“Station Monorel KL Sentral. Thank you for using KL Monorel …”
Tak sempat sampai selesai kudengarkan suara otomatis di KL Monorel yang kutumpangi dari stasiun Imbi tadi. Sebagaimana sebagian besar penumpang lainnya, aku pun bergegas mendekati pintu untuk segera keluar dari monorel yang padat penumpang itu. Kubetulkan letak tas laptop yang tersandar di bahu kiriku. Dan beberapa detik kemudian, aku pun menjadi bagian dari arus penumpang yang berhamburan keluar monorel menuju escalator yang berujung di jalan Tun Sabathan itu.
Sore ini aku tidak mampu merasakan kenikmatan perjalan pulang dari kantor seperti biasa. Sepanjang perjalanan sejak dari station KL-Monorol Imbi, yang terletak tepat di Pusat Perbelanjaan Time Square. Sampai di station KL Sentral pun keadaan pikiranku benar-benar tidak berubah. Begitu kalut dan penuh kebingunan untuk menentukan langkah kehidupanku selanjunya. Padahal hari ini yang tepat tiga bulanku di Kuala Lumpur mulanya kuharapkan akan menjadi hari bahagia. Namun pertemuanku dengan Mr. Stephen membuat semuanya berbalik 180 derajat.
Tiga bulan lalu kuinjakkan kaki ke kota Kuala Lumpur yang lebih teratur dan terawat dengan penuh semangat meninggalkan kota Jakarta yang sudah akrab sepanjang umur kehidupanku. Semangat karena keyakinanku untuk menunjukkan kemampuan kinerjaku di Regional Office seperti yang kutunjukkan di National Office Jakarta dengan menjadi The Employee of the Year untuk tiga tahun berturut-turut. Sebagai seorang Marketing perusahaan asuransi International, aku selalu mencapai hasil jauh dari yang sudah ditargetkan.
Semangat lainnya adalah karena untuk hasrat tinggiku untuk bersekolah. Aku yang baru mau genap 27 tahun tahun ini, baru 4 tahun yang lalu menyelesaikan pendidikan Sarjana Ekonomi-ku di sebuah perguruan tinggi negeri ternama di Jakarta. Walaupun tidak ada prestasi istimewa namun aku mampu lulus dalam waktu normal. Aku pun berharap dengan kepindahan kerja ke Kuala Lumpur, ada harapan besar untuk bersekolah lagi di tingkat Master. Ya … karena keinginan sekolah pula kudatang ke Kuala Lumpur.
Keberadaanku di kota ini pun dipersiapkan dengan matang. Mulai dari pilihan daerah tinggal yang dengan kantor dan kampus utama Universiti Malaya. Kusewa sebuah kondominium bersama 2 teman mahasiswa Indonesia yang sedang belajar di universitas yang kampusnya nampak selangkah di depan mata itu. Untuk kendaraan ke kantor kubeli sebuah Proton Gen-2 merah terbaru dan untuk jarak dekat atau jalan-jalan makan, motor Honda yang mirip Honda Legenda kalau di Jakarta. Semuanya masih tertutupi oleh tidak lebih dari 20% dari tabunganku dari bonus kinerja waktu di Jakarta.
Awalnya semua kujalani dengan penuh semangat. Di bulan pertama kujalani dengan energi kerja yang sangat tinggi. Aku mampu bekerja bahkan sampai larut tengah malam hanya untuk mempelajari semua aspek yang bersifat teknikal. Banyak sekali hal baru yang harus segera kupelajari. Karena itu pun rela berjam-jam untuk diskusi dengan atasanku, Mr. Anderson – bule Eropah, yang terkenal workaholic. Semua kujalani dan kucoba untuk dinikmati. Sebagaimana kunikmati perjalanan pergi dan pulang ke kantor dengan Proton Gen-2-ku.
Memasuki bulan kedua aku mulai merasakan ada ganjalan dalam perjalananku. Semangatku pergi ke kantor tidak seperti sebulan sebelumnya. Mulai terasa ada kekurangsemangatan dalam diriku. Awalnya aku pikir wajar karena kerinduanku terhadap orang tua dan keluarga di Indonesia. Namun semuanya seakan berjalan terus dan tak mampu kukendalikan. Namun semua terus berdampak ke dalam diriku, termasuk kemalasanku untuk membawa mobil dan menggantinya dengan motor. Itu pun kulakukan hanya sampai salah satu stasiun LRT-Train yang terdekat dengan kondominiumku. Selanjutnya kugunakan LRT-Train and KL-Monorel.
