dirancang oleh arsitek Indonenesia. Salah satu gedung berarsitek khas diantara gedung-gedung menjulang tinggi yang umumnya hanya berbentuk persegi atau bulat. Jalan train <em>Kelana Jaya Line</em> serta hilir mudiknya kereta api bergerbong dua pun dengan waktu teratur dapat kuintip dari balik teralis jendelaku memasuki stasion Kerinchi persis di sisi jalan <em>lebuhraya</em> Persekutuan.</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">
Jika sedikit kupalingkan sedikit wajah ke arah kanan akan terlihat kompleks bisnis Mid Valley yang semakin hari semakin disumpeki oleh bangunan tinggi. Bangunan yang terkadang membuatku gerah karena menghalangi pemadanganku ke arah dua menara Petronas yang sebelumnya mampu kupandangi dengan sangat jelas. Kalau pun ada kembang pesta api yang terlihat hanya pantulan dan pancaran cahaya yang meledak-ledak yang terlihat. <span lang="SV">Tanpa terlihat kedua menara yang sedang bermandikan bunga-bunga apinya. Sungguh mengesankan sebenarnya!</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="SV"> </span></p>
<p class="MsoNormal">
Pagi ini orang-orang lain pun saat itu pun sudah mulai ramai keluar unitnya masing-masing untuk bekerja. Kalaupun aku segera, keluar itu hanya untuk mencoba menghirup udara pagi. Sekaligus menyelami suasananya, mengamati orang-orang yang bergelut dengan kesibukannya. Sementara aku sibuk menunggu lift yang belum dating.</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal"><span lang="SV"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><em><span lang="SV"><br />
”Morning &#8230; Tata”<br />
”Morninggg Dhiva! So early you go &#8230;”</span></em><span lang="SV"> Dhiva tersenyum.</span><em><span lang="SV"><br />
”Many things to do!”</span></em><span lang="SV"> Dia senyum kembali. Senyum kebanyakan gadis India di film-film Bollywood.</span></p>
<p class="MsoNormal"><em><span lang="SV"> </span></em></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="SV"><br />
Shreedhiva Chowdary! Begitu nama lengkap gadis India muda yang menyapaku. Tak sadar dia sudah ada berdiri di sebelahku. Ya ini memang lantai 18. Lantai kekuasaannya dimana unit dia terletak. Satu lantai di bawah unitku. Dia seorang gadis India muda yang mulai kukenal namanya beberapa minggu lalu di name tag baju kurung Melayu panjangnya. Dari namanya, kutau dia keturunan India dari daerah </span>Andhra Pradesh. Daerah selatan India yang terkenal sebagai daerah lumbung padi. Negara bagian ke-4 terluas daerah dan populasinya di India.</p>
<p class="MsoNormal"><span lang="FI"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="FI"><br />
Dalam pengelihatanku, Dhiva adalah wujud gadis muda dari ras India yang modern. Tampilan modis dan pekerjaan keras. Seperti umumnya eksekutif muda di ras mana pun di atas dunia ini.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="FI"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="FI"><br />
Tampilannya tidak lagi berambut lurus dan panjang. Seperti bintang film India edisi lama yang meliuk-liuk menari dengan melilitkan diri di tiang-tiang. Dhiva sekarang sudah me <em>rebounding</em> rambutnya. Di dahinya pun tidak tertinggal sapuan warna putih atau merah pertanda prosesi agama orang India pada umumnya. Dia hanya menyisakan tindik intan di hidungnya. Kulitnya pun sudah terlihat banyak sentuhan <em>treatment</em> salon modern.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="FI"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="FI"><br />
Dhiva pun pekerja keras. Sepagi ini dia sudah berangkat kerja dengan beban bawaan yang sangat banyak. Paling tidak itu yang kulihat. Dan itu pula yang menyedot sebagian energi pikiranku di depan lift pagi ini. Memandang lima buah kantong dan tas yang dia bawa.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="FI"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="FI"><br />
Sebuah tas kecil putih tergantung di pundak dan diapit tangan kirinya. Tas kecil namun berlogo merk terkenal dari Italia. Dilihat dari besarnya, tas ini hanya diisinya oleh barang-barang penting kecil dan sering dikeluarkan. Handphone, kunci rumah, dan kunci mobil adalah praduga utamaku yang tersimpang didalamnya. Kumpulan beban-beban ringan di dalamnya.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="FI"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="FI"><br />
Tas kedua adalah tas jinjing kulit yang berukuran sedang di tangan kanannya. Tas yang layaknya dipergunakan oleh karyawati sebagai tas formal untuk bekerja. Biasanya, tas seperti ini diisi oleh perlengkapan kerja yang lebih mendukung ekspressi penampilannya sebagai seorang pekerja. Isinya mungkin berupa blocknote berlogo perusahaannya yang begitu terkenal, mungkin alat-alat tulis atau presentasi standar, dan mungkin juga dilengkapi dengan perlengkapan kosmetik wajib yang dipergunakan secepat kilat di toilet kantor.<span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="FI"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="FI"><br />
Tas ketiga adalah sebuah back pack ukuran sedang yang dia panggul di punggungnya. Beban penuh yang ada di dalamnya begitu kentara terlihat. Back pack bertuliskan Fitness First itu seakan meregang balutan kain nilyon yang terlihat mau pecah. Isinya begitu maksimal, bahkan over capacity. Apalagi dengan ia selipkan sebotol sedang minuman mineral di kantung tranparan di pinggir kanannya. Kalau dia sudah berpakaian kerja rapi, aku akan mengadilinya sebagai wanita janggal. Namun beruntung pagi itu dia mengenakan perlengkapan olahraga yang logonya sama dengan seragam MU bermerk Nike. Dan aku pun berimajinasi kalau isi back pack itu adalah pakaian kerja resmi dia yang akan dia gunakan kemudian.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="FI"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="FI"><br />
Tadinya aku pikir itu semua sudah cukup. Ternyata tidak! Masih ada tas keempat. Sebuah back packer yang hampir seukuran dengan yang dia panggul namun yang ini dia jinjing di tangan kirinya. Isinya pun lebih sedikit dari back packer yang pertama. Jujur, aku tidak mampu mengetahui apa isi yang ada di dalamnya. Aku tertegun dalam kebingungan pikiran.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="FI"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="FI"><br />
Di tengah pikiran bingung yang membentur batas pengetahuan normalku tentang perlengkapan yang diperlukan seorang gadis muda, aku tertegun melihat tas kelima. Sebuah tas berbentuk persegi empat yang terbuat dari kertas tebal. Sebuah tas yang biasa diberikan oleh toko penjual sepatu. Ya &#8230; memang itulah sebuah tas bertuliskan Vincci yang dia bawa sebagai beban kelima. Isinya dengan jelas dapat kulihat, sebuah sepatu jogging putih bermerek addidas.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="FI"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="FI"><br />
Melihat wanita dengan beban beberapa tas adalah hal yang biasa bagiku, termasuk waktu kerja di Jakarta sebelumnya. Pemandangan biasa untuk melihat mereka membawa dua atau tiga tas. Tapi kalau sampai lima buah tas itu baru aku temukan di Kuala Lumpur ini. Di seorang wanita bernama Dhiva. Aku semakin tak habis pikir, karena jumlah dan jenis tas ini pun yang dia bawa kemarin. Ya &#8230; persis kemarin hari ketika sore hari aku berjumpa dengannya di lift ini juga sepulang dia bekerja.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="FI"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="FI"><br />
Seakan semua membawa pemikiranku ke arah kekuatan wanita menanggung beban hidup di era modern ini. Entah memang semuanya benar-benar diperlukan semuanya atau tidak mampunya mereka mengatur beban. Itu baru beban fisik yang terbawa &#8230; belum beban mental yang ada dalam diri mereka sendiri.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="FI"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="FI">”<em>Tata! What are thinking about</em>?” Pertanyaan Dhiva ditengah perjalanan lift membuyarkan lamunanku.<br />
”<em>Ehmmm &#8230; just thinking my assigment</em>” Aku berkelit, menutupi kenyataan pikiran melihat bebannya. Alasan yang cukup dia mengerti karena dia tahu kalau aku mahasiswa master di UM.<br />
”<em>Tomorrow is off-day. Will you free tonight?</em>” Aku menggelengkan kepalaku. Pertanda pikiranku langsung bersambung dengan tesis yang dratnya harus diserahkan ke supervisor besok.<br />
”<em>Okk &#8230; Let’s go to diner tonight then &#8230;!</em>” Ajakan dia yang langsung menghilang memburu mobilnya ketika pintu lift terbuka. Aku hanya tertegun. Tak sempat berkata lain untuk menolak ajakannya. Dan bagi Dhiva, ajakan itu sudah disanggupi olehku. Kesanggupan yang menjadi sebuah pencederaan sebuah persahabatan jika digagalkan.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="FI"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="FI"><br />
Aku baru sadar beberapa detik kemudian. Gelengan kepalaku bagi orang India adalah tanda iya berbeda dengan di Jakarta yang artinya tidak. Kesalahan yang kuperbuat tadi benar-benar dasar. Menempatkan kebiasaan bukan pada tempat yang tepat. Tidak menjunjung langit dimana bumi dipijak. Hasilnya sekarang, perasaanku yang terpijak rasa bingung.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="FI"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="FI"><br />
Aku berusaha tak peduli supaya tidak bingung. Yang penting aku pergi dulu ke restoran Sri Paandi. Restoran India kesukaanku. Restoran dimana hari ini kuharap mendapat cara penyelesaian yang terbaik untuk seorang Gadis India Muda yang bernama Dhiva.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="FI"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="FI"> </span></p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal"><span lang="FI">Kuala Lumpur, 01 Juli 2008<br />
Yang masih belajar hidup.</span></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/wirasasmita.wordpress.com/17/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/wirasasmita.wordpress.com/17/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/wirasasmita.wordpress.com/17/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/wirasasmita.wordpress.com/17/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/wirasasmita.wordpress.com/17/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/wirasasmita.wordpress.com/17/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/wirasasmita.wordpress.com/17/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/wirasasmita.wordpress.com/17/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/wirasasmita.wordpress.com/17/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/wirasasmita.wordpress.com/17/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/wirasasmita.wordpress.com/17/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/wirasasmita.wordpress.com/17/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/wirasasmita.wordpress.com/17/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/wirasasmita.wordpress.com/17/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/wirasasmita.wordpress.com/17/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/wirasasmita.wordpress.com/17/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=wirasasmita.wordpress.com&amp;blog=2385003&amp;post=17&amp;subd=wirasasmita&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://wirasasmita.wordpress.com/2008/07/02/renungan-kehidupan-gadis-muda-india/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/8608597a13ba37ecb6920e3714f48d80?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">wirasasmita</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>[Renungan Kehidupan] Khawatir Hati Di Ujung Senja</title>
		<link>http://wirasasmita.wordpress.com/2008/06/02/renungan-kehidupan-khawatir-hati-di-ujung-senja/</link>
		<comments>http://wirasasmita.wordpress.com/2008/06/02/renungan-kehidupan-khawatir-hati-di-ujung-senja/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 02 Jun 2008 10:35:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>wirasasmita</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://wirasasmita.wordpress.com/?p=16</guid>
		<description><![CDATA[”Ayah lamaaaa &#8230; Farih mau pergi sendiri ajaaaa!”   Aku kaget. Anak sekarang sudah mampu menyalahkan orang tuanya sendiri dengan tanpa tedeng aling-aling padahal umur Farih baru tujuh tahun. Jamanku dulu, jangankan untuk menyalahkan orang tuaku, hanya untuk berbicara mengutarakan sesuatu dengan berani menatap langsung pun sudah menjadi sebuah keberanian luar biasa. Memandang aneh mereka [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=wirasasmita.wordpress.com&amp;blog=2385003&amp;post=16&amp;subd=wirasasmita&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;"><em><span lang="SV">”Ayah lamaaaa &#8230; Farih mau pergi sendiri ajaaaa!”</span></em><span lang="SV"></span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span lang="SV"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span lang="SV"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">Aku kaget. Anak sekarang sudah mampu menyalahkan orang tuanya sendiri dengan tanpa tedeng aling-aling padahal umur Farih baru tujuh tahun. Jamanku dulu, jangankan untuk menyalahkan orang tuaku, hanya untuk berbicara mengutarakan sesuatu dengan berani menatap langsung pun sudah menjadi sebuah keberanian luar biasa. Memandang aneh mereka artinya seorang anak telah berbuat sesuatu yang terlalu berani dan definisinya adalah tidak sopan.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span lang="SV"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span lang="SV"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span lang="SV"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">Metode yang kuadopsi memang sangat demokratis untuk memberikan toleransi penuh sebuah ekspreasi natural potensi anak yang dimiliki. Semuanya dibiarkan untuk terpancar dalam perilaku dan ungkapan jiwa sebagaimana dunia anak itu berlangsung. Pada tataran perwujudan emosi dan keinginan itulah kemudian aku mencoba memainkan peran untuk menanamkan irama harmonis sebuah kehidupan. Pada tahap itulah mereka diberi arti baik buruknya sebuah perlaku sehingga mereka mampu mengerti dan menghayatinya sendiri. </span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span lang="SV"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span lang="SV"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span lang="SV"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">Itu Teori! Dan sore itu kenyataan di dunia nyata sangatlah berbeda bagaikan langit dan bumi.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span lang="SV"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span lang="SV"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span lang="SV"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">Langit Bandung baru saja berubah menjadi gelap dengan pulasan kuning keemasan di ufuk baratnya. Farih tiba-tiba menjadi beringas bagaikan seekor anak macan yang baru terlepas dari buaian induknya ke alam bebas yang sangat asing baginya. Anak sulungku yang manis bertukar menjadi sosok yang tidak bisa diajak sedikit bersabar. Seakan tiba-tiba menjadi sulit untuk menjadikan dia mengerti.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span lang="SV"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span lang="SV"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span lang="SV"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">Dalam benakku, waktu dimana terjadi titik pergantian siang dengan malam ini sangatlah mengkhawatirkan. Itulah produk nyata yang selalu terngiang dalam pikiranku ketika aku menjalani kehidupan masa anak-anakku di sebuah kampung kecil yang jauh dari keramaian kota. Tempat dimana sebuah dongeng pendidikan masyarakat yang mengeksploitasi gambaran menakutkan mahluk yang akan menculik dan membinasakan semua anak yang berani bermain dan berkeliaran di saat malam datang.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span lang="SV"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span lang="SV"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><a name="OLE_LINK1"><span lang="SV"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">Sebuah pola penanaman kedisiplinan yang bersifat result oriented yang hanya melihat kepatuhan sebagai hasil akhir. Mungkin kepatuhan ini sangat cocok untuk memaksa anak tidak berkeliaran di luar rumah. Tapi dalam proses menciptakan kepatuhan itu yang bermasalah. Sangat mengunci kreativitas dan menabrak pola pikir logis seperti jaman sekarang. Jaman dulu, ketika nalar akal belum diekploitasi benar, mungkin sangat wajar. Ditambah dengan sistem penanaman kekuasaan imprelis Balanda yang selalu menggunakan metode refresive, mitos dongen menakutkan seperti itu pun semakin tumbuh subur di tanah pemikiran orang tua dulu. </span></span></span></a></p>
<p> </p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span lang="SV"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span lang="SV"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span lang="SV"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">Aku bukan tidak akan mengantar dia pergi ke tempat yang diteriakan ketika aku di kamar mandi itu. Namun aku harus membersihkan badanku terlebih dahulu dan mengganti bajuku yang sudah mulai kotor sehabis bermain dengannya dan Faiz di sore itu. Saat yang menjadi giliranku bermain bersama sementara Bunda mereka pergi bertugas jaga pada jam sore di sebuah klinik pengobatan. Dan aku hanya memintanya sedikit menunggu.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span lang="SV"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span lang="SV"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span lang="SV"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">Menunggu bagi Farih bagaikan menjadi sesuatu yang menyiksa. Permintaan menunggu bagaikan jarum yang menusuk seluruh permukaan tubuhnya. Kesabaran seakan menjadi sembilu tajam yang mengiris-ngiris keinginan untuk segera pergi yang meluap-luapan. Dan tiba-tiba dia pun terlihat meloncat dalam hitungan detik ke luar pintu depan terus melesat melewati pintu gerbang yang memang belum dikunci lagi setelah mereka tadi bermain di lapangan yang ada di seberang rumah. </span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span lang="SV"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span lang="SV"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span lang="SV"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">Aku terperangah. Terkejut karena seakan melihat titisan diri saya sendiri yang sangat sering tidak sabar untuk meraih sesuatu yang diimpikan dengan rintangan apapun. Aku selalu meloncat tinggi untuk berusaha menggapaikan. Sekarangan karakter itu tiba-tiba juga menempel lekat di dalam diri Farih. Dan lebih terkejut lagi karena Farih begitu cepat menghilang di bawah redupnya langit di awal malam. Keterkejutan yang disemangati oleh naluri kekhawatiran seorang ayah. Ketakutan kehilangan anak sulungnya ditelan ganasnya kegelapan malam. </span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span lang="SV"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span lang="SV"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span lang="SV"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">Belum rapi kaos berkerah itu kukenakan namun aku harus segera melemparkan badanku melawati pintu yang sesaat lalu dilewati Farih. Kuikuti perasaan khawatirku yang telah berlari beberapa langkah di depanku untuk mencari kepastian Farih-ku<span>  </span>aman keberadaannya mengikuti keinginannya yang sudah tidak terbendung. Dia selamat tidak seekor binatang pun yang mampu menyentuhnya. Ya &#8230; Farih harus segera kususul!</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span lang="SV"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span lang="SV"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span lang="SV"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">Aku melewatkan kakiku di pintu gerbang depan sambil secara refleks kuraih handle pintu untuk kukuncikan. Namun belum pun pintu itu terkunci, sebuah panggilan terdengar dengan nyaringnya &#8230;</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span lang="SV"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><em><span lang="SV"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"> </span></span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><em><span lang="SV"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">”Ayah! Faiz ikuuut &#8230;”</span></span></span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><em><span lang="SV"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">”Tunggu di rumah aja!”