Hari masih begitu pagi, adzan Subuh pun belum lewat lebih dari setengah jam yang lalu. Kubuka pintu apartement perlahan-lahan.
“Mau kemana, kang? Pagi-pagi gini sudah keluar rumah?” Suara Rama yang tiba-tiba keluar kamarnya mengagetkanku
“Jalan keluar, Ram! Suntuk. Belum nemu ide untuk bab enam”
“Pasti sekalian cari sarapan ya?”
“Iya! Sudah lama gak ke Sri Paandi”
“Halahhh restoran India terussss”
“Asyik sih, Ram! Sambil memperhatikan kehidupan orang India”
“Akhhh … alesan aja! Abis murah juga kan?”
“Ha … ha … ha … Tau aja lu! Ya udah keburu siang. Aku mau nerusin nulis tesis lagi nanti”. Kututup pintu dari luar. Tak lupa kunci gembok pun dipasang di teralis besi luarnya. Lambat-lambat masih terengar Rama berteriak. Mengingatkan adanya pertemuan panitia seminar Manajemen Islam siang ini.
“Jangan lama-lama, Kang! Kita akan ada meeting di mesjid As-Syakirin deket KLCC sebelum Jum’atan”.
Aku mempercepat langkahku menuruni tangga untuk mengejar lift di lantai 18. Satu lantai di bawah unit apartment dimana ku tinggal. Lift-lift yang hanya dapat dihentikan di setiap lantai yang bernomor genap seakan memaksaku setiap hari melepas ketegangan otot kaki dengan menuruni tangga. Ketika naik, kalau tidak sedang bernasib baik mendapatkan satu lift yang berhenti di semua lantai sampai di tingkat 19, aku pun harus menaiki tangga kembali karena lift yang satu lagi hanya berhenti di lantai genap dan berhenti di tingkat 18.
Bagiku lantai 18 memang menjadi terminal persinggahan penting kehidupanku di apartment Bukit Sri Angkasa yang tidak lebih dua kilometer dari kampus Utama University Malaya. Letaknya yang di belakang gedung RTM, Radio and Televisyen Malaysia, membuat apartmentku mudah dicari selain karena jumlah tingkatnya yang paling tinggi, menjulang sendiri diantara blok-blok rumah flat lainnya yang hanya bertingkat sembilan.
Dari kamarku, mata pun dapat memandang bebas arsitektur indah Menara Telekom yang katanya dirancang oleh arsitek Indonenesia. Salah satu gedung berarsitek khas diantara gedung-gedung menjulang tinggi yang umumnya hanya berbentuk persegi atau bulat. Jalan train Kelana Jaya Line serta hilir mudiknya kereta api bergerbong dua pun dengan waktu teratur dapat kuintip dari balik teralis jendelaku memasuki stasion Kerinchi persis di sisi jalan lebuhraya Persekutuan.
Jika sedikit kupalingkan sedikit wajah ke arah kanan akan terlihat kompleks bisnis Mid Valley yang semakin hari semakin disumpeki oleh bangunan tinggi. Bangunan yang terkadang membuatku gerah karena menghalangi pemadanganku ke arah dua menara Petronas yang sebelumnya mampu kupandangi dengan sangat jelas. Kalau pun ada kembang pesta api yang terlihat hanya pantulan dan pancaran cahaya yang meledak-ledak yang terlihat. Tanpa terlihat kedua menara yang sedang bermandikan bunga-bunga apinya. Sungguh mengesankan sebenarnya!
Pagi ini orang-orang lain pun saat itu pun sudah mulai ramai keluar unitnya masing-masing untuk bekerja. Kalaupun aku segera, keluar itu hanya untuk mencoba menghirup udara pagi. Sekaligus menyelami suasananya, mengamati orang-orang yang bergelut dengan kesibukannya. Sementara aku sibuk menunggu lift yang belum dating.
”Morning … Tata”
”Morninggg Dhiva! So early you go …” Dhiva tersenyum.
”Many things to do!” Dia senyum kembali. Senyum kebanyakan gadis India di film-film Bollywood.
Shreedhiva Chowdary! Begitu nama lengkap gadis India muda yang menyapaku. Tak sadar dia sudah ada berdiri di sebelahku. Ya ini memang lantai 18. Lantai kekuasaannya dimana unit dia terletak. Satu lantai di bawah unitku. Dia seorang gadis India muda yang mulai kukenal namanya beberapa minggu lalu di name tag baju kurung Melayu panjangnya. Dari namanya, kutau dia keturunan India dari daerah Andhra Pradesh. Daerah selatan India yang terkenal sebagai daerah lumbung padi. Negara bagian ke-4 terluas daerah dan populasinya di India.
Dalam pengelihatanku, Dhiva adalah wujud gadis muda dari ras India yang modern. Tampilan modis dan pekerjaan keras. Seperti umumnya eksekutif muda di ras mana pun di atas dunia ini.
Tampilannya tidak lagi berambut lurus dan panjang. Seperti bintang film India edisi lama yang meliuk-liuk menari dengan melilitkan diri di tiang-tiang. Dhiva sekarang sudah me rebounding rambutnya. Di dahinya pun tidak tertinggal sapuan warna putih atau merah pertanda prosesi agama orang India pada umumnya. Dia hanya menyisakan tindik intan di hidungnya. Kulitnya pun sudah terlihat banyak sentuhan treatment salon modern.
Dhiva pun pekerja keras. Sepagi ini dia sudah berangkat kerja dengan beban bawaan yang sangat banyak. Paling tidak itu yang kulihat. Dan itu pula yang menyedot sebagian energi pikiranku di depan lift pagi ini. Memandang lima buah kantong dan tas yang dia bawa.
