[Renungan Kehidupan] Tak Sekedar Ayah-Ayat Cinta

May 31, 2008

Jari-jarinya yang lentik terus menunjuk lagu Ayat-Ayat Cinta untuk diputar lagi di iTunes laptop-ku saat itu. Padahal lagu itu sudah bersenandung lebih dari lima kali, terus berulang dan dia pun tanpa bosan terus mendengarkannya. Setiap selesai Rossa menyanyikan lagu tersebut, dia pun kembali memintaku untuk mengulang untaian iramanya dari awal. Rasa cintaku kepadanya memaksaku untuk memenuhi rasa dahaga alunan musiknya.

 

Lagu Ayat-Ayat Cinta yang dia pilih serasa menjadi wakil ungkapan yang terjadi diantara aku dengannya. Puncak air kerinduan yang meluap-luap bagai mencari jalan penyaluran setelah sekian waktu tidak tertemukan. Mencari titik temu pas kekangenan rasa seirama makna dalam lagu itu, bahkan lebih jauh dari sekedar Ayat-Ayat Cinta.

 

Dengan penuh manja dia sandarkan kepalanya di bagian depan dada kiriku. Tercium wangi alami rambut hitam indah bergelombangnya. Kulingkarkan tanganku di pinggangnya yang tidak terlalu besar dengan hangat, dia pun memandangku  dengan senyum penuh keriangan. Senyum manja yang sungguh menggemaskan.

 

Makasih, Ayah!

 

Ungkapan kata yang menyentakku. Sungguh tak menyangka kata-kata itu akan keluar dari mulutnya, mulut mungil seorang Faiz baru berumur 3,5 tahun itu. Kata-kata yang menyentuh hati perasaan dalamku. Kata-kata yang mengetuk naluri logika kebanggaanku sebagai seorang ayah. Kata-kata yang tak kusangka akan keluar untuk mengungkan rasa senang seorang Faiz yang telah dipenuhi keinginannya.

 

Kupandang anak mungil yang telah Tuhan alirkan keajaiban kehidupan di dalam dirinya setelah beberapa menit tenggelam di Februari 2006 itu. Terlihat secara fisik tubuhnya pun semakin besar. Proses alami yang akan dijalani oleh mahluk Tuhan dengan normal. Dia semakin tumbuh mengisi relung kebanggaan diriku untuk menjadi anak yang penuh harapan kehidupan. Sebagaimana harapan dan motivasi keajaiban kehidupannya yang tidak mampu dibandingkan dengan untaian berjuta-juta kata.

 

Dari sisi emosi pun aku sungguh mengaguminya. Perubahan yang sangat nyata sungguh terasa. Dalam batasan dunianya, Faiz sekarang sudah lebih mampu mengontrol diri dan perilakunya. Hari kemarin, aku tersenyum puas melihat dia begitu konsekwensi atas kata-katanya. Di sebuah steak house di jalan Setiabudi, dia menepati janjinya mengembalikan botol fruit tea setelah hanya benar-benar mencicipi tegukannya seperti yang dimintanya. Padahal biasanya, perlu usaha keras untuk memaksa dia untuk konsekwen dengan kata-katanya.

 

Faiz yang sebelumnya selalu harus selalu duduk di kursi depan, saat ini sudah mulai dapat menerima keadaan untuk harus duduk di kursi belakang. Kalau dulu cukup kebingungan membujuknya supaya mendukung kemudahanku untuk mengatur tempat duduk jika banyak orang yang akan ikut ke dalam mobil kecilku, sekarang dia dapat diminta dengan mudah untu pindah dengan sendirinya. Faiz yang sudah mampu mengatur rasa dan keinginannya, termasuk memesan kaiatsu sushi di hoka-hoka bento, salah satu restoran kesenangannya.

 

Aku memang sengaja duduk di kursi belakang waktu itu. Hanya untuk sekedar bercengkrama dengan Faiz juga kakaknya, Farih sepanjang perjalanan dari Rajapolah ke Limbangan serta sambil beristirahat. Walaupun mungkin sedikit bernuansi egois karena meminta Bunda mereka untuk menyetir dan duduk sendiri di depan. Aku suami kurang ajar? Mudah-mudahan saja bukan, karena aku ingin sekedar merasakan kebersamaan dengan anak-anakku yang masih kutinggal jauh di Bandung.

