[Renungan Kehidupan] Sebuah Makna

Hampir delapan belas tahun yang lalu saya didoktrin dengan konsep Hukum Bilangan Besar atau Konsep Sebuah Konsistensi dalam proses penarikan sampel. Sebagai mahasiswa baru yang kadang masih shock dengan dunia belajar mahasiswa, jangan untuk berfikir makna kandungan dalam ala filsuf masyhur, hanya untuk sekedar mencoba menghapal konsepnya pun terkadang sangat sulit. Sampai di tingkat akhir pun hanya mentok dihapalan bahwa kalau jumlah sample menuju tak terhingga maka taksiran parameternya bla … bla … bla …

 

Statistika sangat kental dengan proses penarikan sample. Sebuah individu atau fenomena yang akan diobservasi terus perilakunya. Data hasil obeservasi dalam jumlah individu terbatas serta waktu tertentu itulah yang diharapkan secara representatif akan dapat menunjukkan gambaran kondisi parameter sebenarnya. Terbukti ketika aku harus berulang-ulang ratusan kali mengundi sejumlah dadu hanya sekedar membuktikan bahwa peluang munculnya sebuah mata dadu adalah seperenam. Dan pada akhirnya memang terbukti seperenam, sama dengan sebuah kejadian dibagi enam muka dadu juga akan sama dengan enam. Ibu Neneng dosen Metode Statistika-ku, menyebutnya sebagai fenomena Hukum Bilangan Besar.

 

Kehidupan pun demikian, paling tidak itu yang ada di pikiranku. Kita menjalani kehidupan nyata begitu penuh dengan proses penangambilan sample. Sampel atas sikap asli seorang teman kuliah, karakter kebaikan seorang tetangga, atau perilaku kinerja seorang anggota tim di kantor. Semua kita baca dari fenomena alami yang ditunjukkannya. Fenomena kehidupan yang selalu hadir dalam kehidupan sehari-hari dan sebenarnya sangat menarik untuk dipelajari.

 

Hampir sebulan terakhir ini kumencoba untuk meningkatkan kualitas introspeksi diri, termasuk penghayatan atas apa yang terjadi di sekeliling saya. Awalnya sebagai kompensasi kepenatan pikiran dalam menyesaian tugas tesis, akhirnya seakan menjadi sebuah candu yang melenakan. Keluar apartment pagi hari sekali sebelum ada sinar merah matahari pagi, berlomba dengan orang lain yang akan pergi bekerja, serta duduk santai di Restoran India Sri Paandi. Hanya untuk menikmati dua roti tosai dan segelas teh manis hangat. Sambil mengamati fenomena kehidupan manusia tentunya.

 

Dari beberapa hari perenungan, kumulai bisa membaca sebuah pola kehidupan. Lewat perjumpaan dengan seorang wanita muda India yang selalu membawa lima tas ketika pergi dan pulang bekerja. Ketika menatap asyiknya keakraban tiga remaja sekolah menengah yang berbangsa India, Melayu dan Cina bercengkarama di acara sarapan pagi mereka. Atau pun kesabaran sepasang Cina tua yang melayani seorang anaknya yang tuna grahita. Kalau hanya sekali kutemui, mungkin tidak akan menjadi sumber ketertarikanku. Namun semua ini menjadi sering menampakkan fenomenanya di depan mataku.

 

Kumerenung. Inikah makna dalam dari apa yang kupelajari berbelas tahun lalu? Aku sangat yakin kalau jawabannya adalah iya. Aku cenderung menemui fenomena yang sama dalam kehidupan yang kujalani. Aku lebih mampu membaca sikap, perilaku, dan kebiasaan teman dalam pertemenan yang lebih lama. Persis dengan apa yang dikenalkan oleh bu Neneng guru Matode Statistika-ku sebagai Hukum Bilangan Besar itu.

 

Aku ternyata sangat bodoh! Merenung sebuah makna sederhana seperti itupun harus menghabiskan waktu berbelas tahun. Dan message seorang adik di inbox Friendster pagi ini pun seakan menyindir habisku. Aku telah kehilangan banyak waktu!

….

iya pa…saya juga sering merasa kehilangan waktu.waktu itu terus berlari meninggalkan saya..sampai saya sering tidak sadar apa yang saya lihat dan saya dengar ketika berlari mengejarnya.22 tahun seharusnya sudah bisa berbuat yang bermanfaat bagi umat, tapi nyatanya hanya baru mampu bergerak dalam angan.tapi semoga Allah segera menggerakkan seluruh tubuh ini untuk berbuat yang semakin baik dalam hari-hari.

terima kasih ya…pa atas persahabatan yang bapak berikan..senang sekali punya sahabat yang sudah bapak-bapak…hehehehe^.^

 

 

Kuala Lumpur, 02 Mei 2008

Dibawah cucuran sinar matahari pagi

Leave a Reply