[Renungan Kehidupan] Wanita Berahlak Mulia

March 19, 2008

Suasana pun masih lengang. Belum banyak orang yang datang ke dalam lorong di depan Surau yang terletak di LG gedung KLLC siang itu. Suasana di depan Toko Buku Times, Kantor Pos ataupun di depan deretan ATM yang biasanya ramai pun masih sepi. Kulirik jam Guess yang ada di tangan kananku. Masih ada 20 menit sebelum aku harus sembahyang Dhuhur untuk terus mengajar IQRO salah satu anak di jalan Tun Razak.

  

Kubuka buku The Secret-nya Rhonda Byrne yang baru dipinjam dua hari sebelumnya dari Perpustakaan Kampus Kota University Malaya. Kubungkukan badan untuk mencoba duduk di atas kursi beton berlapis marmet di atasnya yang terletak di muka pintu surau wanita.

  “Encik! Jangan duduk dekat sana!” 

Tiba-tiba sebuah suara menghalangiku untuk duduk diatas kursi beton itu. Kulihat seseorang berdiri dengan seragam cleaning service. Seragam yang sudah akrab di mataku karena selalu kulihat kalau datang ke sekitar KLCC ini.

  “Encik nak sembahyang, bukan?”“Iya betul kak. So, kenapa tak boleh duduk dekan sini?”“Jap lalu ada budak keci yang kencing kat sini. Saye dah mop tapi belum benar kering. Kalau kena selular Encik nanti tak boleh sah sembahyang karena najis kencing tu”  

Tak menyangka sejauh itu alasan dia mencegah saya duduk di kursi itu. Menolong orang yang benar-benar tidak dikenal sebelumnya. Benar-benar hati bersih yang ingin menolong orang meskipun tidak mengenalku sekalipun. Dari dalam hatinya terasa ada yang begitu menyentuh hati dan perasaan saya. Ketulusan menolong, tanpa melihat latar belakang apapun.

  

Dari tampilan luarnya pun, ada kesan yang begitu berbeda. Meskipun pakaian seragamnya sama dengan cleaning service yang lain namun kulihat ada yang sedikit yang berbeda. Kulitnya lebih bersih dan sikapnya pun kelihatan lebih menunjukkan sebagai orang yang berpendidikan. Kulihat name tag yang terpampang di seragamnya. MASITHOH, begitu terbaca namanya. Berarti saya punya sahabat seorang Masithoh baru hari ini. Sahabat muda berahlak mulia.

  

Ingatanku pun melayang ke masa 7 hingga 5 bulan ke belakang. Dimana aku masih melakukan pekerjaan part-timer di sebuah Showroom mebeul Jati. Showroom yang pemiliknya penuh oleh orang Indonesia itu memasarkan meubel jati yang semuanya dikerjakan di Indonesia. Pertemuan yang diawali oleh acara Silaturahmi Alumni ESQ di Kuala Lumpur dengan mereka berlanjut dengan kebaikan mereka untuk memberi kesibukan untuk mengisi waktu luang di antara waktu kuliahku.

  

Di sana aku pun mempunyai sahabat wanita muda bernama ‘Masyithah’. Yang selalu dengan baik membantu sebagian pekerjaan yang harus kuselesaikan. Dia yang memiliki hasrat tinggi untuk meeruskan pendidikannya selalu membantuku dengan penuh semangat tanpa keluh kesah. Dia yang memang ditugaskan untuk membantu pekerjaanku oleh pemilik showroom.

  

Ya … Masyithah kedua yang kumiliki, seseorang yang selalu mengingatkanku untuk menjadi lebih baik dan menjaga sebuah kebaikan. Seorang sahabat muda yang berhati dan berahlak mulia. Terlalu banyak kebaikannya sedang kubelum mampu membalasnya dengan sesuatu apapun.

  

Pelajaran hidupku berlari menembus batasan waktu ribuan tahun. Tatkala seorang ‘Siti Masithoh’ dengan penuh keberanian menentan seorang Fir’aun yang terkenal begitu galak tiada ampun. Seorang wanita yang dengan tetap tegar dengan berbagai ancaman dan siksaan. Bahkan akhirnya harus berhadapan dengan hukuman dimasukkannya dia kepada kuali besar dengan air yang mendidih. Keberanian untuk menjaga sebuah kemurnian hati dan perbuatan.

  

Bagiku, sebuah keberanian untuk menjaga sebuah kemurnian yang tidak hanya untuk diri sendiri namun juga untuk membantu orang lain, sangatlah luar biasa. Seorang Masithoh yang mau mengingatkan diriku kekotoran fisik yang akan membatalkan hubunganku denganNya pun sangat luar biasa. Seorang Masyithah yang selalu membantu dan mengingatkanku untuk menjadi lebih baik pun sangat luar biasa.