</span></span></span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><em><span lang="SV"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">”Ga mau, ayah!”</span></span></span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><em><span lang="SV"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">”Faiz temenin Anin di rumah, ya!”</span></span></span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><em><span lang="SV"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">”Ga mauuu &#8230; Kakak boleh pergi, kenapa Faiz ga boleh?”</span></span></span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><em><span lang="SV"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"> </span></span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;"><span lang="SV">Tambahan beban! Hanya itu yang terpikir olehku saat itu. Belum lagi bayangan Farih pun terkejar, sekarang si kecil Faiz yang kusangka begitu menikmati permainannya dengan mobil Ferrari merah kecil akan mau tinggal di rumah bersama neneknya, ternyata ingin ikut. </span><span lang="FI">Kuturuti kemauannya, beban perjalananku semakin berat. Kutolak keinginannya, tangisan tiada henti akan hadir merobek keheningan rumah di awal malam itu dan akan mengganggu kekhusyuan ibadah neneknya.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span lang="FI"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><em><span lang="SV"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"> </span></span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><em><span lang="SV"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">”Ayooo&#8230; kalau mau ikut!”</span></span></span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span lang="FI"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span lang="FI"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">Kusambar tangan si kecil Faiz yang tanpa setahuku sudah berdiri di balik pagar besi itu. Kutarik ke luar agar tidak menghalangi pintu itu kututup. </span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span lang="FI"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span lang="FI"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span lang="FI"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">Kulangkahkan kakiku segara setelah terkunci untuk segera mengejar bayangan si sulung Farih yang sudah tidak kelihatan di ujung pandangan. Kaki pun harus semakin cepat melangkah mengejar larinya bayangan yang menjadi pangkal kekhawatiran diriku. Kekhawatiran akan terjadi sesuatu kepada anak yang kusayangi. Kekhawatiran yang semakin berwujud kepanikan.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span lang="FI"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span lang="FI"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><em><span lang="FI"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">”Ayahhh &#8230;”</span></span></span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span lang="FI"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span lang="FI"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">Anakku yang satu ini pun hampir kutinggalkan. Aku begitu lupa untuk berpikir dia masih begitu kecil untuk mengimbangi langkah langkah tergesa-gesaku. </span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span lang="FI"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span lang="FI"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;"><em><span lang="FI">”Ayah, Faiz gak kuat jalan ..”</span></em><span lang="FI"></span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span lang="FI"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span lang="FI"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">Dari raut mukanya di remang-remang sisa sinar matahari terbenam itu kubaca keinginan dari lubuk hatinya yang sangat akan menambahkan beban fisikku. Dia ingin digendong. Ingin dibopong di perjalanan beratku. Dia memang benar, membiarkan dia berjalan sendiri artinya membuat waktu perjalanan mengejar kakak-nya menjadi sepuluh kali lebh lama. Membopongnya akan menambah beban badanku bertambah berat namun langkahku tidak akan terlalu lambat. </span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span lang="FI"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span lang="FI"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span lang="FI"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">Kupanggul Faiz di pundakku. Itulah akhir segala pertimbangan emosi dan rasional yang kurenungkan dalam hitungan detik. Beban beratnya pun tidak lagi kurasakan. Aku berlari dan terus berlari menembus cahaya gelap awal malam. Lebih baik dari pada semakin terlambat kumenyusul kakaknya yang sudah semakin jauh. </span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span lang="FI"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span lang="FI"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span lang="FI"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">Jarak yang kutempuh baru sekitar seratus meter, masih ada sejarak itu yang harus kutempuh. Namun bebanku rasanya semakin berat, jauh lebih berat dari hari-hari biasa melewati jalan itu. Berat pikiran yang dibalut kekhawatir keselamatan si sulung Farih yang sudah melesat jauh lebih dahulu. Berat beban fisik oleh si kecil Faiz yang dengan asyiknya memainkan ferrari merah di atas kepalaku.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span lang="FI"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span lang="FI"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span lang="FI"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">Cahaya langit bertambah gelap. Pulasan kuning emang di ufuk baratnya pun semakin mengecil dan sebentar lagi menghilang pertanda gelapnya malam akan semakin dekat. Saat ini bukan mitos mahluk menyeramkan yang akan mengganggu atau menyembukan anak sulungku, namun justru tangan-tangan jahil mahluk Tuhan yang bernama manusia yang kutakutkan. Anakku bukan orang terkenal atau anak seorang milyarder, namun di jaman yang sudah serba carut marut ini keisengan oranglah yang kutakutkan. Takut anak manisku dipermainkan atau bahkan sampai hilang keberadaannya. Kekhawatiran hati diujung gelapnya langit timur.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span lang="FI"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span lang="FI"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span lang="PT-BR"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">Langit semakin gelap, udara malam mulai dingin. Cahaya temaram lampu-lampu listrik pun mulai berkelip-kelip menyinari aliran air kotor di sungai kecil yang ada di sebelah kiri jalanku. Aliran air yang lirih menambah sepinya malam dan mengiris kekhawatiranku semakin dalam. Namun aku tetap berjalan, berjalan jauh menuju tempat yang akan memberi kepastian.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span lang="PT-BR"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span lang="PT-BR"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span lang="PT-BR"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">Kusembrangi jembatan kecil tua yang terbujur kaku di samping GOR di tepi sungai kecil itu. Kaki pun telah melalui pijakan ujung jembatan itu. Tinggal kusembrangi jalan selebar 4 meter di depannya untuk semakin dekat dengan tempat yang diteriakan Farih tadi. Semakin dekat tempat itu kutuju namun semakin cepat detakan jantung rasa kekhawatiranku. Takut Farih tidak ada, takut dia malah pergi jauh ke tempat lain.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span lang="PT-BR"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span lang="PT-BR"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span lang="FI"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">Pinjakan pertama tangga miring enam puluh derajat itu terasa semakin berat. Berat oleh si kecil Faiz yang semakin asyik dengan mobil mainnya, semakin berat dengan kekhawatiran akan ketidakberadaan kakaknya. Anak tangga yang hanya tidak lebih dari sepuluh pijakan pun tiba-tiba terasa menjadi ribuan jumlahnya. Ketika ujung mataku menangkap keberadaan pintu yang terbuka lebar di mesjid itu di pijakan anak tangga yang ada di tengah pun belum menghilangkan kekhawatiranku yang sangat menyesakkan nafas. Ya &#8230; mesjid inilah tempat yang Farih teriakan akan dituju untuk bersembahyang berjamaah.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span lang="FI"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span lang="FI"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span lang="FI"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">Kuberjalan semakin dekat hingga mulut pintu mesjid setelah kulepaskan alas kaki. Terlihat Farih berdiri dengan khusyunya di ujung kanan barisan pertama shalat berjamaahku. Hatiku menjadi sangat tenang. Kugabungkan diriku di barisan ketiga jamaah sembahyang itu. Sementara Faiz terus asyik dengan mainan mobilnya walaupun beberap detik sempat melakukan gerakan mulai sembahyang.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span lang="FI"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span lang="FI"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span lang="PT-BR"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">Kuala Lumpur, IPS-UM ku tercinta</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span lang="PT-BR"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">01 Juni 2008</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span lang="PT-BR"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span lang="PT-BR"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"> </span></span></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/wirasasmita.wordpress.com/16/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/wirasasmita.wordpress.com/16/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/wirasasmita.wordpress.com/16/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/wirasasmita.wordpress.com/16/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/wirasasmita.wordpress.com/16/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/wirasasmita.wordpress.com/16/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/wirasasmita.wordpress.com/16/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/wirasasmita.wordpress.com/16/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/wirasasmita.wordpress.com/16/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/wirasasmita.wordpress.com/16/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/wirasasmita.wordpress.com/16/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/wirasasmita.wordpress.com/16/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/wirasasmita.wordpress.com/16/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/wirasasmita.wordpress.com/16/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/wirasasmita.wordpress.com/16/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/wirasasmita.wordpress.com/16/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=wirasasmita.wordpress.com&amp;blog=2385003&amp;post=16&amp;subd=wirasasmita&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://wirasasmita.wordpress.com/2008/06/02/renungan-kehidupan-khawatir-hati-di-ujung-senja/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/8608597a13ba37ecb6920e3714f48d80?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">wirasasmita</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>[Renungan Kehidupan] Tak Sekedar Ayah-Ayat Cinta</title>
		<link>http://wirasasmita.wordpress.com/2008/05/31/renungan-kehidupan-tak-sekedar-ayah-ayat-cinta/</link>
		<comments>http://wirasasmita.wordpress.com/2008/05/31/renungan-kehidupan-tak-sekedar-ayah-ayat-cinta/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 31 May 2008 04:10:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator>wirasasmita</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://wirasasmita.wordpress.com/?p=14</guid>
		<description><![CDATA[Jari-jarinya yang lentik terus menunjuk lagu Ayat-Ayat Cinta untuk diputar lagi di iTunes laptop-ku saat itu. Padahal lagu itu sudah bersenandung lebih dari lima kali, terus berulang dan dia pun tanpa bosan terus mendengarkannya. Setiap selesai Rossa menyanyikan lagu tersebut, dia pun kembali memintaku untuk mengulang untaian iramanya dari awal. Rasa cintaku kepadanya memaksaku untuk [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=wirasasmita.wordpress.com&amp;blog=2385003&amp;post=14&amp;subd=wirasasmita&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;">Jari-jarinya yang lentik terus menunjuk lagu Ayat-Ayat Cinta untuk diputar lagi di iTunes laptop-ku saat itu. Padahal lagu itu sudah bersenandung lebih dari lima kali, terus berulang dan dia pun tanpa bosan terus mendengarkannya. Setiap selesai Rossa menyanyikan lagu tersebut, dia pun kembali memintaku untuk mengulang untaian iramanya dari awal. Rasa cintaku kepadanya memaksaku untuk memenuhi rasa dahaga alunan musiknya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;">Lagu Ayat-Ayat Cinta yang dia pilih serasa menjadi wakil ungkapan yang terjadi diantara aku dengannya. Puncak air kerinduan yang meluap-luap bagai mencari jalan penyaluran setelah sekian waktu tidak tertemukan. Mencari titik temu pas kekangenan rasa seirama makna dalam lagu itu, bahkan lebih jauh dari sekedar Ayat-Ayat Cinta.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;">Dengan penuh manja dia sandarkan kepalanya di bagian depan dada kiriku. Tercium wangi alami rambut hitam indah bergelombangnya. Kulingkarkan tanganku di pinggangnya yang tidak terlalu besar dengan hangat, dia pun memandangku<span>  </span>dengan senyum penuh keriangan. Senyum manja yang sungguh menggemaskan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;">“<em>Makasih, Ayah!</em>” </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;">Ungkapan kata yang menyentakku. Sungguh tak menyangka kata-kata itu akan keluar dari mulutnya, mulut mungil seorang Faiz baru berumur 3,5 tahun itu. Kata-kata yang menyentuh hati perasaan dalamku. Kata-kata yang mengetuk naluri logika kebanggaanku sebagai seorang ayah. Kata-kata yang tak kusangka akan keluar untuk mengungkan rasa senang seorang Faiz yang telah dipenuhi keinginannya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;">Kupandang anak mungil yang telah Tuhan alirkan keajaiban kehidupan di dalam dirinya setelah beberapa menit tenggelam di Februari 2006 itu. Terlihat secara fisik tubuhnya pun semakin besar. Proses alami yang akan dijalani oleh mahluk Tuhan dengan normal. Dia semakin tumbuh mengisi relung kebanggaan diriku untuk menjadi anak yang penuh harapan kehidupan. Sebagaimana harapan dan motivasi keajaiban kehidupannya yang tidak mampu dibandingkan dengan untaian berjuta-juta kata. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;"><span lang="FI">Dari sisi emosi pun aku sungguh mengaguminya. </span><span lang="SV">Perubahan yang sangat nyata sungguh terasa. Dalam batasan dunianya, Faiz sekarang sudah lebih mampu mengontrol diri dan perilakunya. Hari kemarin, aku tersenyum puas melihat dia begitu konsekwensi atas kata-katanya. Di sebuah steak house di jalan Setiabudi, dia menepati janjinya mengembalikan botol <em>fruit tea</em> setelah hanya benar-benar mencicipi tegukannya seperti yang dimintanya. Padahal biasanya, perlu usaha keras untuk memaksa dia untuk konsekwen dengan kata-katanya.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span lang="SV"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span lang="SV"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">Faiz yang sebelumnya selalu harus selalu duduk di kursi depan, saat ini sudah mulai dapat menerima keadaan untuk harus duduk di kursi belakang. Kalau dulu cukup kebingungan membujuknya supaya mendukung kemudahanku untuk mengatur tempat duduk jika banyak orang yang akan ikut ke dalam mobil kecilku, sekarang dia dapat diminta dengan mudah untu pindah dengan sendirinya. Faiz yang sudah mampu mengatur rasa dan keinginannya, termasuk memesan <em>kaiatsu sushi</em> di hoka-hoka bento, salah satu restoran kesenangannya.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span lang="SV"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span lang="SV"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">Aku memang sengaja duduk di kursi belakang waktu itu. Hanya untuk sekedar bercengkrama dengan Faiz juga kakaknya, Farih sepanjang perjalanan dari Rajapolah ke Limbangan serta sambil beristirahat. Walaupun mungkin sedikit bernuansi egois karena meminta Bunda mereka untuk menyetir dan duduk sendiri di depan. Aku suami kurang ajar? Mudah-mudahan saja bukan, karena aku ingin sekedar merasakan kebersamaan dengan anak-anakku yang masih kutinggal jauh di Bandung.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span lang="SV"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span lang="SV"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">Bunda mereka selalu bersama Farih dan Faiz. Banyak hal yang dilalui bersama dan diamati olehnya, walaupun agak sedikit menunjukkan keegoisanku tidak mampu membantu perjuangan Bunda merawatnya sehari-hari. Perjuangan seorang bunda yang begitu berat namun selalu berujung dengan kebahagiaan dan kebanggaan. Kebahagiaan yang lebih dari sekedar sebuah Ayat-Ayat Cinta. Bagai obrolan dengan Bunda mereka di YM kemarin:</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span lang="SV"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0 19.45pt 0 0.5in;"><em><span lang="SV"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">”&#8230; hari ini nda terharu”</span></span></span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0 19.45pt 0 0.5in;"><em><span lang="SV"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">“ knp?”</span></span></span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0 19.45pt 0 0.5in;"><em><span lang="SV"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">“ tiba2 pulang sekolah faiz bilang:<span>  </span>faiz lagi sedih bunda&#8221;.</span></span></span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0 19.45pt 0 0.5in;"><em><span lang="SV"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">“knp faiz sedih?”</span></span></span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0 19.45pt 0 0.5in;"><em><span lang="SV"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">“dia bilang: tadi faiz nangis disekolah, rebutan jungkitan ma ica <span> </span>kecil..”</span></span></span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0 19.45pt 0 0.5in;"><em><span lang="SV"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">”terus?”</span></span></span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0 19.45pt 0 0.5in;"><em><span lang="SV"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">”hebat aj, dia bisa mengungkapkan emosinya dan nda dipercaya untuk dengerin.”</span></span></span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0 19.45pt 0 0;"><span lang="SV"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0 19.45pt 0 0;"><span lang="SV"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">Bunda Faiz memang benar kalau Faiz itu hebat! </span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0 19.45pt 0 0;"><span lang="SV"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0 19.45pt 0 0;"><span lang="SV"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">Anak sekecil itu sudah mampu menungkapkan rasa emosinya. Faiz mempunyai keinginan untuk bercerita tentang apa yang dia rasakan. Padahal bagiku di usia seperti dia, itu merupakan hal yang tidak pernah dilakukan. Sekarang Faiz sudah mampu melakukannya. Sudah mampu mengurai rasa dan emosi dia di rangkulan kasih sayang Bundanya. Dan, dia pun sudah mampu memilih kepada siapa cerita rasanya dia percayakan.<span>  </span></span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0 19.45pt 0 0;"><span lang="SV"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0 19.45pt 0 0;"><span lang="SV"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0 19.45pt 0 0;"><span lang="SV"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">Perpustakaan IPS-UM</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0 19.45pt 0 0;"><span lang="SV"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">28 Mei 2008</span></span></span></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/wirasasmita.wordpress.com/14/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/wirasasmita.wordpress.com/14/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/wirasasmita.wordpress.com/14/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/wirasasmita.wordpress.com/14/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/wirasasmita.wordpress.com/14/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/wirasasmita.wordpress.com/14/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/wirasasmita.wordpress.com/14/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/wirasasmita.wordpress.com/14/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/wirasasmita.wordpress.com/14/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/wirasasmita.wordpress.com/14/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/wirasasmita.wordpress.com/14/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/wirasasmita.wordpress.com/14/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/wirasasmita.wordpress.com/14/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/wirasasmita.wordpress.com/14/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/wirasasmita.wordpress.com/14/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/wirasasmita.wordpress.com/14/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=wirasasmita.wordpress.com&amp;blog=2385003&amp;post=14&amp;subd=wirasasmita&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://wirasasmita.wordpress.com/2008/05/31/renungan-kehidupan-tak-sekedar-ayah-ayat-cinta/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/8608597a13ba37ecb6920e3714f48d80?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">wirasasmita</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>[Renungan Kehidupan] Imam Mudaku Sakit</title>
