Aku terbiasa hidup di lingkungan yang sangat heterogen, baik dari sisi suku, rasa ataupun agama. Dari sikap dan gaya hidup pun demikian. Di Bandung sewaktu kuliah, di Jakarta sewaktu bekerja, ataupun sekarang di KL yang lebih-lebih sangat heterogen. Di Kuala Lumpur malah kubertemu dengan orang dari ras yang sangat bervariasi. Dari sisi agama pun demikian, di KL inilah aku bertemu dengan sahabat yang jelas mengaku tidak memeluk agama apapun. Hanya bermodal berlaku baik. Itu Cukup.
Heterogenitas inilah yang juga sangat berpengaruh kepada sikapku. Sikap yang harus terus diperlihatkan bahwa aku benar-benar harus memperlakukan semua sahabatku dengan penuh segala rasa hormat dan pernghargaan yang sebenarnya. Cara universal yang biasa kulakukan selama ini adalah dengan cara bercanda atau bertukar cerita hal-hal pribadi. Sering dari candaan atau cerita itu muncul sebuah keakraban. Keakraban lebih dengan sahabat yang selama ini sudah sering berkomunikasi ataupun keakraban dengan sahabat yang baru dijumpai. Cara yang selama ini memang kulakukan, dan pagi ini juga. Mengharap sebuah keakraban di pagi hari yang begitu cerah.
Namun rasanya langit menjadi gelap ketika kecerobohan pertanyaan bernuansa sara kuungkapkan. Aku memang tidak pantas menanyakan sesuatu yang sangat sensitif bagi seseorang, sahabat dekat sekalipun. Seharusnya aku berpikir lebih jauh dan tidak lantas bersikap sama seperti aku ditanya hal sama oleh sahabat-sahabatku yang lain. Memang, aku tidak pernah marah atau reaktif ketika sahabat yang menanyakan hal pribadi dan sara-ku. Tetapi bukan sebuah jaminan pasti untukku dapat menganggap atau memperlakukan hal yang sama kepada yang lain. Apalagi berhubungan dengan kepercayaan dalam sebuah kehidupan, meskipun kepada seseorang yang sudah dianggap deket atau adik sekalipun! Itu suatu kesalahan.
Yang jelas mengotori sinar pagi seseorang yang sedang mulai menjalani hari dengan penuh keceriaan adalah juga suatu kesalahan. Dan Kesalahan itu telah kuperbuat. Telah kulakukan dengan sangat ceroboh pagi ini. Sebuah kesalahan yang sebenarnya tidak perlu! Kesalahan yang hanya berdasarkan keyakinan adanya sebuah keakraban yang mungkin sebenarnya terlalu percaya diri kumerasakannya.
Ma’afkanku, Adik! Aku memang harus banyak belajar hidup dari kedewasaanmu. Dan mungkin aku sudah tidak pantas lagi menjadi kakakmu.
Kuala Lumpur, 08 Maret 2008
Note:
Permohonan ma’af yang seikhlasnya dari yang sudah kubuat tersinggung pagi ini.