[Renungan Kehidupan] Imam Mudaku Sakit

”Tungguinnn!”

 

Tanganku yang mulai terangkat untuk memulai menjalankan tugas mengimami shalat subuh mendadak berhenti oleh teriakan suara Farih. Kutoleh Bunda Farih yang telah selesai qomat sebelumnya pun sudah siap akan memulai prosesi ibadah di awal pagi itu, sebagaimana Anin, nenek Farih, yang sudah dalam keadaan yang sama. Semua sudah siap dalam posisi berjamaah di ruang tengah di depan pintu kamar dimana Farih tidur.

 

”Iyaaaa … ditungguin. Cepat bangun!”

 

Jawaban Bunda Farih dengan cepatnya. Sangat sigap, begitu naluri seorang ibu kepada anak kesayangannya. Menunjukkan adanya jalinan ikatan kasih yang begitu mendalam dalam satu kebiasaan bersama yang sering dilakukan. Kebiasaan terbaru Farih dan Bunda yang selalu mengejar hikmah shalat berjamaah subuh di mesjid komplek. Mesjid dimana rajutan kasih awal rumah tanggal Bunda Farih denganku dimulai ketika kulafalkan ijab qobul pernikahan dengan almarhum kakeknya. Dan, sekarang Bunda Farih semakin bersemangat untuk semakin memperindah rajutan kasih yang sudah semakin lebar dengan Farih salah satu di dalamnya.

 

Bunda sering bercerita kalau Farih-lah yang rajin menemaninya menembus halangan dinginnya udara dan tabir sejuknya embun menuju mesjid setiap pagi. Farih yang kadang terbangun lebih dulu dan mengingatkan Bunda-nya kalau waktu subuh akan segera datang. Di mata Bunda-nya, Farih tumbuh menjadi bagai api semangat yang terus mengelorakan langkah sebuah do’a kehidupan.

 

”Bentar … Kaka wudlu dulu”

 

Dia memang suka menyebut namanya Kakak. Sesuai dengan nama panggilan yang kita berikan kepadanya sebagai anak tertua yang terlahir di tengah-tengak aku dengan bundanya. Nama yang sebenarnya sedikit membingungkan ketika semua anggota keluarga kecilku tinggal di Kuala Lumpur karena di Malaysia Kakak adalah panggilan untuk anak perempuan. Tapi kegamangan itu pun bukanlah penghalangan keberlanjutan panggilan kasih sayang ke Farih.

 

Farih adalah anak terbesarku yang semakin besar dan semakin membanggakanku. Di kepulanganku kali ini, ada perkembangan yang cukup mengagumkan. Dia sudah hafal bacaan shalat. Dia yang pinter, aku yang merasa bangga. Begitu bangga mendengarkan bacaannya walaupun masih bacaannya yang keras tanpa membedakan mana yang harus dipelankan dan mana yang harus dikeraskan. Bagimanapun, Farih memang semakin membanggakanku.

 

Kebanggaanku itu harus bertempur dengan dogmaku. Ada efek kebanggaan yang harus kuhadapi dengan sangat hati-hati ketika sekarang Farih ingin selalu menjadi Iman shalat diantara keluarga kecilku. Dan, resiko penolakan atas kemauannya pun tidak tanggung-tanggung, tidak mau shalat! Aku tolak, anakku menjadi anrkis menjadi anak anti shalat. Aku turuti, aku berhadapan dengan aturan pasti dan gunjingan sosial. Dan hal itu sudah terbukti kemarin di mesjid kaket buyutnya di Limbangan, ketika kutempatkan sejadah dia sejengkal di depanku dan bundanya, semua orang yang shalat berjamaah memandang dengan berbagai tatapan. Ada yang menatap kagum melihat anak kecil yang semangat shalat, ada yang menatap khawatir karena kumembiarkan dia berlaku melanggar sebuah aturan.

 

Aku memberinya kesempatan bukan untuk mengajari Farih melanggar aturan. Hanya belajar dari pola perkembangan dia yang selalu mencapai titik pengertian diri di masa Farih sudah memahaminya dan Farih akan sadar dengan sendirinya. Melawan hawa keinginannya saat ini, dalam pikiranku, berarti membunuh hasrat keinginan dia untuk maju dan menunjukkan eksistensi dirinya.

 

Dan pagi ini pun saya sudah membayangkan dia akan meminta kembali dirinya dijadikan imam dalam shalat subuh di pagi ini. Aku pun telah siap dengan strategi untuk meletakkan sajadahnya sejengkal lebih didepanku.

 

Suara Farih turun dari tempat tidur terdengar cukup jelas di keheningan pagi itu. Beberapa saat kemudian pun terdengar kucuran air bergemericik di kamar mandi dan dalam perkiraanku Farih sudah selesai mengambil air wudlu-nya. Namun setelah ditunggu beberapa saat, tetap saja dia tidak muncul.

 

“Kaka sudah belum? Ditinggalin nih …” Aku memastikan akan Farih segera keluar dari kamar mandi namun dengan cara yang agak berbau penekanan dan ancaman. Gaya imperialis kuno yang digunakan karena desakan waktu, takut waktu shalat semakin habis. Padahal sungguh masih cukup waktu dan aku sebenarnya tidak perlu menodai semangat bangu pagi dia untuk menunaikan kewajiban itu.

Akhirnya Farih muncul dengan lunglai dan langkahnya agak diseret.

 

”Bunda … Farih jatuh dan sekarang gak bisa berdiri”

”Kenapa?”

”Gak tau … tadi di kamar mandi Kaka tiba-tiba jatuh, gak kuat bendirrriiii …uhh … huu … huu ”

 

Farih mulai bicara bercampur menangis. Bundanya mulai mengeluarkan pertanyaan dengan naluri dokternya.

 

“Apa yang Kakak rasakan sakit?”

“Ga tau, bunda!”

”Waktu mau tidur Kakak sudah merasa sakit?”

”Belum … terasa pas bangun tadi aja …”

”Kakak pusing?”

”Iya … dikit …”

“Ya … udah. Kaka shalatnya sambil duduk aja, ya! Kakak kecapaian abis pergi ke Garut, Tasik ama Limbangan aja”                                                                       

 

Akhirnya Farih hanya mampu shalat subuh duduk terisak.. Tanpa mampu berdiri dengan gagahnya apalagi meminta dirinya dijadikan imam. Sangat jauh dari bayanganku semula, jagoanku hanya duduk dengan kaki terjulur ke depan. Aku hanya berfikir Farih kecapaian setelah perjalanan jauh ke rumah neneknya di Tasikmalaya. Aku memang yang salah, memaksakan Farih mengikuti rencana perjalananku tanpa memikirkan akibat seperti yang sekarang diderita Farih.

 

Farih ternyata memang benar-benar sakit, dia kelihatan kesakitan kalau berjalan. Aku sedih dan kesedihanku bertambah karena hari ini adalah hari kepulanganku ke Kuala Lumpur. Di Husen Sastranegara pun hanya tawa ceria Faiz yang hadir, Farih hanya duduk termenung di mobil. Dia menangis merasakan kesakitannya, hatiku menangis merasakan penderitaannya. Dan hatiku semakin menangis ketika membaca sms yang dikirim Bundanya ketika sampai di Kuala Lumpur …

 

”Yah! Ternyata Farih terkena gejala Chikungunya …”

 

Oh … My God! Selamatkan Imam baru dan salah satu harapan hidupku … Aku pun sangat percaya Bundanya yang dokter akan mampu mengurusnya …

 

 

Kuala Lumpur,

27 Mei 2008

Leave a Reply