[Kado Ultah Istri Tercinta] Selalu Yang Terbaik

[Untuk pertama kalinya setelah menikah, Ayh tidak berada disampingkan pada Ultah Bunda di 21 Maret 2008. Ayh mencoba untuk merasakan beratnya perjalanan Bunda membimbing anak-anak kita. Selamat Ulang Tahun, Bunda! I love you so much!]

  

Rolex yang melingkar di tanganku hampir merangkai waktu pukul 10 malam ketika tiba di rumah malam itu. Waktu yang hampir selalu sama ditunjukkan oleh jam tangan indah hadiah ulang tahun dari ayahnya Farih tiga tahun lalu dan selalu melingkar kemana pun kupergi. Sebuah hadiah ulang tahun yang sekaligus juga hadiah atas promosiku ke posisi tertinggi di sebuah rumah sakit terbesar di daerah Cibubur saat ini.

  

Bersamaan dengan mang Dirman mengunci pintu garasi, pintu masuk ke ruang tengah dapur pun dibuka oleh bi Inah. Mereka adalah sepasang suami istri yang menemaniku tinggal di rumah yang hampir seluas 500 meter persegi di sebuah perumahaan di daerah yang tak jauh dari rumah sakit yang selama ini aku pimpin.

  

“Gimana hari ini, bi Inah?”

Sapaan yang selalu kuberikan ke bi Inah untuk mengetahui keadaan rumah setelah seharian kutinggalan. Bi Inah-lah yang mengurus semua keperluan rumah Dialah yang mengatur semua keperluan makan untuk semua yang ada di rumah. Dari mulai keluarga intiku yaitu Anin, Farih, Faiz, dan Farrah juga Sardi, Ipah serta bi Inah sendiri.

  

Seperti biasanya setiap hari aku akan memeriksa semua keadaan rumah dan semua penghuninya meski rasa letih sekali pun. Malam ini pun semangatku tetap sama, meski terdengar ada bunyi panggilan dan sms datang di HP pun semuanya kubiarkan saja karena ingin segera memulai tanggung jawabku yang satu ini.

  

“Semuanya baik, neng. Tadi pun bibi sempat nganter Anin  nyari bahan kebaya yang Neng diminta kemarin”

Anin adalah neneknya anak-anakku, yang sejak memasuki masa pensiunnya sebagai Kepala SD telah memutuskan untuk tinggal bersama dengan keriangan cucu-cucunya di Cibubur. Keputusannya yang membantu memberikan sentuhan kasih sayang seorang nenek kepada anak-anakku, juga ternyata semakin terasa keberadaannya pada akhir-akhir ini ketika aku semakin terkuras oleh kesibukan kerja.

  

Terlihat dari celah pintu kamarnya, Anin masih sedang khusyu berdo’a di atas sejadah sembahyangnya. Di rumahku ini, untuk kemudahan dan karena dia tidak terlalu senang naik turun tangga, Anin memilih kamar tidur yang ada di sebelah ruang utama di lantai bawah. Bagiku selama beliau senang, aku menyerahkan kamar mana yang akan dipilih. Dan beliau pilih kamar utama yang sebelumnya kosong, di sebelah kamar tamu yang juga selalu kosong.

  

Aku tak mau mengganggu dulu kekhusyuan Anin dan terus berjalan ke arah tangga menuju lantai dua dimana tiga kamar tidur anak-anakku berada. Sebelum naik kuraih majalah wanita terbaru yang terletak di atas meja ujung tangga. Sedangkan Koran Republika dan Kompas yag tergeletak di sampingnya kubiarkan saja karena keduanya sudah kubaca tadi pagi sebelum berangkat kerja.

  “Jangan lupa besok bayar tagihan koran dan majalah ya, bi!”“Oh … sudah neng! Tadi siang sudah bibi bayar semua. Uangnya bibi pakai dulu uang belanja besok hari.”“Makasih, bi! Sudah dikasih tau juga bulan depan tambah majalah Science-nya Faiz?”“Sudah neng! Tadi hampir aja lupa, abis bibi juga susah mengeja judulnya. Untung aja Anin ngasih tau.”  

Di tengah tangga, kuhentikan langkah sebentar melihat keanehan di sudut tanah belakang di samping kolam renang. Cukup jelas karena tepat di bawah sorotan lampu halogen.