		<link>http://wirasasmita.wordpress.com/2008/05/31/renungan-kehidupan-imam-mudaku-sakit/</link>
		<comments>http://wirasasmita.wordpress.com/2008/05/31/renungan-kehidupan-imam-mudaku-sakit/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 31 May 2008 04:09:37 +0000</pubDate>
		<dc:creator>wirasasmita</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://wirasasmita.wordpress.com/?p=13</guid>
		<description><![CDATA[”Tungguinnn!”   Tanganku yang mulai terangkat untuk memulai menjalankan tugas mengimami shalat subuh mendadak berhenti oleh teriakan suara Farih. Kutoleh Bunda Farih yang telah selesai qomat sebelumnya pun sudah siap akan memulai prosesi ibadah di awal pagi itu, sebagaimana Anin, nenek Farih, yang sudah dalam keadaan yang sama. Semua sudah siap dalam posisi berjamaah di [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=wirasasmita.wordpress.com&amp;blog=2385003&amp;post=13&amp;subd=wirasasmita&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><em><span lang="FI"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">”Tungguinnn!”</span></span></span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0 19.45pt 0 0;"><em><span lang="FI"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"> </span></span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0 19.45pt 0 0;"><span lang="FI"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">Tanganku yang mulai terangkat untuk memulai menjalankan tugas mengimami shalat subuh mendadak berhenti oleh teriakan suara Farih. Kutoleh Bunda Farih yang telah selesai qomat sebelumnya pun sudah siap akan memulai prosesi ibadah di awal pagi itu, sebagaimana Anin, nenek Farih, yang sudah dalam keadaan yang sama. Semua sudah siap dalam posisi berjamaah di ruang tengah di depan pintu kamar dimana Farih tidur.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0 19.45pt 0 0;"><span lang="FI"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0 19.45pt 0 0;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;"><em><span lang="FI">”Iyaaaa &#8230; ditungguin. Cepat bangun!”</span></em></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0 19.45pt 0 0;"><span lang="FI"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0 19.45pt 0 0;"><span lang="SV"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">Jawaban Bunda Farih dengan cepatnya. Sangat sigap, begitu naluri seorang ibu kepada anak kesayangannya. Menunjukkan adanya jalinan ikatan kasih yang begitu mendalam dalam satu kebiasaan bersama yang sering dilakukan. Kebiasaan terbaru Farih dan Bunda yang selalu mengejar hikmah shalat berjamaah subuh di mesjid komplek. Mesjid dimana rajutan kasih awal rumah tanggal Bunda Farih denganku dimulai ketika kulafalkan ijab qobul pernikahan dengan almarhum kakeknya. Dan, sekarang Bunda Farih semakin bersemangat untuk semakin memperindah rajutan kasih yang sudah semakin lebar dengan Farih salah satu di dalamnya.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0 19.45pt 0 0;"><span lang="SV"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0 19.45pt 0 0;"><span lang="SV"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">Bunda sering bercerita kalau Farih-lah yang rajin menemaninya menembus halangan dinginnya udara dan tabir sejuknya embun menuju mesjid setiap pagi. Farih yang kadang terbangun lebih dulu dan mengingatkan Bunda-nya kalau waktu subuh akan segera datang. Di mata Bunda-nya, Farih tumbuh menjadi bagai api semangat yang terus mengelorakan langkah sebuah do’a kehidupan.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0 19.45pt 0 0;"><span lang="SV"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0 19.45pt 0 0;"><em><span lang="SV"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">”Bentar &#8230; Kaka wudlu dulu”</span></span></span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0 19.45pt 0 0;"><em><span lang="SV"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"> </span></span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0 19.45pt 0 0;"><span lang="SV"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">Dia memang suka menyebut namanya Kakak. Sesuai dengan nama panggilan yang kita berikan kepadanya sebagai anak tertua yang terlahir di tengah-tengak aku dengan bundanya. Nama yang sebenarnya sedikit membingungkan ketika semua anggota keluarga kecilku tinggal di Kuala Lumpur karena di Malaysia Kakak adalah panggilan untuk anak perempuan. Tapi kegamangan itu pun bukanlah penghalangan keberlanjutan panggilan kasih sayang ke Farih.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0 19.45pt 0 0;"><span lang="SV"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0 19.45pt 0 0;"><span lang="SV"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">Farih adalah anak terbesarku yang semakin besar dan semakin membanggakanku. Di kepulanganku kali ini, ada perkembangan yang cukup mengagumkan. Dia sudah hafal bacaan shalat. Dia yang pinter, aku yang merasa bangga. Begitu bangga mendengarkan bacaannya walaupun masih bacaannya yang keras tanpa membedakan mana yang harus dipelankan dan mana yang harus dikeraskan. Bagimanapun, Farih memang semakin membanggakanku.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0 19.45pt 0 0;"><span lang="SV"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0 19.45pt 0 0;"><span lang="SV"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">Kebanggaanku itu harus bertempur dengan dogmaku. Ada efek kebanggaan yang harus kuhadapi dengan sangat hati-hati ketika sekarang Farih ingin selalu menjadi Iman shalat diantara keluarga kecilku. Dan, resiko penolakan atas kemauannya pun tidak tanggung-tanggung, tidak mau shalat! Aku tolak, anakku menjadi anrkis menjadi anak anti shalat. Aku turuti, aku berhadapan dengan aturan pasti dan gunjingan sosial. Dan hal itu sudah terbukti kemarin di mesjid kaket buyutnya di Limbangan, ketika kutempatkan sejadah dia sejengkal di depanku dan bundanya, semua orang yang shalat berjamaah memandang dengan berbagai tatapan. Ada yang menatap kagum melihat anak kecil yang semangat shalat, ada yang menatap khawatir karena kumembiarkan dia berlaku melanggar sebuah aturan.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0 19.45pt 0 0;"><span lang="SV"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0 19.45pt 0 0;"><span lang="SV"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">Aku memberinya kesempatan bukan untuk mengajari Farih melanggar aturan. Hanya belajar dari pola perkembangan dia yang selalu mencapai titik pengertian diri di masa Farih sudah memahaminya dan Farih akan sadar dengan sendirinya. Melawan hawa keinginannya saat ini, dalam pikiranku, berarti membunuh hasrat keinginan dia untuk maju dan menunjukkan eksistensi dirinya.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0 19.45pt 0 0;"><span lang="SV"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0 19.45pt 0 0;"><span lang="SV"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">Dan pagi ini pun saya sudah membayangkan dia akan meminta kembali dirinya dijadikan imam dalam shalat subuh di pagi ini. Aku pun telah siap dengan strategi untuk meletakkan sajadahnya sejengkal lebih didepanku.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0 19.45pt 0 0;"><span lang="SV"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0 19.45pt 0 0;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;"><span lang="SV">Suara Farih turun dari tempat tidur terdengar cukup jelas di keheningan pagi itu. Beberapa saat kemudian pun terdengar kucuran air bergemericik di kamar mandi dan dalam perkiraanku Farih sudah selesai mengambil air wudlu-nya. </span><span lang="PT-BR">Namun setelah ditunggu beberapa saat, tetap saja dia tidak muncul.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0 19.45pt 0 0;"><span lang="PT-BR"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0 19.45pt 0 0;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;"><em><span lang="SV">“Kaka sudah belum? Ditinggalin nih &#8230;”</span></em><span lang="SV"> Aku memastikan akan Farih segera keluar dari kamar mandi namun dengan cara yang agak berbau penekanan dan ancaman. Gaya imperialis kuno yang digunakan karena desakan waktu, takut waktu shalat semakin habis. Padahal sungguh masih cukup waktu dan aku sebenarnya tidak perlu menodai semangat bangu pagi dia untuk menunaikan kewajiban itu.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0 19.45pt 0 0;"><span lang="SV"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">Akhirnya Farih muncul dengan lunglai dan langkahnya agak diseret.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0 19.45pt 0 0;"><span lang="SV"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0 19.45pt 0 0;"><em><span lang="SV"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">”Bunda &#8230; Farih jatuh dan sekarang gak bisa berdiri”</span></span></span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0 19.45pt 0 0;"><em><span lang="SV"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">”Kenapa?”</span></span></span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0 19.45pt 0 0;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;"><em><span lang="SV">”Gak tau &#8230; tadi di kamar mandi Kaka tiba-tiba jatuh, gak kuat bendirrriiii &#8230;uhh &#8230; huu &#8230; huu ”</span></em><span lang="SV"> </span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0 19.45pt 0 0;"><span lang="SV"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0 19.45pt 0 0;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;"><span lang="IT">Farih mulai bicara bercampur menangis. </span><span lang="SV">Bundanya mulai mengeluarkan pertanyaan dengan naluri dokternya.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span lang="SV"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><em><span lang="SV"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">“Apa yang Kakak rasakan sakit?”</span></span></span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><em><span lang="SV"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">“Ga tau, bunda!”</span></span></span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><em><span lang="SV"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">”Waktu mau tidur Kakak sudah merasa sakit?”</span></span></span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><em><span lang="SV"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">”Belum &#8230; terasa pas bangun tadi aja &#8230;”</span></span></span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><em><span lang="SV"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">”Kakak pusing?”</span></span></span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><em><span lang="SV"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">”Iya &#8230; dikit &#8230;”</span></span></span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;"><em><span lang="SV">“Ya &#8230; udah. Kaka shalatnya sambil duduk aja, ya! Kakak kecapaian abis pergi ke Garut, Tasik ama Limbangan aja”</span></em><span lang="SV"><span>                                                                        </span></span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span lang="SV"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span lang="SV"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">Akhirnya Farih hanya mampu shalat subuh duduk terisak.. Tanpa mampu berdiri dengan gagahnya apalagi meminta dirinya dijadikan imam. Sangat jauh dari bayanganku semula, jagoanku hanya duduk dengan kaki terjulur ke depan. Aku hanya berfikir Farih kecapaian setelah perjalanan jauh ke rumah neneknya di Tasikmalaya. Aku memang yang salah, memaksakan Farih mengikuti rencana perjalananku tanpa memikirkan akibat seperti yang sekarang diderita Farih.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span lang="SV"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span lang="SV"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">Farih ternyata memang benar-benar sakit, dia kelihatan kesakitan kalau berjalan. Aku sedih dan kesedihanku bertambah karena hari ini adalah hari kepulanganku ke Kuala Lumpur. Di Husen Sastranegara pun hanya tawa ceria Faiz yang hadir, Farih hanya duduk termenung di mobil. Dia menangis merasakan kesakitannya, hatiku menangis merasakan penderitaannya. Dan hatiku semakin menangis ketika membaca sms yang dikirim Bundanya ketika sampai di Kuala Lumpur &#8230;</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span lang="SV"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0 0 0 0.5in;"><em><span lang="SV"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">”Yah! Ternyata Farih terkena gejala Chikungunya &#8230;”</span></span></span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span lang="SV"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span lang="SV"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">Oh &#8230; My God! Selamatkan Imam baru dan salah satu harapan hidupku &#8230; Aku pun sangat percaya Bundanya yang dokter akan mampu mengurusnya &#8230;</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span lang="SV"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span lang="SV"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span lang="SV"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">Kuala Lumpur,</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span lang="SV"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">27 Mei 2008</span></span></span></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/wirasasmita.wordpress.com/13/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/wirasasmita.wordpress.com/13/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/wirasasmita.wordpress.com/13/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/wirasasmita.wordpress.com/13/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/wirasasmita.wordpress.com/13/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/wirasasmita.wordpress.com/13/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/wirasasmita.wordpress.com/13/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/wirasasmita.wordpress.com/13/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/wirasasmita.wordpress.com/13/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/wirasasmita.wordpress.com/13/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/wirasasmita.wordpress.com/13/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/wirasasmita.wordpress.com/13/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/wirasasmita.wordpress.com/13/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/wirasasmita.wordpress.com/13/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/wirasasmita.wordpress.com/13/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/wirasasmita.wordpress.com/13/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=wirasasmita.wordpress.com&amp;blog=2385003&amp;post=13&amp;subd=wirasasmita&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://wirasasmita.wordpress.com/2008/05/31/renungan-kehidupan-imam-mudaku-sakit/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/8608597a13ba37ecb6920e3714f48d80?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">wirasasmita</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>[Renungan Kehidupan] Ma’afkanku, Adik!</title>
		<link>http://wirasasmita.wordpress.com/2008/05/08/renungan-kehidupan-ma%e2%80%99afkanku-adik/</link>
		<comments>http://wirasasmita.wordpress.com/2008/05/08/renungan-kehidupan-ma%e2%80%99afkanku-adik/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 08 May 2008 02:59:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator>wirasasmita</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://wirasasmita.wordpress.com/?p=12</guid>