 

Bunda mereka selalu bersama Farih dan Faiz. Banyak hal yang dilalui bersama dan diamati olehnya, walaupun agak sedikit menunjukkan keegoisanku tidak mampu membantu perjuangan Bunda merawatnya sehari-hari. Perjuangan seorang bunda yang begitu berat namun selalu berujung dengan kebahagiaan dan kebanggaan. Kebahagiaan yang lebih dari sekedar sebuah Ayat-Ayat Cinta. Bagai obrolan dengan Bunda mereka di YM kemarin:

 

”… hari ini nda terharu”

“ knp?”

“ tiba2 pulang sekolah faiz bilang:  faiz lagi sedih bunda”.

“knp faiz sedih?”

“dia bilang: tadi faiz nangis disekolah, rebutan jungkitan ma ica  kecil..”

”terus?”

”hebat aj, dia bisa mengungkapkan emosinya dan nda dipercaya untuk dengerin.”

 

Bunda Faiz memang benar kalau Faiz itu hebat!

 

Anak sekecil itu sudah mampu menungkapkan rasa emosinya. Faiz mempunyai keinginan untuk bercerita tentang apa yang dia rasakan. Padahal bagiku di usia seperti dia, itu merupakan hal yang tidak pernah dilakukan. Sekarang Faiz sudah mampu melakukannya. Sudah mampu mengurai rasa dan emosi dia di rangkulan kasih sayang Bundanya. Dan, dia pun sudah mampu memilih kepada siapa cerita rasanya dia percayakan. 

 

 

Perpustakaan IPS-UM

28 Mei 2008


[Renungan Kehidupan] Imam Mudaku Sakit

May 31, 2008

”Tungguinnn!”

 

Tanganku yang mulai terangkat untuk memulai menjalankan tugas mengimami shalat subuh mendadak berhenti oleh teriakan suara Farih. Kutoleh Bunda Farih yang telah selesai qomat sebelumnya pun sudah siap akan memulai prosesi ibadah di awal pagi itu, sebagaimana Anin, nenek Farih, yang sudah dalam keadaan yang sama. Semua sudah siap dalam posisi berjamaah di ruang tengah di depan pintu kamar dimana Farih tidur.

 

”Iyaaaa … ditungguin. Cepat bangun!”

 

Jawaban Bunda Farih dengan cepatnya. Sangat sigap, begitu naluri seorang ibu kepada anak kesayangannya. Menunjukkan adanya jalinan ikatan kasih yang begitu mendalam dalam satu kebiasaan bersama yang sering dilakukan. Kebiasaan terbaru Farih dan Bunda yang selalu mengejar hikmah shalat berjamaah subuh di mesjid komplek. Mesjid dimana rajutan kasih awal rumah tanggal Bunda Farih denganku dimulai ketika kulafalkan ijab qobul pernikahan dengan almarhum kakeknya. Dan, sekarang Bunda Farih semakin bersemangat untuk semakin memperindah rajutan kasih yang sudah semakin lebar dengan Farih salah satu di dalamnya.

 

Bunda sering bercerita kalau Farih-lah yang rajin menemaninya menembus halangan dinginnya udara dan tabir sejuknya embun menuju mesjid setiap pagi. Farih yang kadang terbangun lebih dulu dan mengingatkan Bunda-nya kalau waktu subuh akan segera datang. Di mata Bunda-nya, Farih tumbuh menjadi bagai api semangat yang terus mengelorakan langkah sebuah do’a kehidupan.

 

”Bentar … Kaka wudlu dulu”

 

Dia memang suka menyebut namanya Kakak. Sesuai dengan nama panggilan yang kita berikan kepadanya sebagai anak tertua yang terlahir di tengah-tengak aku dengan bundanya. Nama yang sebenarnya sedikit membingungkan ketika semua anggota keluarga kecilku tinggal di Kuala Lumpur karena di Malaysia Kakak adalah panggilan untuk anak perempuan. Tapi kegamangan itu pun bukanlah penghalangan keberlanjutan panggilan kasih sayang ke Farih.

 

Farih adalah anak terbesarku yang semakin besar dan semakin membanggakanku. Di kepulanganku kali ini, ada perkembangan yang cukup mengagumkan. Dia sudah hafal bacaan shalat. Dia yang pinter, aku yang merasa bangga. Begitu bangga mendengarkan bacaannya walaupun masih bacaannya yang keras tanpa membedakan mana yang harus dipelankan dan mana yang harus dikeraskan. Bagimanapun, Farih memang semakin membanggakanku.