  

Mencoba merenungkan hal ini pun begitu membuatku berpikir kekecilan diri. Keadaan diri yang belum mampu memberikan balasan kebaikan untuk orang-orang yang memberikan bebagai jalan kemudahanku. Semoga pelajaran dari dua wanita berahlak mulia ini membuatku mampu untuk lebih mampu membalas kebaikan orang lain.

  

Semoga Yang Mahakuasa selalu menjaga kemulian hati dan ahlakmu, ‘Masithoh’ dan ‘Masyithah’ mudaku!

  

Dan wajah serta tanganku pun kutengadahkan ke atas langit.

  

Kuala Lumpur, diujung pagi

19 Maret 2008 – 5.19am


[Renungan Kehidupan] Do’a Kehidupan Hamba Penuh Dosa

March 14, 2008

Ya Rabb Pencipta Kesunyian,

Menjelang pagi ini, hambaMu yang penuh dosa kembali datang di ujung kesunyian

Duduk bersimpuh mencoba menghadap ke arahMu

Mencoba mengurai kata-kata do’a dan harapan

Yang mungkin ditutup dengan cucuran air mata penuh emosi

Seperti berbelas pagi tiada henti sebelum ini

Ya Rabb yang Maha Tahu,

HambaMu ini sungguh penuh bergelimang tumpukan noda dan dosa

Dari langkah-langkah kaki di jalan yang bukan ridloMu

Dari gapaian dan rabaan tangan di tempat yang bukan hak hambaMu

Dari tatapan mata yang sebenarnya bukan untuk penglihatan hambaMu

Dari kesempitan pikiran yang hanya mengikuti nafsu duniawi

Dari segala niat hati yang hina untuk berbuat ingkar dariMu

Noda dan dosa yang menyeret langkah hidup ke jalan hitam kehidupan

Jalan penuh kepalsuan dan ketidakbenaran yang akan menjauhkan hambaMu dariMu

Jalan kotor yang berujung ketidaktenangan hati dan jiwa

  

Ya Rabb yang Maha Penolong

Tutuplah jalan hitam hambaMu dengan tirai bening tak tertembus

Berilah pandangan jelas kekotorannya untuk cermin makna kehidupan hambaMu

Yang hanya mampu hambaMu pandang tanpa ada kekuatan kembali menjejaknya

Dan tunjukkan jalan putihMu yang sebenarnya dengan sejelas-jelasnya

Di depan mata hambaMu juga orang-orang di sekitar hambaMu

  

Ya Rabb Pemberi Semua Tanda-Tanda KebenaranMu

Jika hambaMu tak lagi berkata-kata bukanlah karena paraunya suara hambaMu

Namun semua sudah dalam tempat jangkauanMu

Semua adalah menjadi hak kebenaranMu untuk diaturnya

HambaMu hanya akan membaca lewat tanda-tanda kebesaranMu

Sebagaimana doa-doa hambuMu selama ini

Do’a yang tetap hambaMu lantunkan seperti berbelas pagi-pagi yang dilalui

Do’a penyadaran hamba meski dengan tanda-tandaMu yang menyesakkan

Do’a penyadaran hati dari tanda-tanda kemalangan diri

Agar hamba-hambaMu sadar tidak lagi berjalan di atas jalan hitam yang dimurkaiMu

Maka tunjukkanlah kebenaran itu secara nyata, ya Rabb!

Jadikan hambaMu menjadi hamba yang penuh keimanan

Akan segala tanda-tanda kebenaran yang ditunjukkanMu

Jadikan hambaMu menjadi hamba yang penuh keyakinan

Akan kekuatan do’a-do’a kebaikan untuk hambaMu dan orang-orang sekitar yang hambaMu sayangi

  

Ya Rabb Pemberi Kenikmatan

Berilah hambaMu kenikmatan menutup mata menjelang waktu SubuhMu

Karuniakan waktu terindah untuk menenangkan hati

Hati hambaMu yang akan menjalani hari esok dengan penuh kesucian

Sesuci jalan putihMu yang akan terbentang luas di hadapan hambaMu

Jalan putihMu yang terhampar lapang di awal langkah hambaMu

Untuk hambaMu ini … juga orang-orang lain disekitar hambaMu

   

Kuala Lumpur menjelang pagi

13 Maret 2008 3.34am

[Ketika do’a hambaMu dilantunkan dengan lebih keras lagi untuk memohon tanda-tanda kebenaran yang lebih nyata]