		<description><![CDATA[Aku terbiasa hidup di lingkungan yang sangat heterogen, baik dari sisi suku, rasa ataupun agama. Dari sikap dan gaya hidup pun demikian. Di Bandung sewaktu kuliah, di Jakarta sewaktu bekerja, ataupun sekarang di KL yang lebih-lebih sangat heterogen. Di Kuala Lumpur malah kubertemu dengan orang dari ras yang sangat bervariasi. Dari sisi agama pun demikian, [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=wirasasmita.wordpress.com&amp;blog=2385003&amp;post=12&amp;subd=wirasasmita&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">Aku terbiasa hidup di lingkungan yang sangat heterogen, baik dari sisi suku, rasa ataupun agama. Dari sikap dan gaya hidup pun demikian. Di Bandung sewaktu kuliah, di Jakarta sewaktu bekerja, ataupun sekarang di KL yang lebih-lebih sangat heterogen. <span>Di Kuala Lumpur malah kubertemu dengan orang dari ras yang sangat bervariasi. Dari sisi agama pun demikian, di KL inilah aku bertemu dengan sahabat yang jelas mengaku tidak memeluk agama apapun. Hanya bermodal berlaku baik. Itu Cukup.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">Heterogenitas inilah yang juga sangat berpengaruh kepada sikapku. Sikap yang harus terus diperlihatkan bahwa aku benar-benar harus memperlakukan semua sahabatku dengan penuh segala rasa hormat dan pernghargaan yang sebenarnya. Cara universal yang biasa kulakukan selama ini adalah dengan cara bercanda atau bertukar cerita hal-hal pribadi. Sering dari candaan atau cerita itu muncul sebuah keakraban. Keakraban lebih dengan sahabat yang selama ini sudah sering berkomunikasi ataupun keakraban dengan sahabat yang baru dijumpai. Cara yang selama ini memang kulakukan, dan pagi ini juga. Mengharap sebuah keakraban di pagi hari yang begitu cerah.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">Namun rasanya langit menjadi gelap ketika kecerobohan pertanyaan bernuansa sara kuungkapkan. Aku memang tidak pantas menanyakan sesuatu yang sangat sensitif bagi seseorang, sahabat dekat sekalipun. Seharusnya aku berpikir lebih jauh dan tidak lantas bersikap sama seperti aku ditanya hal sama oleh sahabat-sahabatku yang lain. Memang, aku tidak pernah marah atau reaktif ketika sahabat yang menanyakan hal pribadi dan sara-ku. Tetapi bukan sebuah jaminan pasti untukku dapat menganggap atau memperlakukan hal yang sama kepada yang lain. Apalagi berhubungan dengan kepercayaan dalam sebuah kehidupan, meskipun kepada seseorang yang sudah dianggap deket atau adik sekalipun! Itu suatu kesalahan.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">Yang jelas mengotori sinar pagi seseorang yang sedang mulai menjalani hari dengan penuh keceriaan adalah juga suatu kesalahan. Dan Kesalahan itu telah kuperbuat. Telah kulakukan dengan sangat ceroboh pagi ini. Sebuah kesalahan yang sebenarnya tidak perlu! Kesalahan yang hanya berdasarkan keyakinan adanya sebuah keakraban yang mungkin sebenarnya terlalu percaya diri kumerasakannya.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;"><span>Ma’afkanku, Adik! </span>Aku memang harus banyak belajar hidup dari kedewasaanmu. Dan mungkin aku sudah tidak pantas lagi menjadi kakakmu.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">Kuala Lumpur, 08 Maret 2008</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;">Note:</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;">Permohonan ma’af yang seikhlasnya dari yang sudah kubuat tersinggung pagi ini.</span></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/wirasasmita.wordpress.com/12/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/wirasasmita.wordpress.com/12/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/wirasasmita.wordpress.com/12/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/wirasasmita.wordpress.com/12/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/wirasasmita.wordpress.com/12/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/wirasasmita.wordpress.com/12/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/wirasasmita.wordpress.com/12/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/wirasasmita.wordpress.com/12/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/wirasasmita.wordpress.com/12/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/wirasasmita.wordpress.com/12/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/wirasasmita.wordpress.com/12/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/wirasasmita.wordpress.com/12/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/wirasasmita.wordpress.com/12/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/wirasasmita.wordpress.com/12/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/wirasasmita.wordpress.com/12/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/wirasasmita.wordpress.com/12/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=wirasasmita.wordpress.com&amp;blog=2385003&amp;post=12&amp;subd=wirasasmita&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://wirasasmita.wordpress.com/2008/05/08/renungan-kehidupan-ma%e2%80%99afkanku-adik/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/8608597a13ba37ecb6920e3714f48d80?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">wirasasmita</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>[Renungan Kehidupan] Sebuah Makna</title>
		<link>http://wirasasmita.wordpress.com/2008/05/02/renungan-kehidupan-sebuah-makna/</link>
		<comments>http://wirasasmita.wordpress.com/2008/05/02/renungan-kehidupan-sebuah-makna/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 02 May 2008 00:54:42 +0000</pubDate>
		<dc:creator>wirasasmita</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://wirasasmita.wordpress.com/?p=11</guid>
		<description><![CDATA[Hampir delapan belas tahun yang lalu saya didoktrin dengan konsep Hukum Bilangan Besar atau Konsep Sebuah Konsistensi dalam proses penarikan sampel. Sebagai mahasiswa baru yang kadang masih shock dengan dunia belajar mahasiswa, jangan untuk berfikir makna kandungan dalam ala filsuf masyhur, hanya untuk sekedar mencoba menghapal konsepnya pun terkadang sangat sulit. Sampai di tingkat akhir [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=wirasasmita.wordpress.com&amp;blog=2385003&amp;post=11&amp;subd=wirasasmita&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;">Hampir delapan belas tahun yang lalu saya didoktrin dengan konsep Hukum Bilangan Besar atau Konsep Sebuah Konsistensi dalam proses penarikan sampel. Sebagai mahasiswa baru yang kadang masih <em>shock</em> dengan dunia belajar mahasiswa, jangan untuk berfikir makna kandungan dalam ala filsuf masyhur, hanya untuk sekedar mencoba menghapal konsepnya pun terkadang sangat sulit. Sampai di tingkat akhir pun hanya mentok dihapalan bahwa kalau jumlah sample menuju tak terhingga maka taksiran parameternya bla … bla … bla … </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;">Statistika sangat kental dengan proses penarikan sample. Sebuah individu atau fenomena yang akan diobservasi terus perilakunya. Data hasil obeservasi dalam jumlah individu terbatas serta waktu tertentu itulah yang diharapkan secara representatif akan dapat menunjukkan gambaran kondisi parameter sebenarnya. Terbukti ketika aku harus berulang-ulang ratusan kali mengundi sejumlah dadu hanya sekedar membuktikan bahwa peluang munculnya sebuah mata dadu adalah seperenam. Dan pada akhirnya memang terbukti seperenam, sama dengan sebuah kejadian dibagi enam muka dadu juga akan sama dengan enam. Ibu Neneng dosen Metode Statistika-ku, menyebutnya sebagai fenomena Hukum Bilangan Besar.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;">Kehidupan pun demikian, paling tidak itu yang ada di pikiranku. Kita menjalani kehidupan nyata begitu penuh dengan proses penangambilan sample. Sampel atas sikap asli seorang teman kuliah, karakter kebaikan seorang tetangga, atau perilaku kinerja seorang anggota tim di kantor. Semua kita baca dari fenomena alami yang ditunjukkannya. Fenomena kehidupan yang selalu hadir dalam kehidupan sehari-hari dan sebenarnya sangat menarik untuk dipelajari.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">Hampir sebulan terakhir ini kumencoba untuk meningkatkan kualitas introspeksi diri, termasuk penghayatan atas apa yang terjadi di sekeliling saya. Awalnya sebagai kompensasi kepenatan pikiran dalam menyesaian tugas tesis, akhirnya seakan menjadi sebuah candu yang melenakan. Keluar apartment pagi hari sekali sebelum ada sinar merah matahari pagi, berlomba dengan orang lain yang akan pergi bekerja, serta duduk santai di Restoran India Sri Paandi. <span>Hanya untuk menikmati dua roti tosai dan segelas teh manis hangat. Sambil mengamati fenomena kehidupan manusia tentunya.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">Dari beberapa hari perenungan, kumulai bisa membaca sebuah pola kehidupan. Lewat perjumpaan dengan seorang wanita muda India yang selalu membawa lima tas ketika pergi dan pulang bekerja. Ketika menatap asyiknya keakraban tiga remaja sekolah menengah yang berbangsa India, Melayu dan Cina bercengkarama di acara sarapan pagi mereka. Atau pun kesabaran sepasang Cina tua yang melayani seorang anaknya yang tuna grahita. Kalau hanya sekali kutemui, mungkin tidak akan menjadi sumber ketertarikanku. Namun semua ini menjadi sering menampakkan fenomenanya di depan mataku.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">Kumerenung. Inikah makna dalam dari apa yang kupelajari berbelas tahun lalu? Aku sangat yakin kalau jawabannya adalah iya. Aku cenderung menemui fenomena yang sama dalam kehidupan yang kujalani. Aku lebih mampu membaca sikap, perilaku, dan kebiasaan teman dalam pertemenan yang lebih lama. Persis dengan apa yang dikenalkan oleh bu Neneng guru Matode Statistika-ku sebagai Hukum Bilangan Besar itu. </span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">Aku ternyata sangat bodoh! Merenung sebuah makna sederhana seperti itupun harus menghabiskan waktu berbelas tahun. Dan message seorang adik di inbox Friendster pagi ini pun seakan menyindir habisku. Aku telah kehilangan banyak waktu!</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:14.4pt;text-align:center;margin:0;" align="center"><em><span style="font-size:10pt;color:#555555;font-family:Arial;">&#8230;.</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:14.4pt;text-align:center;margin:0;" align="center"><em><span style="font-size:9pt;color:#555555;font-family:Arial;">iya pa&#8230;saya juga sering merasa kehilangan waktu.waktu itu t</span></em><em><span style="font-size:9pt;color:#555555;font-family:Arial;">erus berlari meninggalkan saya..sampai saya sering tidak sadar apa yang saya lihat dan saya dengar ketika berlari mengejarnya.22 tahun seharusnya sudah bisa berbuat yang bermanfaat bagi umat, tapi nyatanya hanya baru mampu bergerak dalam angan.tapi semoga Allah segera menggerakkan seluruh tubuh ini untuk berbuat yang semakin baik dalam hari-hari.</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:14.4pt;text-align:center;margin:0;" align="center"><em><span style="font-size:9pt;color:#555555;font-family:Arial;">terima kasih ya&#8230;pa atas persahabatan yang bapak berikan..senang sekali punya sahabat yang sudah bapak-bapak&#8230;hehehehe^.^</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:9pt;"><span style="font-family:Times New Roman;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">Kuala Lumpur, 02 Mei 2008</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">Dibawah cucuran sinar matahari pagi</span></span></span></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/wirasasmita.wordpress.com/11/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/wirasasmita.wordpress.com/11/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/wirasasmita.wordpress.com/11/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/wirasasmita.wordpress.com/11/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/wirasasmita.wordpress.com/11/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/wirasasmita.wordpress.com/11/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/wirasasmita.wordpress.com/11/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/wirasasmita.wordpress.com/11/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/wirasasmita.wordpress.com/11/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/wirasasmita.wordpress.com/11/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/wirasasmita.wordpress.com/11/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/wirasasmita.wordpress.com/11/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/wirasasmita.wordpress.com/11/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/wirasasmita.wordpress.com/11/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/wirasasmita.wordpress.com/11/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/wirasasmita.wordpress.com/11/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=wirasasmita.wordpress.com&amp;blog=2385003&amp;post=11&amp;subd=wirasasmita&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://wirasasmita.wordpress.com/2008/05/02/renungan-kehidupan-sebuah-makna/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/8608597a13ba37ecb6920e3714f48d80?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">wirasasmita</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>[Renungan Kehidupan] Aku Benci Padamu, Senior!</title>
		<link>http://wirasasmita.wordpress.com/2008/04/21/renungan-kehidupan-aku-benci-padamu-senior/</link>
		<comments>http://wirasasmita.wordpress.com/2008/04/21/renungan-kehidupan-aku-benci-padamu-senior/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 21 Apr 2008 15:28:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>wirasasmita</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://wirasasmita.wordpress.com/?p=10</guid>
		<description><![CDATA[Edited by: Intan Permata Penyelaras Ide: Mona, Dewi, Gatot     Matahari hari Ahad ini sudah semakin tinggi ketika kuraih bag-pack usangku. Bukan tak mau segera ganti namun aku masih berpikir bukan saat yang tepat. Kegembiraanku bisa kuliah di Statistika-Unpad sebenarnya menjanjikan saat indah, mulai memanggul tas punggung baru, apalagi bekal hadiah uang dari bapak [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=wirasasmita.wordpress.com&amp;blog=2385003&amp;post=10&amp;subd=wirasasmita&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">Edited by: Intan Permata</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">Penyelaras Ide: Mona, Dewi, Gatot</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">Matahari hari Ahad ini sudah semakin tinggi ketika kuraih <em>bag-pack</em> usangku. Bukan tak mau segera ganti namun aku masih berpikir bukan saat yang tepat. Kegembiraanku bisa kuliah di Statistika-Unpad sebenarnya menjanjikan saat indah, mulai memanggul tas punggung baru, apalagi bekal hadiah uang dari bapak masih lebih dari cukup. Tapi … ya Studi Pengenalan Lapangan (SPL) dan Pra Pra-nya inilah yang membuyarkan hasrat indah itu. Bagai terberai terbangnya sekawanan merpati indah penyantap jagung oleh seekor kucing hitam yang menakutkan. Hanya karena aku takut tas baruku dirusak acara yang banyak menyentuh tanah itu.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">Tak sadar kuusap cucuran keringat yang mengalir di dahi oleh punggung tangan kiriku dan sontak kurasakan keperihan yang luar biasa. Kutatap lekat kedua punggung tanganku, sungguh mengenaskan. Tiba-tiba sudah begitu menghitam oleh gumpalan darah yang ditutupi lecetnya lapisan kulit ariku. Belum pernah punggung tangan serusak ini. Dirusak oleh bentakan perintah <em>push-up</em> para panitia SPL yang terkadang dimantapkan oleh tatapan tajam barisan senior dibelakangnya. Bukan aku tidak mau untuk melakukannya, karena sekarang pun aku sudah sanggup melakukannya lebih dari 200 kali dalam satu perintah. Namun semua terasa dipaksakan, tanpa alasan yang jelas. Tiada arah, bagaikan mengikut kemana saja angin berhembus. Aku tahu karena aku bukanlah seekor kerbau yang dengan mudah dicocoki hidungnya.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">Beruntung siang ini olahraga dengan panitia SPL sudah berakhir. Paling tidak rasa kesal hari ini terhenti lagi. Tidak terus menembus ubun-ubun otak dan menggedornya hingga pecah. Aku bisa mengisi ruang pikiran dan rasaku dengan cerita kehidupan lain. Bukan cerita SPL yang kadang menjenuhkan. Aku pun mulai melangkah meninggalkan lapangan basket di belakang gedung D1 MIPA. Tempat penuh tetesan keringat berwarna darah, penuh keluhan mahasiswa baru, penuh teriakan panitia dan señior sekeras suara mesin mobil F1-nya Schumacer. Adalah suatu kegembiraan lebih jika dapat segera meninggalkan kawah candradimuka jadi-jadian itu. Dan sekarang pun aku melangkah setegap tentara pulang dari medan perang, senyaman langkah seorang balerina yang akan masuk panggung pentas keindahan.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">“Mana Kelompok Lima, ya?” Sebuah pertanyaan dengan suara normal namun terdengar bagai petir bagiku. Pas sekali … bagaikan petir di siang bolong. Petir yang tiba-tiba memutuskan aliran listrik melodi tarian balerina dalam alam indah khayalku. </span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">Kelompok Lima adalah salah satu predikat Panitia SPL untuk sekumpulan 6 orang maba diantara 8 kelompok maba di di jurusan Statistika-Unpad ini. Kelompok ini aku lihat sebagai representasi anak Nusantara seutuhnya. Dari paling barat adalah Marwan bin Kaseem, seorang anak Aceh yang sering dipanggil Tengku. Tampilan gayanya tak jauh dari Tengku Ryan. Namun karena lebih sering terlumuri oleh tanah merah kampus Jatinangor, ekspresi yang muncul adalah ledakan emosi berapi-api. Tak beda dengan seorang pemimpin gerakan rakyat yang ingin meraih kebebasan hidup. Pas dengan statusnya sebagai maba, begitu ingin membebaskan diri dari cengkeraman kuat kuku-kuku para mahasiswa angkatan atas. </span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">Rizkani Chaniago, anggota kedua yang menamatkan SMA-nya di Padang. Dari namanya pun sudah menunjukkan orang Padang, selalu ada Z atau F-nya. Sorot matanya yang tajam dan terkesan galak. Termasuk galak dalam menyelesaikan hitungan, cocok dengan jurusan Statistika yang menjadi kebanggaanku saat ini. Cocok juga dengan jiwa dagang orang Minang yang harus pandai menghitung jualannya. Tapi jangan sampai meminta Uni, demikian aku memanggilnya, menghitung berulang-ulang, takut hasilnya berbeda. Persis seperti pelayan rumah makan Padang yang memberikan jumlah yang berbeda kalau diminta menghitung ulang seluruh makanan yang telah dinikmati. Itu pula yang menjadi guyonan utama Sekar Wulandari, anak SMA 3 yang nyasar jurusan karena katanya salah menuliskan kode di formulir SPMB. Anak ber-NEM 57,89 campuran bapak Bandung dengan ibu Malang yang akan lebih banyak diam dan cenderung panik kalau ditekan senior. Pas dengan persepsi orang umum kalau anak SMA yang gedungnya berada di jalan Belitung itu memang cerdas.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">“Orang Mbandung, kita dipanggil ama senior!”. Setengah berbisik anak Yogya bernama Raden Mas Bambang Trisasongko memberitahuku. Keanehan dia adalah selalu memanggil teman-temannya dengan nama asalnya, walaupun kadang salah. Anak yang juga suka melafalkan namanya sebagai ‘Mbambang’ itu, sedikit mendorong tubuhku. Sifatnya yang sedikit bergerak lambat karena mengadopsi budaya Solo, tiba-tiba menjadi beringas memaksaku maju. Mungkin kadar keletihan fisik dan mentalnya hari ini tersulut teriknya sinar matahari yang hampir tepat tegak lurus di ubun-ubun menghilangkan sopan santunnya sebagai titisan jauh darah keraton Solo. </span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">Sementara terlihat tetap berdiri tegak disampingnya, Raymond Nere, seorang anak keriting ikal yang hanya dia mengalahkan kehitaman kulitku. Seorang anak Papua yang mengaku kerabat dekat pemain sepak bola nasional Rully Rudolf Nere yang berasal dari Persipura Jayapura. Dia lebih banyak menjadi anak pendiam karena masalah komunikasi. Atau mungkin juga masih shock melihat kota Bandung. Sedangkan di SMA-nya di Jayapura, dia terbiasa dalam kehidupan hutan perawan. Tapi kalau soal emosi, raut mukanya yang hitam pun mudah dibaca.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">“Hey &#8230; Tata! Kamu sini!!”, kalimat berikutnya dengan intonasi yang lebih keras. Serasa menambah hitam awan ketidakberuntungku siang itu. Jauh lebih hitam dari kulit Raymond.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;"><span>“Kenapa lagi suara itu memanggilku?!”, hatiku pun ikut menggerutu. </span><span>Lalu kupandangkan wajahku ke empunya suara.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;"><em><span>Oh … My God</span></em><span>! Tiga meter di sampingku ternyata sedang berdiri seseorang yang pernah menghilangkan selera kegembiraanku di jurusan ini. Terjadi sudah hampir sebulan yang lalu namun tetap menjadi nightmare buatku. Masih terbayang bagaimana dia mengacak-acak, merobek-robek<span>  </span>serta menghamburkan yertas-kertas surat lamaran itu ke atas kepala aku dan maba lainnya yang duduk bersimpuh di lantai sedangkan dia dan senior lainnya berdiri berkacak pinggang dengan gagahnya. Ganas! Bagaikan kawanan tentara yang berhasil menawan musuhnya. Kalau di antara itu tidak ada surat dengan tulisan tanganku yang kuulang berkali-kali di malam sebelum penyerahan, mungkin tidak akan terlalu berbekas. Berulang kali surat itu kutulis karena konsentrasiku yang parah karena kambuhnya penyakit asmaku. </span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">Kang Haris! Begitu mahasiswa lain memanggilnya. Sebuah nama yang mampu menyulut mahasiswa lain untuk ikut mengeroyok emosi dan psikologis mahasiswa baru karena kesalahan sepele di tulisan surat lamaran untuk menjadi anggota Himasta, Himpunan Mahasiswa Statistika. Kata-kata bijak penuh wibawa Kang Mulya, sang Ketua Himasta, di penutup acara pun rasanya tidak mampu merubah gerakan partikel ketidaksenanganku kepada senior yang satu ini. Partikel dalam rasaku masih antagonis, tidak harmonis, bahkan mungkin lebih antagonis di siang ini. Tidak peduli apapun! <span>Walau pada kenyataannya senior ini menjadi salah satu tutor mata kuliah Metode Statistika dan Laboratorium Statistika.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">“Tata! Kamu Ketua Kelompok Lima, kan?” Dia mengungkapkan sebuah pertanyaan retoris yang kutangkap dengan penuh kesia-siaan belaka. Sia-sia karena pasti dia sudah tau pasti. Dia adalah Penasehat Kelompok Lima. Sebuah jabatan sosial yang dibuat oleh Panitia SPL selain dua orang Pendamping Kelompok. Aku tidak peduli! Malah tidak pernahnya dia memberikan nasehatnya setelah tragedi surat lamaran kepada Kelompok Lima seakan menjadi berkah bagiku. Namun sekarang, dia belum bicara banyak pun sudah memberikan rona sia-sia yang kedua. Posisiku sebagai Ketua Kelompok Lima, Kelompok Nusantara.