Sebuah tas kecil putih tergantung di pundak dan diapit tangan kirinya. Tas kecil namun berlogo merk terkenal dari Italia. Dilihat dari besarnya, tas ini hanya diisinya oleh barang-barang penting kecil dan sering dikeluarkan. Handphone, kunci rumah, dan kunci mobil adalah praduga utamaku yang tersimpang didalamnya. Kumpulan beban-beban ringan di dalamnya.
Tas kedua adalah tas jinjing kulit yang berukuran sedang di tangan kanannya. Tas yang layaknya dipergunakan oleh karyawati sebagai tas formal untuk bekerja. Biasanya, tas seperti ini diisi oleh perlengkapan kerja yang lebih mendukung ekspressi penampilannya sebagai seorang pekerja. Isinya mungkin berupa blocknote berlogo perusahaannya yang begitu terkenal, mungkin alat-alat tulis atau presentasi standar, dan mungkin juga dilengkapi dengan perlengkapan kosmetik wajib yang dipergunakan secepat kilat di toilet kantor.
Tas ketiga adalah sebuah back pack ukuran sedang yang dia panggul di punggungnya. Beban penuh yang ada di dalamnya begitu kentara terlihat. Back pack bertuliskan Fitness First itu seakan meregang balutan kain nilyon yang terlihat mau pecah. Isinya begitu maksimal, bahkan over capacity. Apalagi dengan ia selipkan sebotol sedang minuman mineral di kantung tranparan di pinggir kanannya. Kalau dia sudah berpakaian kerja rapi, aku akan mengadilinya sebagai wanita janggal. Namun beruntung pagi itu dia mengenakan perlengkapan olahraga yang logonya sama dengan seragam MU bermerk Nike. Dan aku pun berimajinasi kalau isi back pack itu adalah pakaian kerja resmi dia yang akan dia gunakan kemudian.
Tadinya aku pikir itu semua sudah cukup. Ternyata tidak! Masih ada tas keempat. Sebuah back packer yang hampir seukuran dengan yang dia panggul namun yang ini dia jinjing di tangan kirinya. Isinya pun lebih sedikit dari back packer yang pertama. Jujur, aku tidak mampu mengetahui apa isi yang ada di dalamnya. Aku tertegun dalam kebingungan pikiran.
Di tengah pikiran bingung yang membentur batas pengetahuan normalku tentang perlengkapan yang diperlukan seorang gadis muda, aku tertegun melihat tas kelima. Sebuah tas berbentuk persegi empat yang terbuat dari kertas tebal. Sebuah tas yang biasa diberikan oleh toko penjual sepatu. Ya … memang itulah sebuah tas bertuliskan Vincci yang dia bawa sebagai beban kelima. Isinya dengan jelas dapat kulihat, sebuah sepatu jogging putih bermerek addidas.
Melihat wanita dengan beban beberapa tas adalah hal yang biasa bagiku, termasuk waktu kerja di Jakarta sebelumnya. Pemandangan biasa untuk melihat mereka membawa dua atau tiga tas. Tapi kalau sampai lima buah tas itu baru aku temukan di Kuala Lumpur ini. Di seorang wanita bernama Dhiva. Aku semakin tak habis pikir, karena jumlah dan jenis tas ini pun yang dia bawa kemarin. Ya … persis kemarin hari ketika sore hari aku berjumpa dengannya di lift ini juga sepulang dia bekerja.
Seakan semua membawa pemikiranku ke arah kekuatan wanita menanggung beban hidup di era modern ini. Entah memang semuanya benar-benar diperlukan semuanya atau tidak mampunya mereka mengatur beban. Itu baru beban fisik yang terbawa … belum beban mental yang ada dalam diri mereka sendiri.
”Tata! What are thinking about?” Pertanyaan Dhiva ditengah perjalanan lift membuyarkan lamunanku.
”Ehmmm … just thinking my assigment” Aku berkelit, menutupi kenyataan pikiran melihat bebannya. Alasan yang cukup dia mengerti karena dia tahu kalau aku mahasiswa master di UM.
”Tomorrow is off-day. Will you free tonight?” Aku menggelengkan kepalaku. Pertanda pikiranku langsung bersambung dengan tesis yang dratnya harus diserahkan ke supervisor besok.
”Okk … Let’s go to diner tonight then …!” Ajakan dia yang langsung menghilang memburu mobilnya ketika pintu lift terbuka. Aku hanya tertegun. Tak sempat berkata lain untuk menolak ajakannya. Dan bagi Dhiva, ajakan itu sudah disanggupi olehku. Kesanggupan yang menjadi sebuah pencederaan sebuah persahabatan jika digagalkan.
Aku baru sadar beberapa detik kemudian. Gelengan kepalaku bagi orang India adalah tanda iya berbeda dengan di Jakarta yang artinya tidak. Kesalahan yang kuperbuat tadi benar-benar dasar. Menempatkan kebiasaan bukan pada tempat yang tepat. Tidak menjunjung langit dimana bumi dipijak. Hasilnya sekarang, perasaanku yang terpijak rasa bingung.
Aku berusaha tak peduli supaya tidak bingung. Yang penting aku pergi dulu ke restoran Sri Paandi. Restoran India kesukaanku. Restoran dimana hari ini kuharap mendapat cara penyelesaian yang terbaik untuk seorang Gadis India Muda yang bernama Dhiva.
Kuala Lumpur, 01 Juli 2008
Yang masih belajar hidup.
Posted by wirasasmita