 

Kebanggaanku itu harus bertempur dengan dogmaku. Ada efek kebanggaan yang harus kuhadapi dengan sangat hati-hati ketika sekarang Farih ingin selalu menjadi Iman shalat diantara keluarga kecilku. Dan, resiko penolakan atas kemauannya pun tidak tanggung-tanggung, tidak mau shalat! Aku tolak, anakku menjadi anrkis menjadi anak anti shalat. Aku turuti, aku berhadapan dengan aturan pasti dan gunjingan sosial. Dan hal itu sudah terbukti kemarin di mesjid kaket buyutnya di Limbangan, ketika kutempatkan sejadah dia sejengkal di depanku dan bundanya, semua orang yang shalat berjamaah memandang dengan berbagai tatapan. Ada yang menatap kagum melihat anak kecil yang semangat shalat, ada yang menatap khawatir karena kumembiarkan dia berlaku melanggar sebuah aturan.

 

Aku memberinya kesempatan bukan untuk mengajari Farih melanggar aturan. Hanya belajar dari pola perkembangan dia yang selalu mencapai titik pengertian diri di masa Farih sudah memahaminya dan Farih akan sadar dengan sendirinya. Melawan hawa keinginannya saat ini, dalam pikiranku, berarti membunuh hasrat keinginan dia untuk maju dan menunjukkan eksistensi dirinya.

 

Dan pagi ini pun saya sudah membayangkan dia akan meminta kembali dirinya dijadikan imam dalam shalat subuh di pagi ini. Aku pun telah siap dengan strategi untuk meletakkan sajadahnya sejengkal lebih didepanku.

 

Suara Farih turun dari tempat tidur terdengar cukup jelas di keheningan pagi itu. Beberapa saat kemudian pun terdengar kucuran air bergemericik di kamar mandi dan dalam perkiraanku Farih sudah selesai mengambil air wudlu-nya. Namun setelah ditunggu beberapa saat, tetap saja dia tidak muncul.

 

“Kaka sudah belum? Ditinggalin nih …” Aku memastikan akan Farih segera keluar dari kamar mandi namun dengan cara yang agak berbau penekanan dan ancaman. Gaya imperialis kuno yang digunakan karena desakan waktu, takut waktu shalat semakin habis. Padahal sungguh masih cukup waktu dan aku sebenarnya tidak perlu menodai semangat bangu pagi dia untuk menunaikan kewajiban itu.

Akhirnya Farih muncul dengan lunglai dan langkahnya agak diseret.

 

”Bunda … Farih jatuh dan sekarang gak bisa berdiri”

”Kenapa?”

”Gak tau … tadi di kamar mandi Kaka tiba-tiba jatuh, gak kuat bendirrriiii …uhh … huu … huu ”

 

Farih mulai bicara bercampur menangis. Bundanya mulai mengeluarkan pertanyaan dengan naluri dokternya.

 

“Apa yang Kakak rasakan sakit?”

“Ga tau, bunda!”

”Waktu mau tidur Kakak sudah merasa sakit?”

”Belum … terasa pas bangun tadi aja …”

”Kakak pusing?”

”Iya … dikit …”

“Ya … udah. Kaka shalatnya sambil duduk aja, ya! Kakak kecapaian abis pergi ke Garut, Tasik ama Limbangan aja”                                                                       

 

Akhirnya Farih hanya mampu shalat subuh duduk terisak.. Tanpa mampu berdiri dengan gagahnya apalagi meminta dirinya dijadikan imam. Sangat jauh dari bayanganku semula, jagoanku hanya duduk dengan kaki terjulur ke depan. Aku hanya berfikir Farih kecapaian setelah perjalanan jauh ke rumah neneknya di Tasikmalaya. Aku memang yang salah, memaksakan Farih mengikuti rencana perjalananku tanpa memikirkan akibat seperti yang sekarang diderita Farih.