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">Jabatan Ketua Kelompok adalah sebuah jabatan yang menurutku lebih menyedihkan daripada jabatan sosial sebagai Ketua RT yang tidak ada honornya. Menjadi ketua di kelompok ini hanya terasa menjadi kambing hitam ketidakcocokan perilaku maba dengan angan-angan senior yang tidak jelas langit tempat menggantungkannya. Kadang menjadi keranjang sampah penampung segala sumpah serapah hingga kata-kata dari kebun binatang sekali pun. Sebuah jabatan dengan aspek psikologis yang mampu menggiring diri ke tingkat kepuasan emosi yang terendah.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">Bagiku, konspirasi anak-anak Nusantara Kelompok Lima memilihku menjadi pemimpin mereka bukanlah kesalahan yang tidak termaafkan. Mereka memilih secara manusiawi. Memilih untuk menghindari resiko hidup yang tidak jelas. Ya &#8230; resiko menjadi ketua kelompok memang tidak jelas. Tanpa berkata aku sudah dapat membaca raut muka mereka memintaku sebagai mahasiswa lokal melindungi mereka yang jauh dari dunia kecilnya. Menjadi ketua diantara mereka. </span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">Haruskah aku menyesali dianggap mahasiswa lokal karena aku lahir di Tasikmalaya? Kota dimana aku pernah menghirup debu letusan gunung Galunggung-nya, dan karena kota itu pula aku terjerembap ke jabatan yang tidak diinginkan oleh satu orang maba-pun di kelompokku. Rasanya tidak perlu karena aku cukup terhibur karena sebulan sudah terbukti pembelaan dan kesetiakawanan lima anak nusantara anggota kelompokku. Justru senior yang dihadapkanku inilah yang karena sikapnya akan mampu mempertinggi gunung es kekecewaanku dan menunggu waktu mengutuk dia menjadi monster menakutkan.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">“Oke &#8230; saya minta waktu kalian sebentar, ya!” Kalimat pertama setelah ke-6 anggota Kelompok Nusantara berdiri dihadapannya. Hampir semua membuat setengah lingkaran kecuali Raymond yang sedikit berlindung setengah badan di belakangku. Sebuah kebiasaannya untuk menjadikanku sebagai tameng. Namun ini membuatku lebih berani dihadapannya. Raymond yang tinggi besar dan juga hitam &#8230; seakan mengatakan kalau dia akan mendukungku dari belakang.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;">Kupandang dengan lekat senior yang sedang berbicara dihadapanku ini. Secara fisik, tubuh yang tingginya tidak lebih dari 165 centimeter itu jauh dari potongan artis film. Rambut yang dipanjangkan seperti <em>Diego Maradona</em>, namun tidak pas karena tidak sama lebatnya malah cenderung acak-acakan. Kacamata besar ber-frame<span>  </span>plastik seakan menghancurkan pamor <em>Christopher Reeve</em> dalam film <em>Superman</em>-nya. Kombinasi baju kemeja lengan panjang hijau bermotif bunga-bunga hitam dengan celana panjang kain berwarna coklat terang seakan menambah sakit mataku. Belum lagi melihat ikat pinggang lebar ala koboi yang dikenakannya. Mataku kemudian tertunduk memandang sepatu jogging putih lecek dan sudah mengelupas di di bagian pinggirnya. Di pundak kanannya tersangkut tas kain lecek yang talinya begitu panjang, mirip dengan tas si Lupus yang terkenal di pertengan tahun 80an. Semuanya bernilai minus bagiku. Andai aku dosen, nilai akhirnya adalah E.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;">Mata hatiku begitu gelap, tidak mampu kumelihat hal baik dari diri Penasehat kelompokku itu. Tidak tertangkap pancaran positif sebuah aura kehidupan. Aku tercenung berpikir keras, apakah aku yang salah?! Tapi aku bukanlah orang yang mampu menerima sesuatu tanpa sebuah bukti kuat. Yang kupunya saat ini adalah ketidakmengertian mengapa begitu banyak mahasiswa lain yang bersimpati dan mau berdiskusi dengan seseorang yang tingginya tidak melebihi tinggi pemain sepakbola Argentina yang terkenal dengan julukan Gol Tangan Tuhan itu.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">“Maafkan saya kalau sampai saat ini belum sempat untuk ngobrol dari hati ke hati … ehmmm … tentang segala hal yang berkaitan dengan kegiatan SPL ini”. <span>Prolog selanjutnya yang saya rasakan datar, tidak bermakna apa-apa. </span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">“Saya sebenarnya malu belum mampu menjalankan tugas seperti apa yang diminta oleh Panitia. Seminggu ini saya terlalu sibuk dengan diri sendiri untuk menyelesaikan pekerjaan analisis data dari salah satu dosen kita. Saya begitu egois untuk melakukannya karena saya memperjuangkan hidup saya sendiri”. Aku pun tidak mau peduli dengan maksud kata-kata itu semua. </span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;"><span>“Rasanya besok Senin adalah waktu yang tepat untuk bertemu. </span>Kata Panitia besok ada Lokakarya yang membahas tugas ilmiah kalian sampai jam 11 siang. <span>Saya juga besok ada di sini, di Lab Komputer D1. Jadi kita akan bertemu besok. Mudah-mudahan saya dapat berinteraksi secara konstruktif dengan semuanya di kelompok ini. Kelompok yang penuh keragaman, paling tidak berasal dari berbagai daerah. Sekian dulu aja, sampai jumpa besok. Terima kasih atas waktunya”. Penutup yang cukup pas sebenarnya dan masuk ke dalam nalar otakku. </span>Namun hasrat tarian <em>ballerina</em>-ku kembali muncul untuk segera balik kanan menuju kost-an. Musik kedamaian pun mulai mengiringi langkahku …</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">“Maaf bentar …!!!” Tiba-tiba permintaan sang penasehat kelompokku mematikan irama musik kebebasanku. Dan selanjutnya dia bilang: “Sekar, sebentar! Kamu orang Bandung kan? Besok tolong bawa <em>Silver Queen</em> buat saya, ya!” </span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;"><span>Darahku mendidih mendengar permintaan itu. Permintaan itu bagai pemerasan penguasa imperialis kepada rakyat lemah sebuah negeri jajahan. Aku merasa tertindas. Refleks kubalikkan badanku. Akan kutumpahkan didihan darah yang terasa walaupun hanya dengan protes keras. </span>Namun terhalang badan hitam Raymond yang seakan memintaku untuk tenang. Tidak memperumit permasalahan, hanya memperkeruh semua kebencian hatiku yang mereka tahu pasti, karena telah kubeberkan semua kekisruhan perasaanku terhadap senior yang satu ini, termasuk aku didiskualifikasi dari kegiatan SPL. Aku sudah siap resikonya, sudah siap melangkah dengan senyum meninggalkan medan perjuangan. Aku tidak akan menunduk malu bagai pemain sepak bola yang diberi kartu merah. Malah akan kutunjukkan inilah aku yang tidak ingin ditindas. Aku pun tidak takut karena aku tahu beberapa mahasiswa yang tidak masuk menjadi anggota Himasta pun masih bisa belajar normal.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">Irama musik tari baletku tidak terlalu bersenandung dengan mulus. Perjalanan dari gedung D1 ke gerbang kampus di depan kantor Kecamatan Cikeruh pun terasa hambar. Tanjakan kenangan di sebelah gedung Pusat Sastra dan Budaya Jepang, GOR di sebelah kanan setelah bulatan di tengah-tengah jalan, juga tanah kosong dengan rumput menyedihkan untuk lapangan bola, semuanya kulewati tanpa senandung kenikmatan. Aku hanya terkurung rasa kekesalan. Beruntung deretan warung di depan gerbang kampus serta kantor kecamatan itu segera menyambutku. Semuanya bagai menyapaku, menghiburku dengan sambutan keakraban. </span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">Namun sia-sia, aku masih terlena dengan ketertekananku dan semakin tertekan ketika kutahu Sekar hanya menyisakan selembar uang lima ribuan didompetnya. Untung aku masih menyimpan beberapa lembar uang dengan gambar Pak Harto tersenyum dan meminjamkannya kepada Sekar. Sebagai wujud solidaritas kepada bawahan termasuk ikut membeli 2 batang coklat yang masing-masing berharga 1.750 perak itu. Belum tentu kumakan namun paling tidak bisa menjadi pelampiasan emosiku kalau kuterkurung oleh bayangan sang penasehat kelompokku itu. Kuberdoa coklat itu akan memberikan kebaikan bagiku.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">&#8212;&#8211;</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">Pukul 11.05 acara lokakarya selesai. Bagaikan aliran air yang menghambur deras ketika pintu bendungan air dibuka, begitulah terpencarnya para maba setelah mengikuti lokakarya tanpa henti dari jam 8 pagi. Seakan menunjukkan semuanya ingin menghirup udara bebas kehidupan, yang bebas dari partikel dan debu kotor kenyamanan. </span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">Aku hanya mampu berjalan lunglai tanpa menaikkan semangat hidup. Berjalan dari gedung D2 ke gedung D1 tanpa rasa. Jiwaku bagai melayang kemana-mana sedangkan raga bergerak menyusuri tanah tanpa rasa. Keberadaan rasa yang memang sejak siang kemarin berada di titik yang menuju ke puncak tertinggi kekecewaan. Termasuk beberapa kebodohan teknis yang kulakukan sewaktu presentasi di lokakarya tadi. Semua karena kecerobohan akibat tidak mampunya sebuah konsentrasi menangkal serangan pemecahbelahan kekuatan pikiran. </span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;"><span>Semuanya sudah menumpuk dan sumber semuanya adalah sang penasehat kelompokku yang tidak ada sedikit pun sinyal positif yang tertangkap di area sadarku. Yang sudah tertangkap adalah kondisi labilku oleh ke-5 anggota Kelompok Nusantara. </span><span>Semuanya sepakat, aku harus menahan diri. Ya &#8230; demi kalian, aku akan diam! </span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">Beruntung aku dan kelompokku tidak perlu bersusah payah mencari sang penasehat. Dia sudah menunggu di depan pintu gedung D1. Rambut dan kacamata masih seperti kemarin. Hanya penampilannya sedikit berbeda. Hari ini dia menggunakan baju semeja lengan panjang biru muda bermotif garis tipis dipadu celana kain biru tua yang diikat oleh tali pinggang kulit. Kakinya pun mengenakan sepatu kulit hitam yang masih terlihat bekas sapuan semirnya. Aku mencoba tidak terus mengikuti arus perjalanan pikiran ini. Cukup hanya mengikuti ajakan dia untuk duduk melingkar di bawah pohon besar di depan kampus dan berumput tebal di sekelilingnya. Udara yang panas siang itu menjadi sedikit teduh setelah berada di bawahnya. Bagiku tetap hatiku tidak teduh. Bahkan siap untuk menyerah kalah, mundur dari SPL. Menghindari sebuah wajah yang saat ini duduk di dekatku.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">“Coba kita duduk melingkar ya! Tapi bebas aja lah &#8230; ga perlu rapi amat.” Instruksi awal yang sangat lembut berbeda dengan intonasi kata-kata sewaktu tragedi surat lamaran dulu. Hah? Apakah aku mulai terhipnotis? </span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;"><span>“Sekar, keluarkan coklat yang saya pesan …” Semua mata tertuju ke arah Sekar, seakan mengikuti luncuran kata-kata sang penasehat menuju ke arah Sekar. </span>Termasuk aku yang duduk di sebelahnya. Tetapi wajah lugunya berubah menjadi pucat pasi. Kubaca makna kepucatan wajahnya. Kutahu dia lupa memindahkan coklat itu dari tas birunya kemarin karena hari ini tasnya kuning. Kutarik tas tuaku dan kubuka.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;">“Nih … pikun amat sih! Tadi kan kamu titipin di tas ini” Kusodorkan sebatang coklat yang kubeli kemarin. Sekar tersenyum dan mengulurkan tangannya untuk meraih coklat itu. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;">“Tata! <span>Sini … berikan kepada saya! Lama amat sih …” </span>Sang penasehat setengah merebut coklat itu dari tanganku. Aku terkejut. Sekar melongo. Tengku, Uni, Bambang dan Raymond pun menatap tak berkedip.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;">“Sorry! Saya tidak sabar. Makasih Sekar telah membelikan coklat ini” Sebuah ucapan terima kasih seperti basa-basi tuan tanah yang telah merampas harta kekayaan orang lemah karena tak mampu membayar utang. Terbayang nanti dia akan menikmati coklat itu dengan segala kenyamanan. Mungkin juga akan dia hadiahkan untuk temannya atau seseorang lainnya. Yang jelas, kalau tidak dia makan sendiri, akan diberikan atau makan bersama-sama orang terdekat dan terbaik baginya. Akh … persetan semua! Bagaimanapun, di sini aku dan teman-teman telah menjadi korban penindasannya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">“Lihat coklat seharga 1.750 ini! <span>Sekar, betul harga segitu, bukan?” dia mencoba menegaskan</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;">“Iya, Kang!” Sekar mengiyakan dengan setengah hati. Kemudian sang penasehat pun melanjutnya kata-katanya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">“Hanya sesuatu yang seakan tidak berarti apa-apa. <span>Tapi dapat menyatukan kita bersama. Sekar mungkin di Bandung bisa tiap hari membeli dan menikmatinya. Tapi coba renungkan apakah Tengku atau Raymond bisa menikmatinya setiap hari? Di Aceh dan Papua belum tentu tersedia sebanyak di sini. Ok &#8230; Uni yang paling pandai membagi &#8230; coba bagikan coklat ini kepada semua di sini. Makanlah bersama-sama sebagai wujud kebersamaan kalian. Sekar uang 1.750-nya saya gantiin ya! Lebihnya diambil aja untuk keperluan kelompok. Juga untuk minumnya saya sudah beli teh kotak dingin ini &#8230; Sebagai syukuran saya karena telah menerima honor analisis data kemarin. Mari kita makin kokohkan kebersamaan di Kelompok Nusantara”</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;"><span>Dia letakkan selembar uang 10.000 di hadapan Sekar. Sedetik kemudian dia keluarkan satu keresek berisi teh kotak dingin yang diselimuti tetesan air di luarnya. </span>Kemudian dia sibuk mengelap buku <em>Introduction to Stochastic Process</em> yang terbasahi tetesan air dari teh kotak. Pertanda begitu baiknya perlakuannya dalam merawat sesuatu.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">Kupegang potongan coklat bagianku. Potongan dari sebatang coklat yang kemarin kuberdoa mendapat manfaat kebaikan dari keberadaannya. Siang ini kebaikan itu telah mulai datang. Yang mungkin menjadi bukti awal kesalahan anggapanku. <span>Tetesan air teh pun meluncur deras mendamaikan gejolak rasa di dalam hati. Tetesan air yang menjadi sumber panas melelehkan gunung es kebencianku. Di kelopak mataku, tak kusadari, ada genangan air mata yang siap tertumpah. Namun, masih kucoba untuk menahannya. Walaupun tetesan itu tidak akan terasa membuat pedih luka-luka <em>push-up</em> di punggung tanganku.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">Hitungan menit-menit berikutnya, sang penasehat kelompokku sekan menyihir otakku untuk menerima deretan kalimat-kalimat jelas dalam struktur yang indah. Deretan kalimat tentang statistika, himasta dan segala kegiatannya. Semuanya seakan sudah menjadi darah mengalir dalam dirinya. Semua dialirkan dengan pandangan dari sisi makna yang dalam dan mengapa ada sekelompok orang menentangnya. Duhhhh … kenapa aku jadi terlena. Bagai terbuai angin sejuk ketika aku membaringkan diri di atas kedamaian padang rumput yang hijau …</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">Sekarang ada sesuatu yang terasa mulai lagi mengalir secara alami. Bagaikan air sungai yang jernih mengalir dengan tenang namun pasti menuju lautan lepas kedamaian yang luas. Menggiring semua perjalanan hidup melalui alurnya. Semua akan terbentuk alami walau kadang kita tidak tahu seperti apa bentuknya nanti. Termasuk ketidaktahuanku kalau ternyata persis 4 tahun 3 bulan setelah hari tetesan dingin itu menyentuh kerongkonganku, sang penasehat kelompokku meminang Sekar yang juga ternyata memupuk simpati dari mulai memori coklat itu. </span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">Oh … andaikan aku pun seorang perempuan, mungkin aku akan menjadi pesaing Sekar untuk dipinangnya. </span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">Aku tidak jadi membencimu, Senior!</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">Kuala Lumpur, 19 April 2008</span></span></span></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/wirasasmita.wordpress.com/10/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/wirasasmita.wordpress.com/10/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/wirasasmita.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/wirasasmita.wordpress.com/10/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/wirasasmita.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/wirasasmita.wordpress.com/10/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/wirasasmita.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/wirasasmita.wordpress.com/10/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/wirasasmita.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/wirasasmita.wordpress.com/10/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/wirasasmita.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/wirasasmita.wordpress.com/10/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/wirasasmita.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/wirasasmita.wordpress.com/10/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/wirasasmita.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/wirasasmita.wordpress.com/10/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=wirasasmita.wordpress.com&amp;blog=2385003&amp;post=10&amp;subd=wirasasmita&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://wirasasmita.wordpress.com/2008/04/21/renungan-kehidupan-aku-benci-padamu-senior/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/8608597a13ba37ecb6920e3714f48d80?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">wirasasmita</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>[Kado Ultah Istri Tercinta] Catatan Harian Seorang Suami</title>
		<link>http://wirasasmita.wordpress.com/2008/03/26/kado-ultah-istri-tercinta-catatan-harian-seorang-suami/</link>
		<comments>http://wirasasmita.wordpress.com/2008/03/26/kado-ultah-istri-tercinta-catatan-harian-seorang-suami/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 26 Mar 2008 16:18:35 +0000</pubDate>
		<dc:creator>wirasasmita</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://wirasasmita.wordpress.com/2008/03/26/kado-ultah-istri-tercinta-catatan-harian-seorang-suami/</guid>
		<description><![CDATA[20 Maret 2008 – 03.10  nda, jam sgini kalo di Bdg msh jam 2 ya? pasti sepi bgt. Ga tau, akhir2 ini ko ayh jd sering terbangun pd jam2 spt ini. Maybe ayh ditunjukkanNya untuk lebih menjd manusia yg lbh bersyukur. Harus lbh banyak duduk tepekur, sujud … dan menjerit memanjatkan do’a2 kehidupan. Buat kehidupan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=wirasasmita.wordpress.com&amp;blog=2385003&amp;post=9&amp;subd=wirasasmita&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><u><span><font face="Times New Roman">20 Maret 2008 – 03.10</font></span></u><span><font face="Times New Roman"> </font></span></p>
<p><span></span><i><font face="Times New Roman"><span>nda, jam sgini kalo di Bdg msh jam 2 ya? pasti sepi bgt. </span>Ga tau, akhir2 ini ko ayh jd sering terbangun pd jam2 spt ini. Maybe ayh ditunjukkanNya untuk lebih menjd manusia yg lbh bersyukur. Harus lbh banyak duduk tepekur, sujud … dan menjerit memanjatkan do’a2 kehidupan. Buat kehidupan kita, anak2 kita juga orang2 di sekitar kita. Rasanya hanya do’a2 aja yg sampe saat ini baru kita mampu sedekahkan</font></i><i><font face="Times New Roman"> </font></i><font face="Times New Roman"><i>Ayh baca lg coretan crita perjuangan seorang istri dg 3 org anak yg mo dijadiin hadiah ultah buat bunda besok. Bener2 sedih … utk pertama kalinya stlh nikah ayh tdk berada disamping Bunda di saat ultah Bunda. </i></font></p>
<p><font face="Times New Roman"><i>Tahun lalu msh sempat kita rayakan ultah Bunda pas tengah malam ketika ayh baru sampai menepuh perjlnan jauh dr KL. Besok keliatannya kan mjd hr yg sepi. Maafin ayh, nda! </i><i><span>Insya Alloh di ultah nda thn bsok kita dah kumpul lagi …</span></i></font><i><span><font face="Times New Roman"> </font></span></i><i><span><font face="Times New Roman">Kyknya kita pun hrs trus berdo’a utk klancaran dan kebahagiaan hidup kita.</font></span></i><i><span><font face="Times New Roman"> </font></span></i><i><span><font face="Times New Roman"> </font></span></i></p>
<p><i><span></span></i></p>
<p><i><span></span></i><u><span><font face="Times New Roman">20 Maret 2008 – 06.00</font></span></u><span><font face="Times New Roman"> </font></span></p>