  “Apa itu kotak-kotak putih, bi?”“Itu neng … kotaknya cep Faiz. Dan sudah minta jangan diganggu. Katanya sedang apa ya? Melakukan … ehm … reset apa?“Riset, bi!”“Oh … iya riset!. Tadi sore bersama-sama temen-temennya mengerjakannya sebelum mereka berenang.   

Faiz anak keduaku memang senang melakukan aktivitas seperti itu. Sering kali halaman belakang rumah acak-acakan atau kolam renang menjadi kotor karena hasrat keingintahuannya. Dia sekarang sudah hampir 15 tahun dan sudah duduk di kelas 3 SMP. Dari sisi keinginan, Faiz dengan terus terang akan mengutarakannya kepadaku atau ayahnya. Tahun depan, Faiz pun sudah berkeinginan untuk belajar di SMA 3 Bandung. Salah satu SMA favorit dimana 20 tahunan ke belakang aku juga belajar di sana.

  

Kulanjutkan langkah menaiki setengah tangga berikutnya setelah tidak melihat lagi hal yang memunculkan kepenasaranku. Di ujung tangga masih terlihat terangnya kamar Faiz. Dan melalui celah pintu yang terbuka, terlihat Faiz sudah terbaring dengan nyenyaknya, mungkin karena kecapaian setelah bermain-main dengan temannya tadi. Aku pun tak berani lagi masuk untuk mebelainya. Dan kututup rapat pintunya.

  

Kubalikan badan membelakangi pintu yang telah kututup. Bi Inah masih setia di sebelah kananku. Berikutnya kamar di sebelah kiriku. Lampunya masih menyala terang kelihatannya si penghuninya masih belum tidur. Pintunya pun masih belum tertutup rapat. Ada kebiasaan yang membuatku bangga di rumah ini. Kalau tidak dalam keadaan berbeda, pintu kamar selalu tidak ditutup rapat. Menadakan selalu terbuka dan meminimalkan ketertutupan sikap anak-anakku. Dan aku pun sudah tahu, kalau pintu benar-benar tertutup, menandakan kalau mereka sedang ada dalam hal benar-benar pribadi dan tidak mau diganggu.

  “Hai … my little angle!”  

Kalimat lanjut yang kuucapkan ketika menolehkan kepala ke dalam kamar dan salamku dijawab oleh Farrah.

  “What are you doing actually?”“Just browsing the internet, Bunda! Cari bahan-bahan tentang persahabatan”“Do you really need it? Untuk apa …?”“Bukan untuk Farrah, Bunda! Tapi untuk Rizal. Dia dapet tugas dari gurunya … He … he … he …”  

Rizal! Ya … nama seorang anak yang berperangai baik anak seorang pegawai PT Jasa Magra. Dia dan Farrah tidak satu sekolah. Awal pertemanan mereka adalah di Taman Pendidikan Agama salah satu mesjid di pinggir perumahan. Walau keluarga sangat sederhana dan banyak keterbatasan, dia sangat rajin dan menjadi juara umum di sekolahnya. Dia pun sering datang bermain ke rumah.

 “Farrah! Dengar ya … ““Ya … Bunda!”“ Jangan berfikir Bunda melarang kamu menolong orang lain. Yang lebih penting lagi kita jangan membuat seseorang tergantung kepada siapapun!”“I’m really sorry! Farrah gak niat seperti itu, Bunda!”“Bagusnya, kalo memang dia gak bisa akses internet. You can offer him using downstairs computer. Kan sudah lama ga ada yang pake.”  

Farrah memang karakternya sepertiku sewaktu kecil. Terlalu baik kalau mau menolong orang sehingga suka merepotkan dirinya sendiri. Sesuatu yang sangat tidak disenangi oleh ayahnya yang selalu menyuruh orang untuk berusaha sendiri apalagi yang berhubungan dengan tugas dan tanggung jawab. Dan sekarang, aku harus mencoba untuk mengajarkannya lagi sebagimana ayahnya akan ajarkan.

  “Ok … Selesaikan terus cepat tidur! ” 

Dan kupeluk anak perempuanku satu-satunya itu. Kukecup kedua pipnya dan keningnya. Kupandang dia lekat-lekat. Dia ternyata semakin dewasa. Tingginya pun sudah akan melampaui bahuku. Farrah yang kulahirkan 11 tahun yang lalu sekarang sudah kelas 1 SMP. Ada rasa yang membeda memperhatikan anak gadisku dibandingkan dengan kepada kedua kakaknya. Menghadapi anak perempuan begitu banyak resikonya. Telah banyak cerita positif dan banyak pula cerita negatif yang  yang didapat. Tapi aku harus mampu bijaksana dan berusaha sebaik-baiknya mendewasakan Farrah.