 

Farih ternyata memang benar-benar sakit, dia kelihatan kesakitan kalau berjalan. Aku sedih dan kesedihanku bertambah karena hari ini adalah hari kepulanganku ke Kuala Lumpur. Di Husen Sastranegara pun hanya tawa ceria Faiz yang hadir, Farih hanya duduk termenung di mobil. Dia menangis merasakan kesakitannya, hatiku menangis merasakan penderitaannya. Dan hatiku semakin menangis ketika membaca sms yang dikirim Bundanya ketika sampai di Kuala Lumpur …

 

”Yah! Ternyata Farih terkena gejala Chikungunya …”

 

Oh … My God! Selamatkan Imam baru dan salah satu harapan hidupku … Aku pun sangat percaya Bundanya yang dokter akan mampu mengurusnya …

 

 

Kuala Lumpur,

27 Mei 2008


[Renungan Kehidupan] Ma’afkanku, Adik!

May 8, 2008

Aku terbiasa hidup di lingkungan yang sangat heterogen, baik dari sisi suku, rasa ataupun agama. Dari sikap dan gaya hidup pun demikian. Di Bandung sewaktu kuliah, di Jakarta sewaktu bekerja, ataupun sekarang di KL yang lebih-lebih sangat heterogen. Di Kuala Lumpur malah kubertemu dengan orang dari ras yang sangat bervariasi. Dari sisi agama pun demikian, di KL inilah aku bertemu dengan sahabat yang jelas mengaku tidak memeluk agama apapun. Hanya bermodal berlaku baik. Itu Cukup.

 

Heterogenitas inilah yang juga sangat berpengaruh kepada sikapku. Sikap yang harus terus diperlihatkan bahwa aku benar-benar harus memperlakukan semua sahabatku dengan penuh segala rasa hormat dan pernghargaan yang sebenarnya. Cara universal yang biasa kulakukan selama ini adalah dengan cara bercanda atau bertukar cerita hal-hal pribadi. Sering dari candaan atau cerita itu muncul sebuah keakraban. Keakraban lebih dengan sahabat yang selama ini sudah sering berkomunikasi ataupun keakraban dengan sahabat yang baru dijumpai. Cara yang selama ini memang kulakukan, dan pagi ini juga. Mengharap sebuah keakraban di pagi hari yang begitu cerah.

 

Namun rasanya langit menjadi gelap ketika kecerobohan pertanyaan bernuansa sara kuungkapkan. Aku memang tidak pantas menanyakan sesuatu yang sangat sensitif bagi seseorang, sahabat dekat sekalipun. Seharusnya aku berpikir lebih jauh dan tidak lantas bersikap sama seperti aku ditanya hal sama oleh sahabat-sahabatku yang lain. Memang, aku tidak pernah marah atau reaktif ketika sahabat yang menanyakan hal pribadi dan sara-ku. Tetapi bukan sebuah jaminan pasti untukku dapat menganggap atau memperlakukan hal yang sama kepada yang lain. Apalagi berhubungan dengan kepercayaan dalam sebuah kehidupan, meskipun kepada seseorang yang sudah dianggap deket atau adik sekalipun! Itu suatu kesalahan.

 

Yang jelas mengotori sinar pagi seseorang yang sedang mulai menjalani hari dengan penuh keceriaan adalah juga suatu kesalahan. Dan Kesalahan itu telah kuperbuat. Telah kulakukan dengan sangat ceroboh pagi ini. Sebuah kesalahan yang sebenarnya tidak perlu! Kesalahan yang hanya berdasarkan keyakinan adanya sebuah keakraban yang mungkin sebenarnya terlalu percaya diri kumerasakannya.

 

Ma’afkanku, Adik! Aku memang harus banyak belajar hidup dari kedewasaanmu. Dan mungkin aku sudah tidak pantas lagi menjadi kakakmu.

 

 

Kuala Lumpur, 08 Maret 2008

Note:

Permohonan ma’af yang seikhlasnya dari yang sudah kubuat tersinggung pagi ini.