<p><span></span><i><font face="Times New Roman"><span>10 mnt lg adzan subuh, nda! &#8230; ayh coba nulis lg. </span>Dah selesai mandi sgala. Jam 5.30an td sempat tidur jg, biar ga ngantuk bgt siang nanti.Perjalanan hari ni meski libur akan panjang bgt kyknya. So, kalo ga dsempetin tidur takut ngantuk terus. </font></i><i><font face="Times New Roman"> </font></i><font face="Times New Roman"><i>DiBdg kyknya nda jg dah sibuk nyiapin keperluan anak2 hr ini. Pd mau jln2 kmn? </i><i><span>Oh … iya lupa di hari libur ini Nda hrs jd Tim Kesehatan di acara MTQ Jabar yg di SMA 8 ya? </span>Mudah2an anak2 seneng nemenin nda-nya. Enak ya &#8230; bisa bareng2 Farih + Faiz terus .. </i></font></p>
<p><font face="Times New Roman"><i>Ayh tau, mski kadang2 ngikutin sgala maunya mrk tp akan ada kbahagiaan lain ktika mlihat kepintaran mereka. </i></font><i><font face="Times New Roman"> </font></i><i><font face="Times New Roman">Kita hrs terus bersyukur diamanatiNya anak2 spt Faiz + Farih … </font></i><i><font face="Times New Roman"> </font></i><i><font face="Times New Roman">Dah … adzan tuh …. Ayh sholat dulu ya!</font></i><i><font face="Times New Roman"> </font></i><i><font face="Times New Roman"> </font></i><u><font face="Times New Roman">20 Maret 2008 – 07.00</font></u><i><font face="Times New Roman"> </font></i><i><font face="Times New Roman">Ayh dah diantar oleh Modenas matic ke kampus. Ya .. kampusnya sepi krn hr libur sama kyk di Bdg. Krn Perpustakaan Utama pun libur, ayh cari wireless-nya di Gedung Pascasiswazah aja. Lumayan cepet kok … biar file kerjaan hasil analisis data temen nda pun bisa dkrm lbh cepet ke e-mail nda-nya. Enaknya ya spt ini kalo di UM. Wireless-nay dimana2 dan lancar terus …</font></i><i><font face="Times New Roman"> </font></i><i><font face="Times New Roman"><span>Jg skalian posting cerita kado ultah buat nda di FS. </span>Draft aja dulu ko &#8230; blm di publish. Yg penting khan bikin aja dulu. Soal mampu ato tdknya cerita utk menggambarkn rasa seorang wanita dgn bener2 … tapi ya mudah2an bisa aja. </font></i><i><font face="Times New Roman"> </font></i></p>
<p style="margin:0;" class="MsoNormal"><span><font face="Times New Roman">                                                                                                             </font></span></p>
<p><font face="Times New Roman"><i>Oh …. Ya! Ayh ga bisa browsing lama2, nda! Hrs ke jl Dato’ Abu Bakar. Hr ini hrs ngajar nyetir ‘Masyithah’ muda, keponakan bu Ayu itu. </i><i><span>Ama hrs beli jas hujan GIVI Dani yg lg ngunjungin pameran di Cina. Kali besok mau dbw pulang ke Jepara.</span></i></font><i><span><font face="Times New Roman"> </font></span></i><i><span><font face="Times New Roman"> </font></span></i></p>
<p><i><span><font face="Times New Roman"></font></span></i></p>
<p style="margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman"><u>20 Maret 2008 – 08.46</u></font></p>
<p><i><font face="Times New Roman"> </font></i><i><font face="Times New Roman">Datang ke showroom &#8230; ya say hello aja ama yg ada. Liat showroom 16 ( krn letaknya di seksyen 16 atau jl 16/1) jd inget masa2 ampe 3 bln ke blk. Sblm Jan ’08 ayh pamit dulu, tdk bantu2 di showroom krn mau ngerjain tesis dan namatin kuliah. Byk jejak jln perjuangan di sini.Bermula dr baik-nya pa Umar + bu Ayu memberi kesibukan kerja kpd Ayh ampe bbrp bantuan laen yg gak dikira sblmnya. Kyknya ga bisa dihitung … makanya ktika kmrn bu Ayu minta ngajarin nyetir ke keponakannya itu, ayh bilang ok aja, selama ada waktu di sela2 kesibukan ayh. Mudah2an jd sedekah waktu jg deh … Berguru ke prinsip-nya pa Umar + bu Ayu</font></i><i><font face="Times New Roman"> </font></i><i><font face="Times New Roman">Pagi ini msh sempet jg ikut Dhuha di gazebo belakang dan trus manasin Hunday Matrix yg mo dipake</font></i><i><font face="Times New Roman"> </font></i><i><font face="Times New Roman"> </font></i></p>
<p style="margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman"></font></p>
<p style="margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman"><u>20 Maret – 09.25</u></font></p>
<p style="margin:0;" class="MsoNormal"><i><span><font face="Times New Roman"><u></u></font></span></i></p>
<p><font face="Times New Roman"><i>Sblm ngajar nyetir, pergi dulu menuju ke jl Ipoh ke GIVI Point. Beli jaket tea … jlnan lancar krn hari libur. Di kedainya jg msh sepi krn masih pagi. Trus ke pergi ke stadion Shah Alam lg tujuan belajarnya krn lapangan parkirnya luas. </i><i><span>Di Ptaling Jaya, mampir dulu di station petrol krn bensin mo abis …</span></i></font><i><span><font face="Times New Roman"> </font></span></i></p>
<p><i><span></span></i><i><font face="Times New Roman"><span>Nda, mampirnya mungkin sepela tp justru jd inget ama Nda. Ktika ayh bayar, si kasir ngomong gini: “Encik, nak beli ferarri ni?”. Dia nunjuk bbrp mobil2an contoh (mrk bilannya ‘kereta’, khan?) model Ferrari. Merahhhhh semua! </span>Krn ayh ngisi petrol di Shell-nya pake V-power lbh dr RM40. Gak mikir lg deh, dgn nambah RM5,9, ayh dpt mobil2an itu …</font></i><i><font face="Times New Roman"> </font></i></p>
<p><font face="Times New Roman"><i>Ayh inget awal2 mengenal nda. Waktu itu mobil-nya Suzuki Amenity merah juga &#8230; (kita jg skrg pake Taruna merah &#8230;) <span> </span></i><i><span>Nda pu seneng koleksi gambar2 mobil sport (tmasuk Ferrari ..), BMW, Mercy. Umumnya merah. Meja blajar pun penuh dg gambar2 mobil &#8230; Ayh msh inget kok &#8230; ikut nyariin gambar2nya </span></i></font><i><span style="font-family:Wingdings;"><span>J</span></span></i><i><span><font face="Times New Roman"> . Dlm rangka cari muka kali ya?</font></span></i><i><span><font face="Times New Roman"> </font></span></i><i><span><font face="Times New Roman">Ayh jg ga tau &#8230; si Kaka kasir td spt menyambungkan ingatan ayh kpd nda. Nda yg mau ultah bsok dan Ayh mesti membeli ‘sesuatu’ sbg hadiah buat Nda. Slama ini khan skecil apapun, nda ato ayh suka beli sesuatu utk hadiah pd ultah qta masing2. Pasnya lagi &#8230; warna merah kesyangan Nda itu lho &#8230; Sebuah penegasan, sesuatu telah diatur olehNya dg tingkat presisi yg sangat tinggil. Semuanya telah diaturNya, termasuk jatuhnya daun kering dr sbuah pohon. </font></span></i><i><span><font face="Times New Roman"> </font></span></i><i><font face="Times New Roman">Maknanya apa? Mudah2an ayh menemuknya kemudian …</font></i><i><font face="Times New Roman"> </font></i></p>
<p><i><font face="Times New Roman">Yg jelas … yg sdh ditemukan adalah sms dr silva stat00 di tengah2 perjalanan yg bilang buku + VCD<span>  </span>Ayat2 Cinta-nya sdh dititip ke Dede stat00 org Banjar tea. Tp justru jd gak enak … Ayh blm sempet ke KLCC utk beli pesanannya, comic spongebob. Kmrn cari2 di the Mall yg deket Kampus Kota UM … ga ada</font></i><i><font face="Times New Roman"> </font></i><i><font face="Times New Roman"> </font></i></p>
<p style="margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman"></font></p>
<p style="margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman"><u>20 Maret 2008 – 10.05</u></font></p>
<p><i><font face="Times New Roman"><span> </span></font></i><font face="Times New Roman"><i>Stelah isi bensin ayh gak lg nyetir, dr sana Masythah muda yg pegang stir. Secara fisik ayh istirahat, secara mental justru lbh besar. Bgmna ayh hrs pastikn yg duduk blajr nyetir di sebelah ayh hrs benar2 confidence shg smuanya bjalan lancar. Sbnarnya tingkt kesulitannya tdk sesulit bw mobil manual. Bljar mobil automatic sbnarnya spt blajr bom-bom car. Tdk ada ujian berat utk blajar kseimbangan gas-rem-kopling scara simultan. </i><i><span>Benar2 cukup konsentrasi agar mobil bjlan di alur shrsnya shg tdk ganggu mobil2 laen ada di jln.</span></i></font><i><span><font face="Times New Roman"> </font></span></i><i><span><font face="Times New Roman">Ayh benar2 mau memaknai perjalanan dr ‘pelajaran mengemudi mobil’ adik kita Masyithat muda secara real di atas jalan &#8230; </font></span></i></p>
<p><i><span><font face="Times New Roman">Ada pelajaran hidup berharga dan lbh susah, yaitu bgmna mengendalikan diri kita di atas jln sebuah kehidupan hakiki. Nda pernah lihat salah satu foto di FS ayh yg berjudul ‘Belajar Mengendalikan diri’. Ya &#8230; itulah yg ingin ayh pelajari. </font></span></i><i><span><font face="Times New Roman"> </font></span></i><i><font face="Times New Roman"><span>Jd inget ayh slama pjalanan jg bawa buku ‘The Sacret’-nya Rhonda Byrne yg dipinjam dari perpus UM. </span>(Maksih buat teh Ika stat99 yg nyaranin baca buku ini). Baru di bbrp halaman awal aja emang buku ini menyiratkan ada sesuatu yg cukup menakjubkan. Srasa, termasuk buku itu, benar2 semua berkait dlm pikiran sy memaknai hidup ini.</font></i><i><font face="Times New Roman"> </font></i><i><font face="Times New Roman">Kata2 awal di buku itu mengatakan betapa kuatnya sebuah ‘pikiran’ pengendalikan diri kita. Kita akan terus terbawa oleh sesuatu yg selalu menghantui diri kita. So … kyknya emang pencurahkan energi utk hal2 yg lbh berguna akan lbh baik, Kendali hidup kita … ada dlm diri kita. Kyknya jgn terlalu peduli dgn kata2 orang selama tdk penting bagi kita …</font></i><i><font face="Times New Roman"> </font></i></p>
<p><i><font face="Times New Roman">Nda, kata2 orang kadang kita ga tau makna kebenarannya dan jg kita ga akan tau motif sbnarnya dlm apa yg dikatakannya. Biarlah urusan kebenaran makna menjadi urusanNya. Termasuk balasan dan konsekwensi dalam kehidupan selanjutnya. Kita? Ya … kita sih cukup menonton apa yg terjadi selanjutnya …Dlm waktu yg panjang akan nunjukkin sebuah kebenaran secara konsisten</font></i><i><font face="Times New Roman"> </font></i><i><font face="Times New Roman">Suatu fakta … sebuah prinsip hidup dasar yg sama dg salah satu prinsip dlm pelajaran statistika. Ga … tau, ayh tu seneng banget merhatiin perilaku org … blajar dr pengalaman waktu di astra jg bej dulu. Ktemu sesorg dg br berhadapan aja sdh bisa menaksir karakternya. Apalagi kalo ditambah dg ngobrol2 atau pengamatan terus2an ….</font></i><i><font face="Times New Roman"> </font></i><i><font face="Times New Roman"> </font></i></p>
<p style="margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman"></font></p>
<p style="margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman"><u>20 Maret 2008 – 14.25</u></font></p>
<p><i><font face="Times New Roman"> </font></i><i><span><font face="Times New Roman">Skrg sdh di IPS (Institute Pengkajian Siswazah = Istitut Pendidikan Pascasarjaba) … ngenet di hari libur ama temen2 … </font></span></i><i><span><font face="Times New Roman"> </font></span></i><i><font face="Times New Roman"><span>Nda, ma’afin ayh! Baru sadar kalo Ferrari merah td lupa ayh bw dan kyknya msh di Hunday-matrix. </span>Tp tenang aja, ayh sdh sms Masyithah muda. Titip utk dilihtin dan disimpenin. Insya Alloh … kyknya dia akan amanah dan dpt dipercaya </font></i><i><span style="font-family:Wingdings;"><span>J</span></span></i><i><font face="Times New Roman"> </font></i><i><font face="Times New Roman">Ayh jg lg coba kerjain data penelitian teman sejawat nda di Balikpapan itu. Nanti kalo dah beres dkrm lwt e-mail nda deh</font></i><i><font face="Times New Roman"> </font></i><i><font face="Times New Roman"> </font></i></p>
<p style="margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman"></font></p>
<p style="margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman"><u>20 Maret 2008 – 16.25</u></font></p>
<p><font face="Times New Roman"> </font><i><font face="Times New Roman">Stlah perjlanan 30 menit dr IPS … ayh sampe di kondominium yg di jl Ampang Hilir. Kalo nda masih inget Menara Great Eastern, letaknya bener2 di blk gedung itu. Walah … ternyta mreka masih jln2 di KLCC … luckily, satpam India-nya sdh kenal ayh … ampe kalo pas datang langsung bilang: “Mr. Tata, F-2-3 right?” … 3 hurup takhir ya unit dmn ayh akan datangi.</font></i><i><font face="Times New Roman"> </font></i></p>
<p><i><font face="Times New Roman">Awalnya bingung, mau ngapain. Alhamdulillah … bw laptop jd langsung turn-on deh. Biasanya suka ada WiFi gratis … di kondomonium mewah khan byk yg langganan internet tp tdk diblok aksesnya. Betul aja, ayh bisa akses internet. Tp tau ga ayh akses-nya? Di pinggir kolam renang … He … he … he … Sambil liatin kolam renang dan sedikit yg renang-nya </font></i><i><span style="font-family:Wingdings;"><span>J</span></span></i><i><font face="Times New Roman"> </font></i><font face="Times New Roman"><i>Ayh jg sign-in YM, hanya nda dak OL. </i><i><span>Yg ada adik2 kita stat02. Ada intan ada ratih. </span></i></font></p>
<p><font face="Times New Roman"><i><span></span></i></font><i><span><font face="Times New Roman">Biasa .. ayh mah sok akrab &#8230; ya ngobrol macem2, dr mulai yg sok statistik ampe cerita kalo ayh pd saat ngenet dan mau ngaji make jeans ama kemeja lengan pendek. Kt ayh, ayh mah ustadz koboi &#8230; ktnya sih bukan penampilan tapi &#8230; apa yg dilakukan.</font></span></i><i><font face="Times New Roman">Tp nda jg tau kan? Justru karena penampilan jg ampe mau lulus sarjana ga punya temen istimewa … </font></i><i><span style="font-family:Wingdings;"><span>J</span></span></i><i><font face="Times New Roman"> </font></i><i><font face="Times New Roman"><span>Dan penampilan sekarang kyk koboi gini? </span>Mudah2an aja ga pengaruh apa2 &#8230;</font></i><i><font face="Times New Roman"> </font></i><font face="Times New Roman"> </font></p>
<p style="margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman"></font></p>
<p style="margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman"><u>20 Maret 2008 – 17.20</u></font></p>
<p><i><font face="Times New Roman"> </font></i><i><font face="Times New Roman">Anak2nya br datang … ya … ayh mulai ngajar dengan penuh tantangan. Walahhhh … emang bener2 kt org2 .. ngajar kdang2 jd ujian kesabaran.ada aja. Ada yg ga mau diem duduknya, tp untungnya<span>  </span>dia sbnarnya mnangkp dan hapal. Kakaknya yg wanita awalnya mogok ga mau tp liat adiknya semangat, dia pun akhrinya 1-2 hurup mau. Semuanya ditutup dg sholat ashar berjamaah.</font></i><i><font face="Times New Roman"> </font></i></p>
<p><i><font face="Times New Roman">Dan tau ga Nda? Mereka sempet nanya baju ayh, mreka Tanya mana baju ngajinya?<span>  </span>Kali mereka heran melihat ayh pake baju + celena spt. Emang sih blm pernah sblmnya<span>  </span>… Ternyata mereka yg kecil jg msh merhatiin penampilan …</font></i><i><font face="Times New Roman"> </font></i><i><font face="Times New Roman">Ayh pas sdh di depan pintu dan lg mo pamit ama bapak-nay kedua anak2 itu ktika Nda telp. Ma’af … ayh ga ngobrol lama, ga enak ama meraka ( iya … bapak ama ibunya yg lg ngajak ngobrol serius ayh ..). Stlah itu jg ayh buru2 … harus langsung ke Ara Damansara yg skitar 36km dr jl ampang hilir itu. Dan sdh jam 18.15an lg … dan hujan pun msh turunnnn</font></i><i><font face="Times New Roman"> </font></i><i><font face="Times New Roman">Dan sblm pulang, tiba2 ngasih kantong plastic yg bertuliskan Breadtalk … Ktnya buat ustadz krn ga disuguhin. Ya … krn ayh msh puasa … Gak disangka ga dinyana tiba2 dpt rejeki … hikmah apa ya?</font></i><i><font face="Times New Roman"> </font></i><i><font face="Times New Roman"> </font></i></p>
<p><em><font face="Times New Roman"></font></em></p>
<p style="margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman"><u>20 Maret 2008 – 19.00</u></font></p>
<p><font face="Times New Roman"> </font><i><font face="Times New Roman">Pas jam 7 malam ayh nyampe … brarti ayh naek motor di bwh gerimis hujan sekitar 40 menit. Semuanya lancar termasuk bebas pemeriksaan di pos satpam depan komplek-nya krn sdh kenal ayah …</font></i><i><font face="Times New Roman"> </font></i><i><font face="Times New Roman">Alhamdulillah … skrg anak2 di sini ngajinya sdh lbh mudah diatur … sdh pada ngerti sendiri. Jd waktu setengah jam ke magrib dpt digunain dg lancar … Terus ditutup ama bejamaan sholat magrib … bertiga ditambah ama bibi-nya.</font></i><i><font face="Times New Roman"> </font></i></p>
<p><i><font face="Times New Roman"><span>Coba hikmah apa yg ayh dpt hr ini si sana? Ternyata hr ini disediainnya teh manis aja. Biasanya suka ada kolak, bubur kacang dg ketan item atau bahkan makan besar. </span>Hr ini mungkin sibuk &#8230; tapi ya jangan salah! Khan sdh ada Breadtalk dr ampang hilir. Jwban hikmah yg tdk lbh dr 2 jam &#8230; </font></i><i><font face="Times New Roman"> </font></i><i><font face="Times New Roman">Nah! Ternyata inilah makna sebuah rejeki … akan selalu ada sesuatu yg kita dptkan. Ya khan? So …. Knp kita kadang msh suka putus asa ya, Nda?</font></i><i><font face="Times New Roman"> </font></i><i><font face="Times New Roman">Sehabis sholat magrib ya … ayh pulang!</font></i><i><font face="Times New Roman"> </font></i><i><font face="Times New Roman"> </font></i></p>
<p style="margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman"></font></p>
<p style="margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman"><u>20 Maret 2008 – 20.20</u></font></p>
<p><font face="Times New Roman"> </font><font face="Times New Roman"><i>Ayh sampe ke apartment dan istirahat bentar. Abis sholat isya langsung pergi lg ke IPS. Biasa mo ngenet lg .. cari bahan ama gaul sesame temen mahasiswa. But, sblmnya hrs ktemu Budi anak Master – Bhs Inggris, mau ngasih questioner Dr Syed tahap k2 yg skitar 300 itu. </i><i><span>Kbtulan dial lg jaga di warnet yg ada di Vista Apartment, di tengah2 perjlnan. </span>Ayh ga kuat lg lah &#8230; key in sedniri. Kmrn dag nyoba ada 77 data tiap quest-nya rata2 2,5-3 menit. Makanya minta tolong dia jd assistant ayh &#8230;. he &#8230; he &#8230; he … </i></font></p>
<p><font face="Times New Roman"><i>Makanya makasih banget ada Budi yg mau bantuin … cuman blm tau brp byrnya. Si Dr jg belum kasih rate-nya</i></font><i><font face="Times New Roman"> </font></i><i><font face="Times New Roman">Pas mau keluar mau nabrak org … tdnya mau disumpah serapah … eh… ternyata bang Mukhlis, Ketua PPI (persatuan pelajar Indonesia) UM periode lalu. Ternyata dial lg menunggu bang Edward mau ke IPS juga … jd ngobrol aja di pinggir jln nunggunya. Oh .. ya bang Edward adalah yg ngasih pinjem ayh CD windows original waktu install ulang laptop abis ganti motherboard-nya …</font></i><i><font face="Times New Roman"> </font></i></p>
<p><i><span><font face="Times New Roman">Obrolan ama bang Mukhlis rame lah … dr mulai yg serius ttg kondisi Negara, perbandingan sosial budaya Malaysia-Indonesia sampe ngomentarin orang lewat. Malu mau bilang ke nda &#8230; abis pasti kbykan yg dikomentarinya Cik2 ama puan2 mudanya. Maklum bang mukhlis blm nikah khan &#8230;</font></span></i><i><span><font face="Times New Roman"> </font></span></i><i><span><font face="Times New Roman">Di akhir obrolan &#8230;yg agak berat adalah ttg kemungkin terhentinya dia dr pekerjaannya. Yg berpengaruh ama pengetatan ikat pinggang. Dan dia jg minta dilibatin di proyek Dr itu nyambung2 hidup kt dia. Jd ngukur diri nih &#8230; hrs bener2 bersyukur &#8230; ktika org laen kebingungan. Tanpa ba &#8230; bi .. bu ayh kedatangan kerja suruh analisis dan dijadiin Team Project … meski blm tau brp bayarannya tp ayh mah bersyukur lah … bisa Bantu Dr itu juga. Mudah2an jd jln ayh lbh lancar tesis nya &#8230; Kyk dulu dg pa Septi di statUnpad</font></span></i><i><span><font face="Times New Roman"> </font></span></i></p>
<p><i><span></span></i></p>
<p><i><span></span></i><u><span><font face="Times New Roman">20 Maret 2008 – 22.03</font></span><span><font face="Times New Roman"> </font></span></u></p>
<p><span></span><i><font face="Times New Roman">Akhirnya nyampe lg di IPS &#8230; beriringan 3 jejaka. He &#8230;. he … he .. ayh ikutan mereka yg emang benr2 msh lajang. Sdh ada team tetap di sebuah rungan kelas IPS itu. Ada 6 kalo ga salah, ditambah satu mhsiswa Cina langsung dr daratannya. Ditambah lagi ceu Een dr Karawang yg sedang ambil master drama. S1-nya di UPI bandung …</font></i><i><font face="Times New Roman"> </font></i><i><font face="Times New Roman">Ayh nerusin ngolah data temen nda tea … ditambah balas2 email di yahoo ama liat FS bentar. Biasa lah sambil diselingi diskusi atau berdebat seru diantara temen2 … ayh sih … sambil melawan kantuk juga …</font></i><i><font face="Times New Roman"> </font></i></p>
<p><i><font face="Times New Roman"><span>Eh … ada noni ’94 ternyata di YM the nda! Nda dah lama gak ktemu dia rasanya. </span>Paling terakhir di stasion Bandung &#8230; pas nganter ayh pulang ke Jkt. Halahhh &#8230; ayh minta dia jd editor &#8230; He &#8230; he … he … kesimpulannya ternyata ayh blm layak lulus EYD-nya …</font></i><font face="Times New Roman"> </font><font face="Times New Roman"> </font></p>