  

Satu lagi buah hatiku yang belum kutengok., si sulung Farih. Meski rasa capek mulai hinggap namun aku harus tetap menjalani tugasku sebagai sorang ibu untuk selalu memberikan sentuhan kasih sayangku. Meskipun tak begitu lama namun mampu berkesan di hari mereka.

  

Dengan sisa-sisa tenaga kulangkahkan kaki ke kamar anakku yg sulung, Farih. Dia yang rasanya baru kemarin belajar berjalan, sekarang sudah kelas 3 SMA. Umurnya pun sudah 18 tahun. Rasanya baru kemarin dia dipangku dan digendong ayahnya kalau jalan-jalan ke Cibubur Junction. Sekarang sudah tumbuh besar, jauh lebih tinggi dari tinggi bandanku.

  

Pintu kamarnya juga terbuka. Terlihat begitu seriusnya dia menulis di meja tulisnya dengan earphone terpasang di telinganya. Sementara di sebelahnya laptop yang baru diberikan sebagai hadiah ulang tahunnya kemarin tetap menyala dan terlihat ada beberapa window chatting. Awalnya ragu untuk mengganggunya, namun naluri ibu menggiringku memasuki kamarnya. Kupegang pundaknya. Dia pun menolah dan tersenyum.

  “Bunda dah pulang? Kok gak kedengaran ..”  

Pertanyaannya tak kuhiraukan dan kucium kedua pipi serta keningnya. Aku tahu sekali sifat anakku yang sulung ini. Kalau sedang serius pasti tidak mau diganggu sampai dia menyelesaikan pekerjannya atau dia sendiri yang mendatangi kita. Persis dengan kebiasaan ayahnya.

 “Ok … my nice son. Have a good work. I will take a rest for a while”“Thanks … Bunda! I will finish it first and then we get a chat.”  

Kutinggalkan Farih yang kembali tenggelam dalam keasyikan belajarnya. Dia sekarang begitu mandiri, segala sesuatu dia lakukan dan selesaikan sendiri. Jauh sekali dari kekhawatiranku sebagai seorang Ibu di awal-awal dia masuk SD. Dulu dia susah diatur dan sangat malas untuk membuka buka. Segala sesuatu harus diingatkan lebih dari tiga kali. Namun sekarang dia tumbuh menjadi anak tampan yang sangat bertanggung jawab. Di sekolahnya pun, sebuah sekolah internasional di daerah Cibubur, dia menjadi pemimpin bagi teman-temannya.

Di ruang keluarga lantai dua di tengah-tengah kamar anak-anak kupandang sekeliling. Ternyata bi Inah pun masih setia berdiri di samping agak belakangku. Seperti biasa selalu menyertaiku sampai kuperbolehkan untuk pergi. Kupandan dia sambil tersenyum. Sebelum kubicara sesuatu, dia pamit duluan.

  “Neng … pamit dulu! Mau menyambut sangkeu. He … he … he …” 

Begitu dia mengistilahkan mang Dirman, suaminya, yang telah seharian dari pagi setia pula menemani dan menyertaiku. Mang Dirman yang selalu mengemudikan Mercy merah seri terbaruku. Pasangan yang sangat rukun dan mau selalu membantuku.

  “Ini air the manisnya sudah bibi buatkan. Masih hangat kok neng.”  

Dia letakan gelas air minumku di atas meja yang terletak di tengah-tengah ruang keluarga itu.

  “Bibi ke bawah dulu, neng.”“Bentar bi! … Ipah gimana sudah sempat di cek kehamilannya ke rumah sakit?”  

Ipah adalah adiknya bi Inah yang juga aku minta tinggal di rumahku untuk bantu-bantu bi Inah. Sejak tiga bulan yang lalu, setelah pernikahannya dengan Ipah, Sardi pun ikut tinggal bersamaku. Beruntung sekali aku, karena Sardi adalah pemuda yang serba bisa. Dari mulai mengurus kebun sampai mengemudi mobil. Jadi mang Dirman pun tidak perlu pontang-panting lagi.