[Renungan Kehidupan] Sebuah Makna

May 2, 2008

Hampir delapan belas tahun yang lalu saya didoktrin dengan konsep Hukum Bilangan Besar atau Konsep Sebuah Konsistensi dalam proses penarikan sampel. Sebagai mahasiswa baru yang kadang masih shock dengan dunia belajar mahasiswa, jangan untuk berfikir makna kandungan dalam ala filsuf masyhur, hanya untuk sekedar mencoba menghapal konsepnya pun terkadang sangat sulit. Sampai di tingkat akhir pun hanya mentok dihapalan bahwa kalau jumlah sample menuju tak terhingga maka taksiran parameternya bla … bla … bla …

 

Statistika sangat kental dengan proses penarikan sample. Sebuah individu atau fenomena yang akan diobservasi terus perilakunya. Data hasil obeservasi dalam jumlah individu terbatas serta waktu tertentu itulah yang diharapkan secara representatif akan dapat menunjukkan gambaran kondisi parameter sebenarnya. Terbukti ketika aku harus berulang-ulang ratusan kali mengundi sejumlah dadu hanya sekedar membuktikan bahwa peluang munculnya sebuah mata dadu adalah seperenam. Dan pada akhirnya memang terbukti seperenam, sama dengan sebuah kejadian dibagi enam muka dadu juga akan sama dengan enam. Ibu Neneng dosen Metode Statistika-ku, menyebutnya sebagai fenomena Hukum Bilangan Besar.

 

Kehidupan pun demikian, paling tidak itu yang ada di pikiranku. Kita menjalani kehidupan nyata begitu penuh dengan proses penangambilan sample. Sampel atas sikap asli seorang teman kuliah, karakter kebaikan seorang tetangga, atau perilaku kinerja seorang anggota tim di kantor. Semua kita baca dari fenomena alami yang ditunjukkannya. Fenomena kehidupan yang selalu hadir dalam kehidupan sehari-hari dan sebenarnya sangat menarik untuk dipelajari.

 

Hampir sebulan terakhir ini kumencoba untuk meningkatkan kualitas introspeksi diri, termasuk penghayatan atas apa yang terjadi di sekeliling saya. Awalnya sebagai kompensasi kepenatan pikiran dalam menyesaian tugas tesis, akhirnya seakan menjadi sebuah candu yang melenakan. Keluar apartment pagi hari sekali sebelum ada sinar merah matahari pagi, berlomba dengan orang lain yang akan pergi bekerja, serta duduk santai di Restoran India Sri Paandi. Hanya untuk menikmati dua roti tosai dan segelas teh manis hangat. Sambil mengamati fenomena kehidupan manusia tentunya.

 

Dari beberapa hari perenungan, kumulai bisa membaca sebuah pola kehidupan. Lewat perjumpaan dengan seorang wanita muda India yang selalu membawa lima tas ketika pergi dan pulang bekerja. Ketika menatap asyiknya keakraban tiga remaja sekolah menengah yang berbangsa India, Melayu dan Cina bercengkarama di acara sarapan pagi mereka. Atau pun kesabaran sepasang Cina tua yang melayani seorang anaknya yang tuna grahita. Kalau hanya sekali kutemui, mungkin tidak akan menjadi sumber ketertarikanku. Namun semua ini menjadi sering menampakkan fenomenanya di depan mataku.

 

Kumerenung. Inikah makna dalam dari apa yang kupelajari berbelas tahun lalu? Aku sangat yakin kalau jawabannya adalah iya. Aku cenderung menemui fenomena yang sama dalam kehidupan yang kujalani. Aku lebih mampu membaca sikap, perilaku, dan kebiasaan teman dalam pertemenan yang lebih lama. Persis dengan apa yang dikenalkan oleh bu Neneng guru Matode Statistika-ku sebagai Hukum Bilangan Besar itu.

 

Aku ternyata sangat bodoh! Merenung sebuah makna sederhana seperti itupun harus menghabiskan waktu berbelas tahun. Dan message seorang adik di inbox Friendster pagi ini pun seakan menyindir habisku. Aku telah kehilangan banyak waktu!

….

iya pa…saya juga sering merasa kehilangan waktu.waktu itu terus berlari meninggalkan saya..sampai saya sering tidak sadar apa yang saya lihat dan saya dengar ketika berlari mengejarnya.22 tahun seharusnya sudah bisa berbuat yang bermanfaat bagi umat, tapi nyatanya hanya baru mampu bergerak dalam angan.tapi semoga Allah segera menggerakkan seluruh tubuh ini untuk berbuat yang semakin baik dalam hari-hari.

terima kasih ya…pa atas persahabatan yang bapak berikan..senang sekali punya sahabat yang sudah bapak-bapak…hehehehe^.^

 

 

Kuala Lumpur, 02 Mei 2008

Dibawah cucuran sinar matahari pagi