<p style="margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman"></font></p>
<p style="margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman"><u>20 Maret 2008 – 00.58</u></font></p>
<p><font face="Times New Roman"> </font><i><span><font face="Times New Roman">2 menit lg di Bdg .. jam 12 tengah malam. Kalo thn lalu pas ayh nyampe rumah ujung berung, skrg mah sendiri di KL.<span>  </span>Ayh telp nda &#8230; ternyata nda dah mau tidur &#8230; anak2 pun sdh sepi gak rame kyk taun dulu ya. Sabar ya, sayang! Ayh ga bisa berkata2 &#8230; </font></span></i><i><span><font face="Times New Roman"> </font></span></i><i><span><font face="Times New Roman">Mudah2an di hari bahagia nda tahun ini &#8230; akan terus menjd kebahagian kita selanjutnya. Dan ayh cepet kembali bergabung ama keluarga &#8230;Mudah2an nda mampu ayh bahagiain &#8230;</font></span></i><i><span><font face="Times New Roman"> </font></span></i><i><font face="Times New Roman">OK &#8230; datanya nanti ayh kerjain deh &#8230;</font></i><i><font face="Times New Roman"> </font></i><i><font face="Times New Roman"> </font></i></p>
<p style="margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman"></font></p>
<p style="margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman"><u>21 Maret 2008 – 01.45</u></font></p>
<p><font face="Times New Roman"> </font><font face="Times New Roman"><i>Dah gak kuat … ampir ngantuk … hrs pulang. Menempuh pjalanan skitar 3 km … ditengah balutan embun pagi … Ya … 15 selanjutnya emang sdh nyampe apartment. </i><i><span>Di kamar pun ga ada yg istimewa selain buku yang berserakan. Kasur busa tebel yg ayh beli sdh lama ga dipake &#8230; disandarin aja di dinding. Males &#8230; takut terlalu nyenyak &#8230; biar di atas karpet yg dulu bang Kamal (Bursa Malaysia) kasih aja &#8230;</span></i></font><i><span><font face="Times New Roman"> </font></span></i><i><font face="Times New Roman">Ayh baca ‘the secret’ bentar .. eh &#8230; ketiduran …</font></i><i><font face="Times New Roman"> </font></i><i><font face="Times New Roman"> </font></i></p>
<p style="margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman"></font></p>
<p style="margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman"><u>21 Maret 2008 – 02.15</u></font></p>
<p><font face="Times New Roman"> </font><i><font face="Times New Roman">Kebangun ama sms dr nda : “Kalimat yg pling indah didengar perempuan ad honey-I love u-sdgkan yg didengar lelaki: aku bangga padamu. I ya-yah?</font></i><i><font face="Times New Roman"> </font></i><font face="Times New Roman"><i>Ayh cumin bsa tersenyum dan gak bisa bales krn pulsanya abis waktu nelp nda tadi. </i><i><span>Jgn marah ya! </span>Td nya ayh gak tau mo abis, krn td ka ngobrolin soal data penelitian temen sejawat nda tea.. </i><i><span>Yg pasti ayh selalu ‘I love u’ … pd nda &#8230;</span></i></font><i><span><font face="Times New Roman"> </font></span></i><span><font face="Times New Roman"> </font></span></p>
<p><span></span></p>
<p><span></span><u><span><font face="Times New Roman">21 Maret 2008 &#8211; 03.44</font></span><span><font face="Times New Roman"> </font></span></u></p>
<p><span></span><i><font face="Times New Roman"><span>Biasa &#8230; kabangun lg, liat jam, msh lbh dr 2 jam adzan subuh-nya. </span>Bangun juga deh, ke air, sholat, berdo’a, buka Al-qur’an &#8230; stlh itu ya merenung lagi. Hari ini rasanya ga ada yg ditulis … dan hanya memandang buku2 kuliah yg sdh bbrp hr ini tdk ayh beresin … tp bgelatakan saja di atas karpet dan meja belajar kecil … </font></i><i><font face="Times New Roman"> </font></i><i><font face="Times New Roman">Terus milih baju dan celana yg akan dipake hr ini. Ayh rasanya dah bilang ke nda kalo hr ini akan pergi ke Kawasan Industri Shah Alam. Nganter temen yg laptop Toshiba rusak ke Toshiba Service Centre … Selain itu pastinya ke perpust lagi spt biasa</font></i><i><font face="Times New Roman"> </font></i><i><font face="Times New Roman"> </font></i></p>
<p style="margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman"></font></p>
<p style="margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman"><u>21 Maret 2008 – 06.03</u></font></p>
<p><font face="Times New Roman"> </font><i><font face="Times New Roman">Kebangun sekitar 10 menit sebelum subuh. Gak tau td ketiduran. Tangan sih msh megang buku The 8 Habit-nys covey. Takut kburu adzan subuh terus langsung mandi, dlsb. Sholat dan ngaji spt biasa ….</font></i><i><font face="Times New Roman"> </font></i><i><font face="Times New Roman"> </font></i></p>
<p style="margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman"></font></p>
<p style="margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman"><u>21 Maret 2008 – 07.05</u></font></p>
<p><i><font face="Times New Roman"> </font></i><i><font face="Times New Roman">Sepagi gini … dah nongkrong di IPS lagi … bentar sih, Cuma mo krm file olahan data pesenan nda aja. Enakan ngenet di kampus ternyata, lbh cepet akses-nya dan yg jelas mah gratissss </font></i><i><span style="font-family:Wingdings;"><span>J</span></span><font face="Times New Roman"> </font></i><i><font face="Times New Roman"> </font></i><i><font face="Times New Roman"> </font></i></p>
<p style="margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman"></font></p>
<p style="margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman"><u>21 Maret 2008 – 08.55</u></font></p>
<p><i><font face="Times New Roman"> </font></i><i><font face="Times New Roman">Nyampe di rumah temen Melayu yg mau betulin laptop ke Service centre-nya Toshiba di Kawasan Industri Sham Alam …Gak tau nih dlm eposide akhir kuliah the bagean deketnya ama temen2 orang Melayu. Awal2 dulu deketnya ama orang2 India … kemudin dipertengahan bergeser ke orang Cina. Sekarang merasa lbh deket ama mereka dr Melayu. Secara umum ya … lbh deket dan lbh komunikatif … lbh terbuka. Kali syndrome mau berpisah begitu …</font></i><i><font face="Times New Roman"> </font></i></p>
<p><i><font face="Times New Roman">Jam 9 brangkt. Slain ayh nanya2 ke customer service ttg penyakit laptop- nya, nothing special.Penyakitnya sama dgn laptop ayh dulu, rusak motherboard-nya. Biasanya mahal lagi</font></i><i><font face="Times New Roman"> </font></i><i><font face="Times New Roman"> </font></i></p>
<p style="margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman"></font></p>
<p style="margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman"><u>21 Maret 2008 – 14.45</u></font></p>
<p><i><font face="Times New Roman"> </font></i><font face="Times New Roman"><i>Abis jum’atan ya perjalanan panjang lah … menapaki perjuangan di 5 rumah ngajar iqro plus ngaji tea. Ya jalani aja kan kt nda juga. </i><i><span>Mulai di Kondominium yg di jl Tun Razak, di Ampang Kosas, di Taman TAR, di Bukit Indah ampe di KondominiumTiara Intan dimana dulu sama anak2 tinggal &#8230; Kalo ga ada nda yg nyemangin ayh &#8230; kyknya susah ayh mau melangkahkan kaki &#8230; makasih ya sayang!</span></i></font><i><span><font face="Times New Roman"> </font></span></i><i><span><font face="Times New Roman"> </font></span></i></p>
<p style="margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman"></font></p>
<p style="margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman"><u>21 Maret 2008 – 21.10</u></font></p>
<p><i><font face="Times New Roman"> </font></i><i><font face="Times New Roman">Ketika datang … bapak-nya Fitri hanya bilang abis bubar ngaji + sholat … minta dao’a krn Fitri berhari jadi hri ni ktnya. Ya … udah abis beres sholat berjamaah di dalam bilik (kalo di kita khan kamar), ayh pimpin aja anak2 berdoa khusus … eh, ternyata di luar, tenagh rumah, pas bubaran terlihat meja sdh siap dengan makanan, minuman serta kue ultah …</font></i><i><font face="Times New Roman"> </font></i><font face="Times New Roman"><i><span>Ayh diminta do’a lagi … asli ampe berkaca2 … inget nda! </span>Liat kur ultah bertulis ‘Happy Birthday- 21 Mac 2008’. </i><i><span>Nda msh inget kalo Mac di KL sama dg Maret di kita.? Tahun ini ayh gak tahu pasti ada kue ultah lagi ga di Bandung &#8230; </span></i></font></p>
<p><font face="Times New Roman"><i><span>Makanya ayh terus berimajinasi kalo kue itu kue ultah nda &#8230; dan tak nyana ketika kue dipotong itu, pertama kali dia kasih ke ayh potongannya &#8230; Persis spt tahun lalu ktika nda kasih potongan kue ultah pertama ke ayh &#8230;</span></i></font><i><span><font face="Times New Roman"> </font></span></i><i><span><font face="Times New Roman">Slamat ultah, sayang!</font></span></i></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/wirasasmita.wordpress.com/9/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/wirasasmita.wordpress.com/9/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/wirasasmita.wordpress.com/9/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/wirasasmita.wordpress.com/9/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/wirasasmita.wordpress.com/9/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/wirasasmita.wordpress.com/9/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/wirasasmita.wordpress.com/9/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/wirasasmita.wordpress.com/9/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/wirasasmita.wordpress.com/9/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/wirasasmita.wordpress.com/9/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/wirasasmita.wordpress.com/9/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/wirasasmita.wordpress.com/9/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/wirasasmita.wordpress.com/9/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/wirasasmita.wordpress.com/9/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/wirasasmita.wordpress.com/9/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/wirasasmita.wordpress.com/9/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=wirasasmita.wordpress.com&amp;blog=2385003&amp;post=9&amp;subd=wirasasmita&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://wirasasmita.wordpress.com/2008/03/26/kado-ultah-istri-tercinta-catatan-harian-seorang-suami/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/8608597a13ba37ecb6920e3714f48d80?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">wirasasmita</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>[Kado Ultah Istri Tercinta] Selalu Yang Terbaik</title>
		<link>http://wirasasmita.wordpress.com/2008/03/19/kado-ultah-istri-tercinta-selalu-yang-terbaik/</link>
		<comments>http://wirasasmita.wordpress.com/2008/03/19/kado-ultah-istri-tercinta-selalu-yang-terbaik/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 19 Mar 2008 23:46:14 +0000</pubDate>
		<dc:creator>wirasasmita</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://wirasasmita.wordpress.com/2008/03/19/kado-ultah-istri-tercinta-selalu-yang-terbaik/</guid>
		<description><![CDATA[[Untuk pertama kalinya setelah menikah, Ayh tidak berada disampingkan pada Ultah Bunda di 21 Maret 2008. Ayh mencoba untuk merasakan beratnya perjalanan Bunda membimbing anak-anak kita. Selamat Ulang Tahun, Bunda! I love you so much!]    Rolex yang melingkar di tanganku hampir merangkai waktu pukul 10 malam ketika tiba di rumah malam itu. Waktu yang [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=wirasasmita.wordpress.com&amp;blog=2385003&amp;post=8&amp;subd=wirasasmita&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">[<b><i>Untuk pertama kalinya setelah menikah, Ayh tidak berada disampingkan pada Ultah Bunda di 21 Maret 2008. Ayh mencoba untuk merasakan beratnya perjalanan Bunda membimbing anak-anak kita. Selamat Ulang Tahun, Bunda</i>! <i>I love you so much</i>!</b>]</font></p>
<p><font face="Times New Roman"> </font><font face="Times New Roman"> </font></p>
<p style="margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">Rolex yang melingkar di tanganku hampir merangkai waktu pukul 10 malam ketika tiba di rumah malam itu. Waktu yang hampir selalu sama ditunjukkan oleh jam tangan indah hadiah ulang tahun dari ayahnya Farih tiga tahun lalu dan selalu melingkar kemana pun kupergi. Sebuah hadiah ulang tahun yang sekaligus juga hadiah atas promosiku ke posisi tertinggi di sebuah rumah sakit terbesar di daerah Cibubur saat ini. </font></p>
<p><font face="Times New Roman"> </font><font face="Times New Roman"> </font></p>
<p style="margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">Bersamaan dengan mang Dirman mengunci pintu garasi, pintu masuk ke ruang tengah dapur pun dibuka oleh bi Inah. Mereka adalah sepasang suami istri yang menemaniku tinggal di rumah yang hampir seluas 500 meter persegi di sebuah perumahaan di daerah yang tak jauh dari rumah sakit yang selama ini aku pimpin. </font></p>
<p><font face="Times New Roman"> </font><font face="Times New Roman"> </font></p>
<p style="margin:0 0 0 0.5in;" class="MsoNormal"><i><font face="Times New Roman">“Gimana hari ini, bi Inah?”</font></i></p>
<p><font face="Times New Roman"></font></p>
<p style="margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">Sapaan yang selalu kuberikan ke bi Inah untuk mengetahui keadaan rumah setelah seharian kutinggalan. Bi Inah-lah yang mengurus semua keperluan rumah Dialah yang mengatur semua keperluan makan untuk semua yang ada di rumah. Dari mulai keluarga intiku yaitu Anin, Farih, Faiz, dan Farrah juga Sardi, Ipah serta bi Inah sendiri. </font></p>
<p><font face="Times New Roman"> </font><font face="Times New Roman"> </font></p>
<p style="margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">Seperti biasanya setiap hari aku akan memeriksa semua keadaan rumah dan semua penghuninya meski rasa letih sekali pun. Malam ini pun semangatku tetap sama, meski terdengar ada bunyi panggilan dan sms datang di HP pun semuanya kubiarkan saja karena ingin segera memulai tanggung jawabku yang satu ini.</font></p>
<p><font face="Times New Roman"> </font><font face="Times New Roman"> </font></p>
<p style="margin:0 0 0 0.5in;" class="MsoNormal"><i><font face="Times New Roman">“Semuanya baik, neng. Tadi pun bibi sempat nganter Anin<span>  </span>nyari bahan kebaya yang Neng diminta kemarin”</font></i></p>
<p><font face="Times New Roman"></font></p>
<p style="margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">Anin adalah neneknya anak-anakku, yang sejak memasuki masa pensiunnya sebagai Kepala SD telah memutuskan untuk tinggal bersama dengan keriangan cucu-cucunya di Cibubur. Keputusannya yang membantu memberikan sentuhan kasih sayang seorang nenek kepada anak-anakku, juga ternyata semakin terasa keberadaannya pada akhir-akhir ini ketika aku semakin terkuras oleh kesibukan kerja.</font></p>
<p><font face="Times New Roman"> </font><font face="Times New Roman"> </font></p>
<p style="margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">Terlihat dari celah pintu kamarnya, Anin masih sedang khusyu berdo’a di atas sejadah sembahyangnya. Di rumahku ini, untuk kemudahan dan karena dia tidak terlalu senang naik turun tangga, Anin memilih kamar tidur yang ada di sebelah ruang utama di lantai bawah. Bagiku selama beliau senang, aku menyerahkan kamar mana yang akan dipilih. Dan beliau pilih kamar utama yang sebelumnya kosong, di sebelah kamar tamu yang juga selalu kosong. </font></p>
<p><font face="Times New Roman"> </font><font face="Times New Roman"> </font></p>
<p style="margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">Aku tak mau mengganggu dulu kekhusyuan Anin dan terus berjalan ke arah tangga menuju lantai dua dimana tiga kamar tidur anak-anakku berada. Sebelum naik kuraih majalah wanita terbaru yang terletak di atas meja ujung tangga. Sedangkan Koran Republika dan Kompas yag tergeletak di sampingnya kubiarkan saja karena keduanya sudah kubaca tadi pagi sebelum berangkat kerja. </font></p>
<p><font face="Times New Roman"> </font><font face="Times New Roman"> </font><i><font face="Times New Roman">“Jangan lupa besok bayar tagihan koran dan majalah ya, bi!”</font></i><i><font face="Times New Roman">“Oh … sudah neng! Tadi siang sudah bibi bayar semua. Uangnya bibi pakai dulu uang belanja besok hari.”</font></i><i><font face="Times New Roman">“Makasih, bi! Sudah dikasih tau juga bulan depan tambah majalah Science-nya Faiz?”</font></i><i><font face="Times New Roman">“Sudah neng! Tadi hampir aja lupa, abis bibi juga susah mengeja judulnya. Untung aja Anin ngasih tau.”</font></i><i><font face="Times New Roman"> </font></i><font face="Times New Roman"> </font></p>
<p style="margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">Di tengah tangga, kuhentikan langkah sebentar melihat keanehan di sudut tanah belakang di samping kolam renang. Cukup jelas karena tepat di bawah sorotan lampu halogen.</font></p>
<p><font face="Times New Roman"> </font><font face="Times New Roman"> </font><i><font face="Times New Roman">“Apa itu kotak-kotak putih, bi?”</font></i><i><font face="Times New Roman">“Itu neng … kotaknya cep Faiz. Dan sudah minta jangan diganggu. Katanya sedang apa ya? Melakukan … ehm … reset apa?</font></i><i><font face="Times New Roman">“Riset, bi!”</font></i><i><font face="Times New Roman">“Oh … iya riset!. Tadi sore bersama-sama temen-temennya mengerjakannya sebelum mereka berenang. </font></i><font face="Times New Roman"> </font><font face="Times New Roman"> </font></p>
<p style="margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">Faiz anak keduaku memang senang melakukan aktivitas seperti itu. Sering kali halaman belakang rumah acak-acakan atau kolam renang menjadi kotor karena hasrat keingintahuannya. Dia sekarang sudah hampir 15 tahun dan sudah duduk di kelas 3 SMP. Dari sisi keinginan, Faiz dengan terus terang akan mengutarakannya kepadaku atau ayahnya. Tahun depan, Faiz pun sudah berkeinginan untuk belajar di SMA 3 Bandung. Salah satu SMA favorit dimana 20 tahunan ke belakang aku juga belajar di sana.</font></p>
<p><font face="Times New Roman"> </font><font face="Times New Roman"> </font></p>
<p style="margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">Kulanjutkan langkah menaiki setengah tangga berikutnya setelah tidak melihat lagi hal yang memunculkan kepenasaranku. Di ujung tangga masih terlihat terangnya kamar Faiz. Dan melalui celah pintu yang terbuka, terlihat Faiz sudah terbaring dengan nyenyaknya, mungkin karena kecapaian setelah bermain-main dengan temannya tadi. Aku pun tak berani lagi masuk untuk mebelainya. Dan kututup rapat pintunya.</font></p>
<p><font face="Times New Roman"> </font><font face="Times New Roman"> </font></p>
<p style="margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">Kubalikan badan membelakangi pintu yang telah kututup. Bi Inah masih setia di sebelah kananku. Berikutnya kamar di sebelah kiriku. Lampunya masih menyala terang kelihatannya si penghuninya masih belum tidur. Pintunya pun masih belum tertutup rapat. Ada kebiasaan yang membuatku bangga di rumah ini. Kalau tidak dalam keadaan berbeda, pintu kamar selalu tidak ditutup rapat. Menadakan selalu terbuka dan meminimalkan ketertutupan sikap anak-anakku. Dan aku pun sudah tahu, kalau pintu benar-benar tertutup, menandakan kalau mereka sedang ada dalam hal benar-benar pribadi dan tidak mau diganggu.</font></p>
<p><font face="Times New Roman"> </font><font face="Times New Roman"> </font><i><font face="Times New Roman">“Hai … my little angle!”</font></i><i><font face="Times New Roman"> </font></i><font face="Times New Roman"> </font></p>
<p style="margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">Kalimat lanjut yang kuucapkan ketika menolehkan kepala ke dalam kamar dan salamku dijawab oleh Farrah.</font></p>
<p><font face="Times New Roman"> </font><font face="Times New Roman"> </font><i><font face="Times New Roman">“What are you doing actually?”</font></i><i><font face="Times New Roman">“Just browsing the internet, Bunda! Cari bahan-bahan tentang persahabatan”</font></i><a name="OLE_LINK2" title="OLE_LINK2"></a><a name="OLE_LINK1" title="OLE_LINK1"></a><span><i><font face="Times New Roman">“Do you really need it? Untuk apa …?”</font></i></span><span></span><span></span><i><font face="Times New Roman">“Bukan untuk Farrah, Bunda! Tapi untuk Rizal. Dia dapet tugas dari gurunya … He … he … he …”</font></i><i><font face="Times New Roman"> </font></i><font face="Times New Roman"> </font></p>