  “Tadi sudah pergi kok, neng! Tapi gak ketemu neng katanya. Hanya ngasihkan surat ke petugas di depan aja”“Ya syukur atuh ….gimana hasilnya”“Positif dan kondisinya bagus katanya”“Alhamdulillah …Ya dah, bi Inah turun aja. Eh, bentar bi! Dari pagi tadi sampe sekarang perasaan ada yang mengganjal di otak ini tapi belum ketahuan. Apa ya bi?”“Aduh … apa atuh, neng? Apalagi bibi gak tau ..”“Ya … sudah aja biar nnati saya ingat-ingat lagi. Jangan lupa aja keperluan sekolah anak-anak besok …”“He … he … he … semua beres, neng! Lagian besok kan libur …”“Oh … iya! Lua saya bi. Bibi turun aja!”“Makasih neng ….”  

Seturunnya bi Inah, kurebahkan badanku di atas sofa di depan meja ruang keluarga. Kutarik nafas dalam-dalam untuk mengurangi kecapaian yang ada. Benar-benar letih sampai kulupa besok hari lubur. Majalah yang sejak tadi kupegang diletakan di atas meja. Kuraih gelas teh manis yang dibuatkan bi Inah. Kuminum sambil memandang ke depan. Sementara sesuatu yang mengganjal pikiran pun belum juga terpecahkan.

  

Tampak TV flat screen 29 inchi pun seakan hanya pajangan. Tak sering anak-anakku menyalakannya karena mereka tidak terlalu suka menonton acara-acara TV. Sejak mereka kecil kutidak membiasakan mereka nonton TV selain hari Sabtu atau Minggu. Itu pun kalau tidak diajak jalan-jalan bersama ayahnya ke luar rumah.

  

Rasa ngantuk mulai menyerang namun aku masih mau menikmati ruang tengah keluargaku ini. Melepas pandangan ke seluruh ruangan yang akhirnya terhenti pada foto keluarga yang dibingkai ukiran 2 kali 1 meter. Foto keluarga di Hari Idul Fitri tahun lalu beberapa hari sebelum ayahnya anak-anak pergi ke Belanda untuk meneruskan studi S3-nya. Kembali dia tinggalkan posisi bagusnya untuk mengejar bangku kuliah, seperti dahulu ketika mendapat kesempatan untuk sekolah S2-nya di Singapura.

  “Ayah! Bunda hari ini cape sekali … Tapi ketika melihat anak-anak kita sudah pada besar sekolah kecapaian itu hilang. Do’akan Bunda terus mampu membesarkan mereka.”  

Senyuman suamiku di foto keluarga itu tersirat sebagai jawaban atas permintaanku. Seorang lelaki, yang terkadang aku kerepotan menghadapi kekerasan keinginnya, yang aku selalu coba untuk setia dan mengabdi kepadanya. Ya … karena dia adalah suamiku. Dia yang memberikan kesempatan kepadaku untuk mengambil program spesialis di bidang dokter anak. Dan terakhir mendukungku penuh untuk mengambil master di bidang Manajemen Rumah Sakit. Semuanya membawa ke posisiku saat ini. Posisi yang banyak menyita habis waktu kehidupanku

  

Tadi pagi saja, aku sudah harus pergi meninggalkan rumah sebelum pukul 4 pagi karena ada panggilan mendadak untuk tindakan operasi di RSCM. Jam 9 pagi sudah harus ada di RS yg kupimpin karena harus menerima Tim Inspeksi dari Departemen Kesehatan dan Departemen Lingkungan Hidup untuk menyelesaikan masalah protes dari sebagian warga sekitar mengenai kebocoran limbah yang terjadi. Dari jam 2 sampai jam 6 sore tadi harus langsung memimpin rapat evaluasi implementasi sistem teknologi informasi. Beruntung tengah hari sempat instirahat sekitar 1,5 jam, kalau tidak mungkin aku sudah pinsan.

  

Tiba-tiba ada sebuah tangan yang memijit-mijit tanganku. Kutoleh ke sebalah kanan, ternyata tanpa kusadari Farih sudah duduk disebelah kananku. Aku pun sudah tahu kalu dengan cara begini, Farih biasanya mempunyai sesuatu yang ingin dia lakukan namun perlu mendapat ijinku. Sudah begitu hapal aku dengan gaya anak sulungku yang satu ini.