Lampu lalu lintas di atas zebra-cross yang terletak persis di depan station KL-Monorel berwarna merah. Dan langkah kaki pun terhenti. Sebagaimana terhentinya langkah-langkah kaki orang-orang di depanku. Bagiku isyarat berhenti ini merupakan cerminan rasa kekalutan. Seakan semuanya menyuruhku berhenti perjalanan semangat tinggiku dan segera melihat realitas yang ada. Aku berhenti diantara kerumunan orang yang baru kembali dari kantor. Kebanyaknya Melayu, India dan Cina. Semaunya berbaur …
Semuanya seakan semakin menyadarkanku kalau selama ini aku tidak mampu beradaptasi dengan kondisi budaya dan sosial di kota ini. Dimanapun kujumpai, selalu ada keanehan yang kujumpai. Dari sisi atau komunikasi pun, aku sudah mampu mengambil pelajaran penting mengenai kondisi sebenarnya dari mereka. Di atas train selalu terdengar berbagai bahasa kecuali bahasa Inggris yang jarang digunakan. Kalau dua orang Melayu selalu berbicara dalam bahasa Melayu, dua orang India menggunakan bahasa India, dan dua orang Cina tentunya akan menggunakan bahasa Cina.
Belum lagi dari sisi semangat kerja. Di Regional Ofice ini, aku diserahi 3 orang yang harus kukoordinir seluruh pekerjaannya. Mereka benar-benar mencerminkan tiga ras terbesar di Malaysia ini. Melayu, India, dan Cina. Semua mempunyai karakter yang sangat berbeda. Dan sejujurnya, kuakui juga kalau karakter mereka itu benar-benar seperti dalam kehidupan nyata sehari-hari. Satu orang pemalas, satu kerja harus selalu dikomando detail, dan satu orang begitu giatnya dan penuh inisiatif. Dan aku pun semakin terbebani dengan semua ini. Termasuk beban berat untuk mampu mengimbangi kebiasanaan meraka berbicara dalam bahasa masing-masing.
Kupandang gedung KL Sentral yang berdiri megah setinggi 5 lantai di depanku ketika kusembrangi jalan Tun Sabathan setelah lampu menyebrang menjadi hijau. Gedung yang membuatkan berpikir semakin dalam. Satu-satunya gedung yang menjadi pusat titik temu berbagai alat transportasi dari dan ke berbagai arah. Sebuah gedung yang menjadi kebanggaan orang Malaysia tentunya. Saat ini bagiku hanya terpikir kalau gedung itu memberikan makna banyaknya pilihan jalan hidup yang dapat dipilih. Ibaratnya aku sedang berdiri di sebuah pesimpangan jalan.
Tadi siang Mr. Anderson memanggilku untuk membahas hasil penilaian atas 3 bulanku di Regional Office. Dia yang begitu komunikatif dan selalu memberikan kesempatanku untuk maju menjadi sangat berbeda. Dia selama 3 bulan serasa menjadi mitra diskusi dan belajar tiba-tiba siang tadi menjadi pengadil dan berdiri di sini manajemen tanpa mampu kuberagumen sedikit pun. Padahal kesalahan terbesarkan hanya mampu mencapai 95% dari target kerja yang dia berikan. Sesuatu yang katanya sudah dia maklumi pada diskusi terakhir. Sesuatu yang sebenarnya lebih karena belum begitu bercampurnya diriku dengan kondisi budaya di sini. Alasan prinsip yang tidak diterima secara organisasi olehnya.
Hasratku benar-benar remuk. Perjuanganku selama ini seakan tidak berarti apa-apa. Semuanya hilang bagai dihembus angin badai. Perjalananku seakan menjadi gelap karena tangga karir keberhasilan yang sudah kusandarkan sejak dari Jakarta dulu menjadi hancur berantakan di kota ini. Karena sesuatu yang kurang mampu kukendalikan dengan baik. Aku benar-benar terpuruk di persimpangan jalan untuk memilih arah yang ada.