<p style="margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">Rizal! Ya … nama seorang anak yang berperangai baik anak seorang pegawai PT Jasa Magra. Dia dan Farrah tidak satu sekolah. Awal pertemanan mereka adalah di Taman Pendidikan Agama salah satu mesjid di pinggir perumahan. Walau keluarga sangat sederhana dan banyak keterbatasan, dia sangat rajin dan menjadi juara umum di sekolahnya. Dia pun sering datang bermain ke rumah.</font></p>
<p><font face="Times New Roman"> </font><i><font face="Times New Roman">“Farrah! Dengar ya … “</font></i><i><font face="Times New Roman">“Ya … Bunda!”</font></i><i><font face="Times New Roman">“ Jangan berfikir Bunda melarang kamu menolong orang lain. Yang lebih penting lagi kita jangan membuat seseorang tergantung kepada siapapun!”</font></i><i><font face="Times New Roman">“I’m really sorry! Farrah gak niat seperti itu, Bunda!”</font></i><i><font face="Times New Roman">“Bagusnya, kalo memang dia gak bisa akses internet. You can offer him using downstairs computer. Kan sudah lama ga ada yang pake.”</font></i><font face="Times New Roman"> </font><font face="Times New Roman"> </font></p>
<p style="margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">Farrah memang karakternya sepertiku sewaktu kecil. Terlalu baik kalau mau menolong orang sehingga suka merepotkan dirinya sendiri. Sesuatu yang sangat tidak disenangi oleh ayahnya yang selalu menyuruh orang untuk berusaha sendiri apalagi yang berhubungan dengan tugas dan tanggung jawab. Dan sekarang, aku harus mencoba untuk mengajarkannya lagi sebagimana ayahnya akan ajarkan.</font></p>
<p><font face="Times New Roman"> </font><font face="Times New Roman"> </font><i><font face="Times New Roman">“Ok … Selesaikan terus cepat tidur! ”</font></i><font face="Times New Roman"> </font></p>
<p style="margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">Dan kupeluk anak perempuanku satu-satunya itu. Kukecup kedua pipnya dan keningnya. Kupandang dia lekat-lekat. Dia ternyata semakin dewasa. Tingginya pun sudah akan melampaui bahuku. Farrah yang kulahirkan 11 tahun yang lalu sekarang sudah kelas 1 SMP. Ada rasa yang membeda memperhatikan anak gadisku dibandingkan dengan kepada kedua kakaknya. Menghadapi anak perempuan begitu banyak resikonya. Telah banyak cerita positif dan banyak pula cerita negatif yang<span>  </span>yang didapat. Tapi aku harus mampu bijaksana dan berusaha sebaik-baiknya mendewasakan Farrah.</font></p>
<p><font face="Times New Roman"> </font><font face="Times New Roman"> </font></p>
<p style="margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">Satu lagi buah hatiku yang belum kutengok., si sulung Farih. Meski rasa capek mulai hinggap namun aku harus tetap menjalani tugasku sebagai sorang ibu untuk selalu memberikan sentuhan kasih sayangku. Meskipun tak begitu lama namun mampu berkesan di hari mereka.</font></p>
<p><font face="Times New Roman"> </font><font face="Times New Roman"> </font></p>
<p style="margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">Dengan sisa-sisa tenaga kulangkahkan kaki ke kamar anakku yg sulung, Farih. Dia yang rasanya baru kemarin belajar berjalan, sekarang sudah kelas 3 SMA. Umurnya pun sudah 18 tahun. Rasanya baru kemarin dia dipangku dan digendong ayahnya kalau jalan-jalan ke Cibubur Junction. Sekarang sudah tumbuh besar, jauh lebih tinggi dari tinggi bandanku. </font></p>
<p><font face="Times New Roman"> </font><font face="Times New Roman"> </font></p>
<p style="margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">Pintu kamarnya juga terbuka. Terlihat begitu seriusnya dia menulis di meja tulisnya dengan <i>earphone</i> terpasang di telinganya. Sementara di sebelahnya laptop yang baru diberikan sebagai hadiah ulang tahunnya kemarin tetap menyala dan terlihat ada beberapa window <i>chatting</i>. Awalnya ragu untuk mengganggunya, namun naluri ibu menggiringku memasuki kamarnya. Kupegang pundaknya. Dia pun menolah dan tersenyum.</font></p>
<p><font face="Times New Roman"> </font><font face="Times New Roman"> </font><i><font face="Times New Roman">“Bunda dah pulang? Kok gak kedengaran ..”</font></i><i><font face="Times New Roman"> </font></i><font face="Times New Roman"> </font></p>
<p style="margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">Pertanyaannya tak kuhiraukan dan kucium kedua pipi serta keningnya. Aku tahu sekali sifat anakku yang sulung ini. Kalau sedang serius pasti tidak mau diganggu sampai dia menyelesaikan pekerjannya atau dia sendiri yang mendatangi kita. Persis dengan kebiasaan ayahnya. </font></p>
<p><font face="Times New Roman"> </font><i><font face="Times New Roman">“Ok … my nice son. Have a good work. I will take a rest for a while”</font></i><i><font face="Times New Roman">“Thanks … Bunda! I will finish it first and then we get a chat.”</font></i><font face="Times New Roman"> </font><font face="Times New Roman"> </font></p>
<p style="margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">Kutinggalkan Farih yang kembali tenggelam dalam keasyikan belajarnya. Dia sekarang begitu mandiri, segala sesuatu dia lakukan dan selesaikan sendiri. Jauh sekali dari kekhawatiranku sebagai seorang Ibu di awal-awal dia masuk SD. Dulu dia susah diatur dan sangat malas untuk membuka buka. Segala sesuatu harus diingatkan lebih dari tiga kali. Namun sekarang dia tumbuh menjadi anak tampan yang sangat bertanggung jawab. Di sekolahnya pun, sebuah sekolah internasional di daerah Cibubur, dia menjadi pemimpin bagi teman-temannya.</font></p>
<p><font face="Times New Roman"></font></p>
<p style="margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">Di ruang keluarga lantai dua di tengah-tengah kamar anak-anak kupandang sekeliling. Ternyata bi Inah pun masih setia berdiri di samping agak belakangku. Seperti biasa selalu menyertaiku sampai kuperbolehkan untuk pergi. Kupandan dia sambil tersenyum. Sebelum kubicara sesuatu, dia pamit duluan.</font></p>
<p><font face="Times New Roman"> </font><font face="Times New Roman"> </font><i><font face="Times New Roman">“Neng … pamit dulu! Mau menyambut sangkeu. He … he … he …”</font></i><font face="Times New Roman"> </font></p>
<p style="margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">Begitu dia mengistilahkan mang Dirman, suaminya, yang telah seharian dari pagi setia pula menemani dan menyertaiku. Mang Dirman yang selalu mengemudikan Mercy merah seri terbaruku. Pasangan yang sangat rukun dan mau selalu membantuku.</font></p>
<p><font face="Times New Roman"> </font><font face="Times New Roman"> </font><i><font face="Times New Roman">“Ini air the manisnya sudah bibi buatkan. Masih hangat kok neng.”</font></i><font face="Times New Roman"> </font><font face="Times New Roman"> </font></p>
<p style="margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">Dia letakan gelas air minumku di atas meja yang terletak di tengah-tengah ruang keluarga itu.</font></p>
<p><font face="Times New Roman"> </font><font face="Times New Roman"> </font><i><font face="Times New Roman">“Bibi ke bawah dulu, neng.”</font></i><i><font face="Times New Roman">“Bentar bi! … Ipah gimana sudah sempat di cek kehamilannya ke rumah sakit?”</font></i><i><font face="Times New Roman"> </font></i><font face="Times New Roman"> </font></p>
<p style="margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">Ipah adalah adiknya bi Inah yang juga aku minta tinggal di rumahku untuk bantu-bantu bi Inah. Sejak tiga bulan yang lalu, setelah pernikahannya dengan Ipah, Sardi pun ikut tinggal bersamaku. Beruntung sekali aku, karena Sardi adalah pemuda yang serba bisa. Dari mulai mengurus kebun sampai mengemudi mobil. Jadi mang Dirman pun tidak perlu pontang-panting lagi.</font></p>
<p><font face="Times New Roman"> </font><font face="Times New Roman"> </font><i><font face="Times New Roman">“Tadi sudah pergi kok, neng! Tapi gak ketemu neng katanya. Hanya ngasihkan surat ke petugas di depan aja”</font></i><i><font face="Times New Roman">“Ya syukur atuh ….gimana hasilnya”</font></i><i><font face="Times New Roman">“Positif dan kondisinya bagus katanya”</font></i><i><font face="Times New Roman">“Alhamdulillah …Ya dah, bi Inah turun aja. Eh, bentar bi! Dari pagi tadi sampe sekarang perasaan ada yang mengganjal di otak ini tapi belum ketahuan. Apa ya bi?”</font></i><i><font face="Times New Roman">“Aduh … apa atuh, neng? Apalagi bibi gak tau ..”</font></i><i><font face="Times New Roman">“Ya … sudah aja biar nnati saya ingat-ingat lagi. Jangan lupa aja keperluan sekolah anak-anak besok …”</font></i><i><font face="Times New Roman">“He … he … he … semua beres, neng! Lagian besok kan libur …”</font></i><i><font face="Times New Roman">“Oh … iya! Lua saya bi. Bibi turun aja!”</font></i><i><font face="Times New Roman">“Makasih neng ….”</font></i><font face="Times New Roman"> </font><font face="Times New Roman"> </font></p>
<p style="margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">Seturunnya bi Inah, kurebahkan badanku di atas sofa di depan meja ruang keluarga. Kutarik nafas dalam-dalam untuk mengurangi kecapaian yang ada. Benar-benar letih sampai kulupa besok hari lubur. Majalah yang sejak tadi kupegang diletakan di atas meja. Kuraih gelas teh manis yang dibuatkan bi Inah. Kuminum sambil memandang ke depan. Sementara sesuatu yang mengganjal pikiran pun belum juga terpecahkan.</font></p>
<p><font face="Times New Roman"> </font><font face="Times New Roman"> </font></p>
<p style="margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">Tampak TV <i>flat screen</i> 29 inchi pun seakan hanya pajangan. Tak sering anak-anakku menyalakannya karena mereka tidak terlalu suka menonton acara-acara TV. Sejak mereka kecil kutidak membiasakan mereka nonton TV selain hari Sabtu atau Minggu. Itu pun kalau tidak diajak jalan-jalan bersama ayahnya ke luar rumah.</font></p>
<p><font face="Times New Roman"> </font><font face="Times New Roman"> </font></p>
<p style="margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">Rasa ngantuk mulai menyerang namun aku masih mau menikmati ruang tengah keluargaku ini. Melepas pandangan ke seluruh ruangan yang akhirnya terhenti pada foto keluarga yang dibingkai ukiran 2 kali 1 meter. Foto keluarga di Hari Idul Fitri tahun lalu beberapa hari sebelum ayahnya anak-anak pergi ke Belanda untuk meneruskan studi S3-nya. Kembali dia tinggalkan posisi bagusnya untuk mengejar bangku kuliah, seperti dahulu ketika mendapat kesempatan untuk sekolah S2-nya di Singapura.</font></p>
<p><font face="Times New Roman"> </font><font face="Times New Roman"> </font><i><font face="Times New Roman">“Ayah! Bunda hari ini cape sekali … Tapi ketika melihat anak-anak kita sudah pada besar sekolah kecapaian itu hilang. Do’akan Bunda terus mampu membesarkan mereka.”</font></i><font face="Times New Roman"> </font><font face="Times New Roman"> </font></p>
<p style="margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">Senyuman suamiku di foto keluarga itu tersirat sebagai jawaban atas permintaanku. Seorang lelaki, yang terkadang aku kerepotan menghadapi kekerasan keinginnya, yang aku selalu coba untuk setia dan mengabdi kepadanya. Ya … karena dia adalah suamiku. Dia yang memberikan kesempatan kepadaku untuk mengambil program spesialis di bidang dokter anak. Dan terakhir mendukungku penuh untuk mengambil master di bidang Manajemen Rumah Sakit. Semuanya membawa ke posisiku saat ini. Posisi yang banyak menyita habis waktu kehidupanku</font></p>
<p><font face="Times New Roman"> </font><font face="Times New Roman"> </font></p>
<p style="margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">Tadi pagi saja, aku sudah harus pergi meninggalkan rumah sebelum pukul 4 pagi karena ada panggilan mendadak untuk tindakan operasi di RSCM. Jam 9 pagi sudah harus ada di RS yg kupimpin karena harus menerima Tim Inspeksi dari Departemen Kesehatan dan Departemen Lingkungan Hidup untuk menyelesaikan masalah protes dari sebagian warga sekitar mengenai kebocoran limbah yang terjadi. Dari jam 2 sampai jam 6 sore tadi harus langsung memimpin rapat evaluasi implementasi sistem teknologi informasi. Beruntung tengah hari sempat instirahat sekitar 1,5 jam, kalau tidak mungkin aku sudah pinsan.</font></p>
<p><font face="Times New Roman"> </font><font face="Times New Roman"> </font></p>
<p style="margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">Tiba-tiba ada sebuah tangan yang memijit-mijit tanganku. Kutoleh ke sebalah kanan, ternyata tanpa kusadari Farih sudah duduk disebelah kananku. Aku pun sudah tahu kalu dengan cara begini, Farih biasanya mempunyai sesuatu yang ingin dia lakukan namun perlu mendapat ijinku. Sudah begitu hapal aku dengan gaya anak sulungku yang satu ini.</font></p>
<p><font face="Times New Roman"> </font><font face="Times New Roman"> </font><i><font face="Times New Roman">“Ada apa lagi, nak?”</font></i><i><font face="Times New Roman">“Ehm …. Farih ingin extend memory laptop, Bunda! Sekarang ternyata sudah terlalu penuh. Ya sekitar … 2 gigabyte lagi deh …”</font></i><i><font face="Times New Roman">“Memang perlu sekarang?”</font></i><i><font face="Times New Roman">“Iya … Farih harus segera install program baru yang akan dipakai untuk mengerjakan tugas sekolah”</font></i><i><font face="Times New Roman">“Oke … kalo gitu belilah sendiri. Uangnya pake dulu dari tabungan, kalau kurang … besok siang Bunda transfer”</font></i><i><font face="Times New Roman">“Siippppp … ok, Boss!”</font></i><font face="Times New Roman"> </font><font face="Times New Roman"> </font></p>
<p style="margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">Dalam waktu bersamaan terlihat Farrah, Anin serta Faiz yang tiba-tiba terbangun bergabung di ruang tengah keluarga dimana kududuk.</font></p>
<p><font face="Times New Roman"> </font><font face="Times New Roman"> </font><i><font face="Times New Roman">“Bunda besok ke Puncak-nya, Farih mau ajak Sarah, ya?”</font></i><font face="Times New Roman"> </font><font face="Times New Roman"> </font></p>
<p style="margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">Permintaan Farih berikutnya mengingatkanku acara jalan-jalan ke Puncak besok yang kebetulan hari Sabtu. </font></p>
<p><font face="Times New Roman"> </font><font face="Times New Roman"> </font><i><font face="Times New Roman">“Aduh ini anak Bunda. Boleh aja … kalau mobilnya cukup. Farrah mau ajak Rizal juga?”</font></i><font face="Times New Roman"> </font><font face="Times New Roman"> </font></p>
<p style="margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">Pertanyaanku kepada dijawab dengan senyum oleh Farrah. </font></p>
<p><font face="Times New Roman"> </font><i><font face="Times New Roman">“Asyiikkk … makasih Bunda”</font></i><i><font face="Times New Roman">“ Nahh …. Faiz mau ajak siapa?”</font></i><i><font face="Times New Roman">“Faiz sih &#8230; mau ajak Anin aja! Ha … ha … ha ….”</font></i><font face="Times New Roman"> </font><font face="Times New Roman"> </font></p>
<p style="margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">Jawaban Faiz disambut tertawa oleh semua yang ada di ruang keluarga. Faiz memang anakku paling cuek dalam hal berteman dengan lawan jenisnya. Sampai saat ini pun tidak pernah dia menunjukkan teman yang paling disukai. Padahal aku sendiri sangat memberi hak kepada mereka. Daripada aku larang dan mereka malah melakukannya secara sembunyi-sembunyi. </font></p>
<p><font face="Times New Roman"> </font><font face="Times New Roman"> </font><i><font face="Times New Roman">“Nanti dulu … siapa yang akan traktir nih?”</font></i><font face="Times New Roman"> </font><font face="Times New Roman"> </font></p>
<p style="margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">Tiba-tiba kumemancing mereka. Hal yang biasa aku lakukan. Dalam acara jalan-jalan biasanya semua memberikan kontribusinya.</font></p>
<p><font face="Times New Roman"> </font><font face="Times New Roman"> </font><i><font face="Times New Roman">“Wahhhh …. Bunda gimana sih? Kan ayah dah bilang ke Farih barusan 30 menit yang lalu pun. Meskipun tidak ada Ayah, tapi ayah meminta kita bahagia untuk mengingat Ulang Tahun Ayah ….”</font></i><font face="Times New Roman"> </font><font face="Times New Roman"> </font></p>
<p style="margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">Bummmmmmm! Tubuhku serasa dibom. Kaget bercampur panik. Kutemukan jawaban sesuatu yang mengganjal pikiranku sejak tadi. Tapi bagaimana bisa lupa hari ulang tahun seseorang yang anak-anaknya sejak tadi kusapa dan kusentuh dengan penuh perasaan. </font></p>
<p><font face="Times New Roman"> </font><i><font face="Times New Roman">“Ma’afkan Bunda, Ayah!”</font></i><i><font face="Times New Roman"> </font></i></p>
<p style="margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">Dengan lunglai kuambil HP-ku dan kucoba kutelponnya. Namun sudah tidak aktif. Kulihat jam sudah pukul 10.20, dan rasanya dia sudah masuk ke <i>Training Centre</i>-nya KLM di Amsterdam sana. Ya … dari dua minggu sebelumnya, dia sudah cerita bercerita akan mengikuti pelatihan di kantor pusat KLM. Pelatihan gratis yang dia peroleh disela-sela kesibuk kuliah S3-nya. </font></p>
<p><font face="Times New Roman"> </font><font face="Times New Roman"> </font></p>
<p style="margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">Kulihat daftar <i>miscalled </i>di layar. Ada dua kali terlihat dia mencoba nelpon sampai pukul 10 tadi. Dan kubuka <i>message</i> yang dikirimkannya setelah itu.</font></p>
<p><font face="Times New Roman"> </font><font face="Times New Roman"> </font><i><font face="Times New Roman">“Bunda, lima menit lagi ayah akan masuk training centre. Ma’af ayah tidak bisa telpon lagi. Semua alat komunikasi harus ditinggalkan selama 3 hari ayah pelatihan. Ma’afkan besok ayah gak bisa ikut bergembira bersama.dengan semua.. Ma’afkan juga ayah sudah lama tidak bisa ikut mengajari anak-anak kehidupan. Bunda jangan sedih dan merasa bersalah, kalaupun Bunda gak sempat ucapkan ultah ke ayah, itu semua karena kesibukan dan beban Bunda mengurus anak-anak kita. Do’akan akan ayah selama dan sukses ya! Bunda masih yang terbaik bagi Ayh. I L U so much”</font></i><font face="Times New Roman"> </font><font face="Times New Roman"> </font></p>
<p style="margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">Message yang membuat aku mencucurkan air mata. Ayah yang masih tetap sama. Ya … yang selalu menyebutku terbaik untuknya. Dia selalu mengerti semua kesalahanku dan anak-anakku.</font></p>
<p><font face="Times New Roman"> </font><font face="Times New Roman"> </font></p>
<p style="margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">Kuala Lumpur, Menjelang Ultah Bunda Tercinta</font></p>
<p style="margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">20 Maret 2008</font></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/wirasasmita.wordpress.com/8/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/wirasasmita.wordpress.com/8/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/wirasasmita.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/wirasasmita.wordpress.com/8/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/wirasasmita.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/wirasasmita.wordpress.com/8/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/wirasasmita.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/wirasasmita.wordpress.com/8/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/wirasasmita.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/wirasasmita.wordpress.com/8/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/wirasasmita.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/wirasasmita.wordpress.com/8/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/wirasasmita.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/wirasasmita.wordpress.com/8/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/wirasasmita.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/wirasasmita.wordpress.com/8/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=wirasasmita.wordpress.com&amp;blog=2385003&amp;post=8&amp;subd=wirasasmita&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://wirasasmita.wordpress.com/2008/03/19/kado-ultah-istri-tercinta-selalu-yang-terbaik/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/8608597a13ba37ecb6920e3714f48d80?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">wirasasmita</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