  “Ada apa lagi, nak?”“Ehm …. Farih ingin extend memory laptop, Bunda! Sekarang ternyata sudah terlalu penuh. Ya sekitar … 2 gigabyte lagi deh …”“Memang perlu sekarang?”“Iya … Farih harus segera install program baru yang akan dipakai untuk mengerjakan tugas sekolah”“Oke … kalo gitu belilah sendiri. Uangnya pake dulu dari tabungan, kalau kurang … besok siang Bunda transfer”“Siippppp … ok, Boss!”  

Dalam waktu bersamaan terlihat Farrah, Anin serta Faiz yang tiba-tiba terbangun bergabung di ruang tengah keluarga dimana kududuk.

  “Bunda besok ke Puncak-nya, Farih mau ajak Sarah, ya?”  

Permintaan Farih berikutnya mengingatkanku acara jalan-jalan ke Puncak besok yang kebetulan hari Sabtu.

  “Aduh ini anak Bunda. Boleh aja … kalau mobilnya cukup. Farrah mau ajak Rizal juga?”  

Pertanyaanku kepada dijawab dengan senyum oleh Farrah.

 “Asyiikkk … makasih Bunda”“ Nahh …. Faiz mau ajak siapa?”“Faiz sih … mau ajak Anin aja! Ha … ha … ha ….”  

Jawaban Faiz disambut tertawa oleh semua yang ada di ruang keluarga. Faiz memang anakku paling cuek dalam hal berteman dengan lawan jenisnya. Sampai saat ini pun tidak pernah dia menunjukkan teman yang paling disukai. Padahal aku sendiri sangat memberi hak kepada mereka. Daripada aku larang dan mereka malah melakukannya secara sembunyi-sembunyi.

  “Nanti dulu … siapa yang akan traktir nih?”  

Tiba-tiba kumemancing mereka. Hal yang biasa aku lakukan. Dalam acara jalan-jalan biasanya semua memberikan kontribusinya.

  “Wahhhh …. Bunda gimana sih? Kan ayah dah bilang ke Farih barusan 30 menit yang lalu pun. Meskipun tidak ada Ayah, tapi ayah meminta kita bahagia untuk mengingat Ulang Tahun Ayah ….”  

Bummmmmmm! Tubuhku serasa dibom. Kaget bercampur panik. Kutemukan jawaban sesuatu yang mengganjal pikiranku sejak tadi. Tapi bagaimana bisa lupa hari ulang tahun seseorang yang anak-anaknya sejak tadi kusapa dan kusentuh dengan penuh perasaan.

 “Ma’afkan Bunda, Ayah!” 

Dengan lunglai kuambil HP-ku dan kucoba kutelponnya. Namun sudah tidak aktif. Kulihat jam sudah pukul 10.20, dan rasanya dia sudah masuk ke Training Centre-nya KLM di Amsterdam sana. Ya … dari dua minggu sebelumnya, dia sudah cerita bercerita akan mengikuti pelatihan di kantor pusat KLM. Pelatihan gratis yang dia peroleh disela-sela kesibuk kuliah S3-nya.

  

Kulihat daftar miscalled di layar. Ada dua kali terlihat dia mencoba nelpon sampai pukul 10 tadi. Dan kubuka message yang dikirimkannya setelah itu.

  “Bunda, lima menit lagi ayah akan masuk training centre. Ma’af ayah tidak bisa telpon lagi. Semua alat komunikasi harus ditinggalkan selama 3 hari ayah pelatihan. Ma’afkan besok ayah gak bisa ikut bergembira bersama.dengan semua.. Ma’afkan juga ayah sudah lama tidak bisa ikut mengajari anak-anak kehidupan. Bunda jangan sedih dan merasa bersalah, kalaupun Bunda gak sempat ucapkan ultah ke ayah, itu semua karena kesibukan dan beban Bunda mengurus anak-anak kita. Do’akan akan ayah selama dan sukses ya! Bunda masih yang terbaik bagi Ayh. I L U so much”  

Message yang membuat aku mencucurkan air mata. Ayah yang masih tetap sama. Ya … yang selalu menyebutku terbaik untuknya. Dia selalu mengerti semua kesalahanku dan anak-anakku.

  

Kuala Lumpur, Menjelang Ultah Bunda Tercinta

20 Maret 2008

Leave a Reply