Beberapa kemungkinan yang Mr. Anderson tadi siang pun masih belum mampu kucerna dengan pemirikiran yang benar-benar dingin. Bagiku semuanya akan berujung di arah kehidupan selanjutnya yang akan kuambil. Aku tak ingin jalan kehidupanku semakin suram. Aku ingin mendapat sesuatu yang memang akan menjadi lebih baik untukku.
Jalan keluar pertama, dia masih akan mempertahanku di Regional Office dengan posisi Specialist. Aku akan dipindahkan dari posisi dengan 3 anak buah saat ini. Konsekwensi lain adalah aku akan kehilangan semua allowance yang menjadi 40% dari Take Home Pay-ku saat ini. Ya … kondisi dimana membuat rasa psikologisku, untuk mendapat penghasilan dalam suatu pekerjaan, sedikit terguncang. Walau sejujurnya dari sisi strategisnya, posisi tadi masih sama dengan posisiku sebelumnya. Namun tenagaku akan dikuras lebih melelahkan.
Kalau aku tidak setuju dengan alternatif pertama itu, aku masih diberi kesempatan pindah ke divisi di bawah dia satu lagi. Aku akan dipindah dari Costumer Satisfaction Division ke Quality Control Product Division. Tempat dimana juga cocok dengan minatku selama ini. Hanya masalah besarnya aku akan diposisi pada satu tingkat organisasi lebih bawah dari tingkat posisi saat ini. Secara psikologis akan memberikan dampat sosial bagi aku. Semua orang dalam organisasi akan melihatku sebagai orang gagal.
Dan walaupun dia memberikan kesempatan kepadaku untuk dimutasikan kembali ke Jakarta, namun jalan keluar terkahirpun seakan tamparan keras kepadaku. Aku akan menjadi orang yang kalah perang dan di Jakarta pun akun tidak akan mampu kembali ke posisi sebelumnya yang sudah terisi orang lain. Yang mungkin hanyalah satu posisi yang jauh lebih rendah dari sebelumnya …
“Nak pergi kemana, Encik?”
Seorang petugas wanita dalam ticket counter bertanya penuh kebingungan. Kusodorkan uang 5 ringgit namun tanpa bicara apapun karena begitu hanyut dalam lamunan perjalanan diri. Aku pun tak mmapu mengingat bagaimana aku melewati hiruk pikuknya suasana KL Sentra sore itu, termasuk di sekitar keramaian orang di sekitar bis-bis Airasia yang akan ke LCCT di bawah tadi.
“Kerinchi, Kak!”
Kujawab dengan tegas dan kuambil tiket serta uang ringgit kembaliannya. Kubergegas ke jalur LRT-Train yang akan membawaku ke station kerinchi dimana motor Honda-ku diparkir. Namun aku tak mampu berkonsentrasi dan berpikir dengan jernih. Begitu berat begitu membebani. Semuanya hanya kuikuti bagai air mengalir. Termasuk ketika kubawa motorku dan kujalankan menyusuri jalan layang di jalan pantai. Aku pun hanya mengikuti perjalanan termasuk ketika tanpa sadar terbawa belok oleh sebuah mobil yang berputar balik ke arah University Malaya.
Kutersadar ketika kuterhenti di depan gerbang University Malaya. Aku pun tercenung keheranan karena tanpa kusadari malah sampai ke jalan ini. Apakah pertanda kalau aku harus mengambil langkah ke jalan untuk kembali ke bangku kuliah?
Semuanya masih belum jelas. Kalau pun memilih kuliah, aku harus keluar kerja dan 9 bulan visa expatriate-ku akan dibatalkan. Aku harus kembali ke Jakarta. Dan aku pun belum menyiapkan seluruh persyaratannya. Termasuk Sertifikat IELTS yang menjadi satu persyaratan utamanya ….
“Allohu Akbar … Allohu Akbar”
Suara adzan dari mesjid yang terletak persis di sebelah gerbang masuk University Malaya tiba-tiba menyadarkanku. Bukan hanya telah tibanya waktu sembahyang Magrib namun seakan mengingatkan harus kembali aku mengambil arah. Mungkin belum ada jawaban pasti malam ini, namun paling tidak aku tahu tempat mana yang harus kuambil saat ini …
Discussion Room – Kampus Kota
University Malaya
16 Maret 2008 – 12.05pm
Posted by wirasasmita
Posted by wirasasmita
Posted by wirasasmita